Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 73


__ADS_3

"Chéri," Vladimir berdeham dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kau telah bekerja keras dalam waktu yang singkat ini," tuturnya pura-pura berwibawa. "Sekarang, kau boleh kembali ke MoscovArt Theatre."


Chéri terbelalak dengan wajah senang anak-anak. "Benarkah?"


"Mikail sudah datang untuk menjemputmu," kata Vladimir. "Sekarang silahkan berkemas!"


"Bohong—" Chéri tergagap tak yakin.


"Tidak percaya juga tidak apa-apa," kata Vladimir tanpa beban.


"Aku akan berkemas sekarang!" Chéri melejit keluar ruangan dan berlari ke ruang latihan. Lalu mengemasi barang-barangnya. Dia melirik sekilas pada Leah.


Gadis itu balas meliriknya dengan isyarat bertanya.


Chéri melambaikan tangannya pada Leah dan bergegas pergi.


Seisi ruangan menatapnya dengan ekspresi yang sama.


Demian mengerutkan dahinya.


Vladimir menunggu di depan pintu dan membimbing Chéri ke lantai tiga.


Ah, Rafaél…


Mikail…


Teman-teman MoscovArt Theatre…


Chéri berdebar-debar.


Ini sungguhan, kan?


Rasanya seperti mimpi!


Dengan begini, aku akhirnya dapat memerankan Joan sepuas hatiku.


"Masuklah!" Vladimir mempersilahkan Chéri untuk masuk ke dalam studio.


Tunggu!


Studio?


Bukankah Mikail menunggunya di ruang administrasi?


Lagi pula ruang administrasi itu berada di lantai dasar.


"Di mana Mikail?" Chéri melengak kebingungan mendapati ruangan itu kosong.


Tidak ada Mikail.


Tidak ada siapa-siapa.


Hanya dia dan…


"Vladimir!" Chéri tergagap dan memucat.


Pria itu menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.


Chéri menelan ludah dan beringsut mundur menjauhi pria itu.


Pria itu melepas kacamatanya dan menyelipkannya ke saku jasnya. Lalu membuka kancing jas itu dan melucutinya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Chéri bertanya terbata-bata.


Pria itu menyeringai. "Menurutmu?"


Chéri terus melangkah mundur hingga punggungnya membentur bendul jendela. Ia menoleh sekilas ke belakang dan mendapati jendela kaca berukuran cukup besar untuk bisa dilewati seseorang. Tapi sayangnya ia sedang berada di ketinggian.


Sementara itu…


Di ruang administrasi, Mikail mulai gelisah, merasakan gejala tak beres. Lama sekali, pikirnya tak sabar. Lalu ia melirik arloji di pergelangan tangannya dan bergegas keluar ruangan. Dengan berlari dia menyusuri koridor mencari ruang latihan.


Tapi tentu saja tak semudah menemukan ruang latihan di MoscovArt Theatre. Ini tempat yang sama sekali asing.


"Nah," Vladimir sudah di depan Chéri. "Sampai di mana tadi?"


Chéri memekik tertahan dan menggeleng-geleng. Ini jebakan, ia menyadari.


Vladimir menopangkan sebelah tangannya ke bingkai jendela, mengungkung Chéri. "Ah, ya. Untuk menyakiti Rafaél… dengan cara apa pun, aku tak peduli. Jadi, aku terpaksa mengambil tindakan terakhir."


Chéri mendorong dada pria itu dan melejit melepaskan diri.


Vladimir merenggut pinggangnya dan menarik gadis itu ke meja di seberang ruangan.


"Lepaskan!" Chéri memberontak.


"Ya, aku pasti akan melepaskanmu!" Vladimir mengetatkan rangkulannya dan menekankan tubuhnya ke tubuh Chéri. "Kau akan pulang. Percayalah! Tapi aku tidak akan memulangkanmu dalam keadaan utuh."


Chéri menyentakkan tubuhnya dari cengkeraman Vladimir sembari berteriak. "Tolong!"


BRUAK!


Mikail akhirnya menemukan ruang latihan di ruang bawah tanah dan menerobos masuk mengejutkan seisi ruangan. "Maaf," katanya terengah-engah. "Di mana Vladimir dan Chéri Dutchskova? Apa ada yang tahu?"


Leah menghambur ke arah Mikail dengan raut wajah cemas. "Apa?" pekiknya sedikit gusar. "Mereka sudah keluar dari tadi!"


"Di lantai tiga, ada studio kecil!" Leah memberitahu.


Mikail serentak berbalik dan menghambur keluar ruangan.


"Hei—" Leah melejit keluar ruangan menyusul Mikail. "Kau siapanya dia?"


"Malaikat pelindungnya!" jawab Mikail tanpa menoleh lagi.


