
"Tapi, untuk membuat sebuah grup teater kan, kita harus punya naskah dan sutradara!"
Ruang administrasi sore itu berubah gaduh, menandakan kehidupan normal, setelah berhari-hari sepi ditinggalkan penghuninya.
Semua orang yang terkumpul terlihat bersemangat meski mereka ragu bagaimana cara memulainya.
"Kalau soal naskah sih, tidak masalah," kata Saul. "Kita kan, bisa membentuk kelompok kecil untuk menulis ulang naskah Rafaél. Tapi sutradaranya?"
Seisi ruangan bergumam dan saling bertukar pandang satu sama lain.
"Aku mau jadi sutradaranya!" Sesha mengajukan diri. "Kalau kalian tidak keberatan, tentunya!"
Seisi ruangan menatap Sesha dengan tercengang. Sebagian bersemangat, sebagian masih tak yakin.
"Kemampuanku memang tidak sebanding dengan Rafaél," Sesha mengakui. "Tapi kalau masalah disiplin, aku cukup percaya diri. Apalagi tenagaku juga cukup kuat. Lagi pula…" Sesha menggantung kalimatnya seraya mengedar pandang, mengamati satu per satu wajah-wajah semua orang dalam ruangan. "Aku paling tua di sini!" Ia menambahkan.
"Benar juga," kata salah satu anak laki-laki. "Memang tidak ada pilihan lain kecuali Sesha."
"Aku setuju!" Seorang anak perempuan berlanting gembira.
"Bagus juga," komentar yang lainnya.
"Lalu, kita mau pentas di mana?" Cyzarine menginterupsi. "Di taman kanak-kanak? Taman ria? Atau di atap departemen store?"
Seisi ruangan sekarang terdiam. Sebagian menatap Cyzarine, sebagian lagi saling bertukar pandang.
Cyzarine mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, menyalakannya dan mengedar pandang sembari mengembuskan asap dari mulutnya. "Rafaél sudah tidak ada," katanya. "Kita juga sudah kehilangan banyak anggota penting kita. Menurut kalian, penonton macam apa nanti yang akan menonton pertunjukan MoscovArt Theatre yang seperti ini?"
Seisi ruangan kembali bertukar pandang seraya bergumam.
"Belum lagi nanti yang dipertunjukkan hanya drama yang sudah pernah dipentaskan," Cyzarine menambahkan. "Apa kita akan meneruskan MoscovArt Theatre demi target seperti itu?"
"Kau mematahkan semangatku, Cyzarine!" Ibrahim mengerang.
"Lihatlah kenyataannya!" Cyzarine menyelanya.
Seisi ruangan terdengar mengerang.
"Cyzarine…" Chéri akhirnya membuka suara. "Sekarang Rafaél memang tak ada, tapi suatu saat dia pasti kembali," katanya berusaha meyakinkan teman-temannya.
"I'm sorry!" Cyzarine mengedikkan sebelah bahunya. "Tapi aku tak yakin masalah Rafaél akan terpecahkan dalam waktu dekat. Aku bahkan tak yakin sama sekali apakah ada kemungkinan untuk dia sembuh!"
"Memangnya Rafaél sakit apa, sih?" Seseorang tiba-tiba menyela.
Lalu semua orang mulai berisik mempertanyakan hal yang sama.
Chéri dan Cyzarine bertukar pandang.
"Pokoknya aku tidak ikutan!" Cyzarine memalingkan wajahnya dan beranjak dari tempat duduk. Kemudian membereskan barang-barang pribadinya dari meja dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu buru-buru pergi.
__ADS_1
Semua orang menatapnya dengan terperangah.
Di depan pintu keluar, Cyzarine nyaris bertabrakan dengan seseorang.
Semua orang memekik terkejut.
"Valensky!" Seisi ruangan bergumam nyaris bersamaan.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" Saul menggeram bersama Daniel.
Pria itu merunduk dan tersenyum pada Cyzarine.
Cyzarine terperangah dengan mata berbinar-binar. Tampan sekali, pikirnya terpesona.
"Boleh pinjam kunci ruang latihan?" Vladimir bertanya pada gadis itu.
Cyzarine mengerjap dan spontan mengeluarkan kunci dari dalam tasnya dan memberikannya pada Vladimir.
"Cyzarine!" Chéri memekik seraya membekap mulutnya. Kenapa dia langsung memberikannya begitu saja tanpa berpikir panjang? erangnya dalam hati. "Berani-beraninya!" dengus Chéri kesal.
Vladimir mendekati Chéri, kemudian berhenti di depan gadis itu seraya bersedekap. "Setelah MoscovArt Theatre dibubarkan, kudengar ruang latihannya disewakan," katanya. "Aku datang ke sini untuk melihat-lihat. Karena anggotaku sekarang banyak sekali, ruang latihanku sudah tidak muat lagi!"
