Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 75


__ADS_3

Kehadiran sosok Rafaél Moscovich di layar kaca dalam acara jumpa pers yang digelar Vladimir Valensky sudah lebih dari cukup untuk menjadikan "Joan" sebagai objek intrik.


"Bagaimana dengan persaingan antara Tsar Dramy dan MoscovArt Theatre dalam pementasan Joan?" tanya seorang wartawan.


"Ah, tidak ada." Vladimir menjawab dengan sikap yang penuh percaya diri yang sudah terlatih. "Sebab Joan, kali ini akan menjadi pertunjukan gabungan antara Tsar Dramy dan MoscovArt Theatre."


Chéri terperangah sembari membekap mulutnya.


Mikail mengerjap di belakangnya.


Anggota MoscovArt Theatre serempak membeku dengan intensitas tatapan yang menghakimi.


Sesha memucat di sisi Mikail.


"Aku akan menjadi produsernya," Vladimir mengumumkan. "Dan sutradaranya…" pria itu merangkul bahu Rafaél dan seketika kamera terarah pada pria itu. "Teman lamaku yang dulu juga anggota Tsar Dramy, Rafaél Moscovich!"


Para wartawan bertepuk tangan.


Chéri memekik tertahan dan menoleh pada Mikail.


Pria itu sama syok-nya dengan dirinya.


"Apa sejak awal memang sudah direncanakan seperti ini, ya?" Sesha bergumam di sisi Mikail.


Sementara seisi ruangan mulai gaduh.


"Tapi bukankah kalian berdua saingan?" Para wartawan mulai bertanya lagi.


"Kenapa tiba-tiba bergabung?" tanya wartawan lainnya mulai berebut.


"Kalau tidak salah, ada gosip hubungan cinta dengan pemeran utama wanita!" timpal yang lainnya.


"Yang pasti…" Valentin mengambil alih jawaban, tapi sebelum melanjutkan, ia menepiskan tangan Vladimir dari bahunya sembari menggumam, "Aku tak suka kalau bahuku dipeluk!"


Vladimir tersenyum gelisah dengan rahang sedikit mengetat.


"Saat ini kami tutup mata terhadap masalah kecil," tutur Valentin menjelaskan pada publik. "Aku memilih grup teater lebih besar karena 'Joan' akan lebih sukses di sana. Tapi kalau masalah sponsor… akan ditangani oleh Moscovich Corporation yang dikelola orang tuaku sendiri. Jadi, pasti pertunjukan ini akan menjadi pertunjukan spektakuler. Pemeran utamanya, sesuai rencana, kami akan memakai Chéri Dutchskova."


"Aku akan menelpon Presdir Moscovich!" Mikail tak tahan lagi. Pria itu serentak memutar tubuhnya dan bergegas.


"Tidak," pekik Chéri mencoba menahan pria itu. Lalu mengikutinya keluar ruangan. "Mikail!"


Pria itu tidak menggubrisnya.


Tidak, pikir Chéri. Kumohon jangan lakukan, harapnya dalam hati. Ini sama saja dengan mengkhianati Rafaél!


Mencapai ruang administrasi, keduanya menyeruak masuk nyaris bersamaan.


Chéri bersikeras mencegah Mikail.


"Valentin sudah melakukannya!" Mikail meninggikan suaranya. Itu adalah pertama kalinya ia menggunakan nada tinggi pada Chéri sehingga gadis itu menciut. "Presdir Moscovich saja benar-benar ketakutan. Kalau nama Moscovich Corporation sudah dibawa-bawa seperti tadi, mau tidak mau, mereka harus memberi dukungan. Kalau tidak, mereka akan dianggap aneh, dan rahasia Rafaél akan dibocorkan ke media massa."


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" Chéri tergagap menatap wajah Mikail. "Bukankah Moscovich Corporation memberi dukungan pada Rafaél untuk menghabisi Vladimir?"