Leah mengerutkan dahinya.


Bayangan seseorang berkelebat di belakangnya.


Leah menyentakkan kepalanya ke samping dan menoleh ke belakang.


Tidak ada siapa-siapa.


Tapi dia yakin, seseorang baru saja melintas di sana dan menghilang di kelokan. Gerakannya sangat cepat dan seringan tiupan angin. Tapi ia bisa melihat sosok itu mengenakan pakaian serba hitam.


"Semangatmu boleh juga!" Vladimir masih berkutat di atas tubuh Chéri yang berhasil ditindihnya dengan posisi yang pas menurutnya. "Kau hanya belum terbiasa dengan pria. Apa kau masih perawan?"


Gadis itu terlentang di atas meja dengan rok tersingkap. "Lepaskan, keparat!" Chéri menggeliat-geliut dalam cengkeraman Vladimir. Kedua tangannya terentang di sisi tubuhnya sementara kedua tangan Vladimir menekannya. "Aku lebih baik mati daripada dinodai oleh orang tak bermoral sepertimu!"


"Begitu, ya?" Vladimir menyeringai puas. "Rafaél belum pernah menyentuhmu?"


Chéri melipat sebelah lututnya dan menekankannya ke perut Vladimir.


Vladimir menekankan bagian bawah tubuhnya semakin dalam ke bagian bawah tubuh Chéri. "Kekagetan Rafaél akan berlipat ganda, dan kenikmatan yang kudapatkan juga akan berlipat ganda."

__ADS_1


"Kau pikir kau siapa?" geram Chéri sembari terus memberontak.


Mikail akhirnya sampai di studio kecil di lantai tiga yang dikatakan Leah. "Chéri! Apa kau di dalam?"


"Mikail!" Chéri menjawab dari dalam dengan suara tercekat.


Mikail merasa tersengat membayangkan kondisi gadis itu di dalam sana. Bayang-bayang buruk peristiwa saat menemukan kakaknya berkelebat membakar isi kepalanya. Kemarahan bangkit dari dalam dirinya. Ia menerjang pintu itu sekuat tenaga. Tapi pintu itu bahkan tidak bergetar.


Tanpa sepengetahuan Mikail, seseorang menyelinap di belakangnya dan melesat ke balkon di ujung koridor. Lalu menyelinap dan memanjat ke tepi jendela.


BRUAK!


PRAAAANG…


Kaca jendela berderak dan meledak dalam hitungan detik.


Vladimir tersentak dan menoleh ke arah jendela.


Seseorang menerobos masuk bersama serpihan kaca dan mendarat di dalam ruangan dalam posisi jongkok.


"Rafaél—" Vladimir memekik dan sebelum ia sempat bereaksi, pria itu sudah melesat dari lantai dan menerjang ke arahnya.


BUG!


Vladimir terlempar dari meja dan tersungkur di lantai.


Rafaél meraup tubuh Chéri dan menariknya ke dalam dekapannya.


Chéri meledak menangis menyusupkan wajahnya ke dada pria itu.


"Chéri!" Mikail muncul di jendela tak lama kemudian. "Lepaskan! Dia Valentin!"


"Hah?" Chéri menyentakkan tubuhnya dan melepaskan diri. Ia mendongak menatap wajah pria di depannya seraya membekap mulutnya.


Pria itu menatapnya dengan ekspresi tenang Rafaél.


Gawat, pikir Chéri. Aku sudah tidak bisa membedakan keduanya. Semakin hari, Valentin semakin mirip dengan Rafaél.


Valentin menyeringai tipis. "Sayang sekali," katanya. "Padahal sudah susah payah menyelamatkanmu. Paling tidak, katakan terima kasih."


Mikail menghambur ke dalam dan merebut Chéri.


Vladimir sudah bangkit dan siap menyerang mereka.


Tapi Valentin bereaksi lebih cepat.


Sekali lagi, Vladimir terpelanting dan terjerembab di lantai.


Valentin membuka pintu dan melesat keluar lebih dulu.


Mikail mendesah pendek dan membiarkan pria itu lolos. Keselamatan Chéri jauh lebih penting, pikirnya. Lalu melepaskan long coat-nya dan mengenakannya ke tubuh Chéri.


Pakaian gadis itu sudah terkoyak dan terbelalak di bagian dadanya.


Mikail menghujamkan tatapan murka ke arah Vladimir.


Tapi pria itu sudah babak belur.


Kesadaran seketika menarik Mikail pada kenyataan.


"Aku tidak apa-apa," kata Chéri sembari menyusupkan wajahnya di dada Mikail.

__ADS_1


Mikail buru-buru menariknya keluar, seolah takut Vladimir akan merenggutnya.


__ADS_2