Seisi ruangan terdengar mendengus.
"Sombong sekali," gerutu beberapa orang.
Vladimir hanya angkat bahu. Kemudian memutar tubuhnya dan mendekat pada Cyzarine. "Nona, maukah kau memberiku kehormatan untuk menunjukkan tempat latihannya?" Ia bertanya seraya membungkuk dan tersenyum lebar.
Cyzarine tergagap dengan mata dan mulut membulat.
"Aku penggemarmu by the way," bisik Vladimir pada gadis itu.
Cyzarine menalan ludah dan menunjuk hidungnya sendiri dengan telunjuknya. "Aku?" Ia bertanya tak yakin.
Vladimir mengangguk dan mengedipkan sebelah matanya diam-diam.
"Ah…" Cyzarine tersenyum lebar dengan wajah berbinar-binar senang. "Baiklah!" katanya. Kemudian membimbing pria itu ke ruang latihan.
Seisi ruangan menahan napas, tapi tak satu pun dari semua orang mampu menahan Cyzarine.
Sebetulnya apa maksud Vladimir sampai dia datang ke sini? Chéri tercenung dan berpikir keras.
Dari mana dia bisa tahu anggota teater sedang dikumpulkan hari ini?
Di ruang latihan, Cyzarine menggamit lengan Vladimir setelah ia membukakan pintu, kemudian menarik pria itu ke dalam ruangan dengan raut wajah semringah. "Ini ruang latihannya," katanya sembari tersenyum.
Vladimir tersenyum tipis dan mengedar pandang. Lalu mendesah pendek dan tertunduk. "Repot juga, ya?" katanya muram.
Cyzarine spontan mendongak menatap wajah pria itu dengan alis tertaut. "Apanya yang repot?"
__ADS_1
"Masalah Rafaél!" Vladimir menjawab seraya melirik gadis itu dengan raut wajah prihatin.
"Oh, masalah itu!" Giliran Cyzarine sekarang yang mendesah pendek. "Tapi… ada gosip yang mengatakan kalau kau sudah mengatur semuanya."
"Oh, ya?" Vladimir tersenyum tipis. Lalu kembali mengedar pandang. "Padahal waktu pementasan itu, kondisi Rafaél sendiri tidak begitu baik."
Cyzarine menatapnya lagi.
Pria itu balas menatapnya. "Tidak perlu heran," katanya. "Aku sudah lama mengenal Rafaél. Aku tahu segalanya!"
Cyzarine tergagap. "Maksudmu… kepribadian gandanya—"
"Kau pasti sangat terkejut?" Vladimir menatap Cyzarine dengan raut wajah prihatin.
Cyzarine menelan ludah. "Well---yeah," katanya seraya tertunduk. "Awalnya aku tidak percaya, tapi…"
"Kenapa mereka lama sekali?" Saul menggerutu di ruang administrasi.
Semua orang dalam ruangan terlihat gelisah. Sebagian dari mereka bahkan menunggu di depan ruang administrasi itu seraya mengawasi koridor dengan raut wajah cemas.
Lebih dari sepuluh menit mereka menunggu di ruang administrasi dengan perasaan tak tenang. Dan selama itu pula, mereka berdebat mengenai siapa yang menyebar kabar ruang latihan telah disewakan.
Tak lama kemudian, terdengar tawa Vladimir meledak di ujung koridor.
Semua orang serentak tertumpah dari ruang administrasi dan berebut pintu. Lalu mengawasi koridor dengan terperangah.
Vladimir dan Cyzarine tak juga muncul di ujung koridor, sementara suara Vladimir yang tertawa-tawa terdengar semakin keras.
"Tadi bukannya suara Vladimir, ya?" Semua orang bertanya-tanya.
"Apa mereka masih di ruang latihan?"
"Apa yang dia tertawakan?"
"Aku akan ke sana!" Chéri seketika mencelat dari tengah kerumunan dan bergegas ke ruang latihan.
Semua orang hanya tergagap mengawasinya. Tak tahu bagaimana menanggapinya.
Begitu sampai di ruang latihan, Chéri tertegun di depan pintu dengan alis bertautan.
Vladimir berdiri setengah merunduk, mengungkung tubuh Cyzarine dengan sebelah tangan bertumpu pada dinding, sementara Cyzarine hanya mendongak mengamati pria itu dengan wajah berkerut-kerut kebingungan.
Vladimir masih terpingkal-pingkal, "Sudah kuduga," katanya. "Kau memang polos sekali. Dipancing sedikit saja, kau sudah membeberkan semuanya!"
Apa? Chéri memekik dalam hatinya seraya membekap mulutnya dengan kedua tangan.
Apa maksudnya membeberkan semuanya?
Apa Cyzarine membocorkan rahasia Rafaél?
__ADS_1