"Aku angkat tangan," erang Mikail. "Selama perhatian masyarakat tertuju pada 'Joan' aku tak mungkin menangkap Valentin."


Chéri mengetatkan rahangnya dan menatap wajah Mikail dengan alis bertautan.


"Itu juga yang dipikirkan Valentin!" Mikail menambahkan.


Chéri akhirnya mengerti.

__ADS_1


Apa akan kubiarkan Valentin berbuat seenaknya?


.


.


.


Beberapa saat kemudian…


Para anggota teater mulai berdiskusi mengenai keresahan masing-masing. Mereka semua berkumpul di ruang latihan.


Chéri juga berada di sana di tengah-tengah mereka bersama Mikail, tapi belum ada yang menyadari keberadaannya, karena semua orang terlalu sibuk berebut keluhan.


Padahal sudah susah-payah untuk bangkit! sesal Chéri dalam hati. Padahal aku sudah kembali.


"Maaf, ya. Aku sama sekali tidak tahu soal kerja sama dengan Tsar Dramy!" Sesha merasa bersalah. "Ini terlalu mendadak."


"Rafaél keterlaluan!" Beberapa orang mulai mengumpat-ngumpat.


"Oh, ayolah!" Sesha mencoba menenangkan mereka. "Cobalah berpikir dengan kepala dingin. Rafaél pasti punya alasan yang cukup kuat. Rafaél tidak mungkin bergabung dengan Vladimir tanpa alasan."


Ya, kalau itu Rafaél! Chéri membatin getir.


"Arrrrrgh!" Ibrahim mengerang frustrasi. "Bagaimana ini?"


"Tidak," sergah Chéri tak bisa menahan diri. "Ini pasti ide…" dia tiba-tiba tergagap. Mereka kan, belum tahu soal Valentin, ia menyadari. Lalu menambahkan cepat-cepat, "Vladimir!"


Seisi ruangan tiba-tiba hening.


"Kita tidak boleh menerimanya," tutur Chéri setengah histeris. "Rafaél pasti dijebak. Kita harus menghentikannya!"


"Chéri!" Beberapa orang memekik terkejut, lalu seisi ruangan serentak menoleh pada Chéri.


"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sudah ditarik oleh Vladimir?" Seseorang bertanya setengah memprotes.


"Perkataan orang macam dia mana bisa dipercaya," yang lainnya menimpali.


"Tunggu! Kalian semua salah paham!" Chéri berusaha membela diri.


"Tolong dengarkan apa yang ingin dikatakan Chéri!" Mikail menengahi.


Seisi ruangan memandang segan pada pria itu, tapi wajah mereka terlihat kesal.


"Ah—sudahlah, Chéri! Serahkan saja padaku!" Seseorang tiba-tiba menginterupsi.


Seisi ruangan serentak menoleh ke arah pintu.


Rafaél menyeruak masuk dengan langkah-langkah lebar. Ujung long coat-nya sampai berkibar di belakang tubuhnya. Rambutnya melecut dramatis di sisi wajahnya yang sangat memukau.


Seisi ruangan tercengang memandangi pria itu.


Untuk sesaat, Chéri juga sempat terpesona. Tapi kemudian ia menyadari pria itu bukan Rafaél.


Valentin---untuk apa dia kemari?


"Semuanya adalah ideku!" teriak Valentin menggelegar. Raut wajahnya terlihat serius seperti Rafaél.


Apa dia Rafaél? Chéri tiba-tiba bimbang.


"Chéri pindah ke Tsar Dramy untuk melindungiku dan menyelamatkan MoscovArt Theatre."

__ADS_1


Kedengarannya seperti Rafaél!


Tapi kemudian pria itu memeluk bahu Chéri. Chéri baru tahu kalau dia masih Valentin.


"Dia tidak bertanggung jawab atas semua ini," pungkas pria itu sembari meletakkan tangannya di seputar bahu Chéri.


Chéri mengedikkan bahunya tanpa kentara dan beringsut sedikit menjauhinya, sementara pria itu masih berusaha memberikan pengertian kepada seluruh anggota.


"Kalian pasti sudah lama tahu percekcokanku dengan Vladimir selama ini," jelas Valentin. "Yang dia dan aku pikirkan selama ini hanyalah bagaimana caranya untuk saling baku hantam dan mencari tahu kelemahan masing-masing. Akhirnya, Vladimir berhasil mengetahui kelemahanku. Chéri pun diancam oleh Vladimir, makanya dia pindah ke Tsar Dramy."


"Kasihan sekali dia," gumam seseorang. "Gara-gara hal itu kita semua jadi salah paham dan malah berpikir yang tidak-tidak mengenai Chéri."


Chéri dan Mikail saling melirik dengan tatapan penuh arti.


Sesha menatap Chéri dengan prihatin.


"Aku tidak pembelaan darimu," protes Chéri sembari menyentakkan bahunya dari rengkuhan Valentin. "Dasar pembohong. "Padahal kau sendiri yang bermaksud menghancurkan MoscovArt Theatre," gerutunya tak sabar.


Valentin berpaling padanya, menatap ke dalam mata Chéri dengan mimik wajah yang sama persis dengan Rafaél.


Dia benar-benar sudah jago akting, pikir Chéri kesal. Tapi lebih kesal lagi kepada dirinya yang tidak bisa berhenti berdebar-debar setiap kali berada di dekat pria itu.


"Chéri," Valentin berkata lembut sembari mengusap wajah gadis itu dengan buku jarinya. "Sekarang, kau sudah tak perlu lagi berpura-pura menjadi orang lain."


Seisi ruangan menahan napas.


Mikail mengerang di dalam hatinya.


Sial, umpat Chéri dalam hati. Kedua matanya mendadak berkaca-kaca. Lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan tertunduk. Perasaan sialan macam apa ini? pikirnya tak berdaya.


Valentin mengalihkan kembali perhatiannya ke tengah kerumunan. "Sekarang, Vladimir dan aku juga sudah sampai melibatkan grup teater dalam pertengkaran kami yang sia-sia," katanya kepada semua orang. "Jadi aku mengajak Vladimir berdamai. Dan… dia menerimanya.


Mimik mukanya benar-benar seperti Rafaél, pikir Mikail. Gaya bicaranya juga.


Semuanya tertipu.


Chéri tidak berpikir itu Rafaél, kan?


Chéri masih tertunduk menyembunyikan air matanya.


"Percayalah," ulang Valentin. "Chéri sama sekali tidak bersalah. Dia ingin kembali kepada kalian. Dan… penggabungan ini bukan untuk menghancurkan 'Joan' tapi untuk menyukseskannya. Hanya inilah kesempatan kita untuk bisa tampil di panggung yang megah."


Seisi ruangan saling bertukar pandang dengan seseorang di dekat mereka.


"Aku bisa mengerti perasaan kalian semua," Valentin menambahkan. Tapi… maukah kalian berkerja sama demi grup teater kita?"


"Cukup," protes Chéri.


Lalu tiba-tiba pria itu membungkuk ke arah semua orang, "Aku memohon pada kalian," pintanya.


Seisi ruangan memekik tertahan dan beringsut mundur menjauhi pria itu.


Chéri dan Mikail serempak memucat.


Seisi ruangan tersenyum kikuk.


Sesha menghambur ke arah pria itu dan menariknya berdiri. "Berdirilah, Rafaél! Kami…" Sesha menggantung kalimatnya dan mengedar pandang.


Seisi ruangan mengangguk pada Sesha.


"Kami akan bekerja sama," kata Sesha, sedikit terlalu antusias. "Dengan senang hati!"

__ADS_1


Valentin melirik diam-diam pada Chéri dengan seringai menjengkelkan.


__ADS_2