
"Apa ini? Ini di luar kebiasaan, anak baru yang berasal dari grup teater kecil tiba-tiba mendapat peran utama."
Suara bisik-bisik itu berasal dari barisan bangku kedua atau ketiga di belakang Chéri. Perlahan suara mereka menembus keheningannya yang sedang mencoba berkonsentrasi pada skenario di tangannya, menarik perhatian gadis itu yang sedang lengah akibat melamun.
Chéri mengalihkan pandangannya dari kertas skenario dan dari ocehan Vladimir Valensky yang sedang menginstruksikan banyak hal kepada dirinya. Raut wajahnya yang lelah karena bersedih berubah menjadi syok, kemudian menjadi kekesalan murni seiring berlanjutnya bisik-bisik itu.
Apa lagi ini? pikir Chéri. Kenapa di semua tempat dia selalu menemukan hal yang sama?
"Sepertinya tidak ada yang istimewa dari anak itu, apa iya dia benar-benar berbakat?"
Mendengar kata-kata itu, Chéri meringis merasakan darah mengaliri wajahnya. Seluruh tubuhnya menegang atau sedikit limbung. Ia berusaha menjaga keseimbangan dan menyembunyikan kepalan tangannya yang tertutupi lembaran naskah sementara rahangnya bergemeretak. Ia beringsut semakin dalam di tempat duduknya.
"Sudah! Sudah! Bersikaplah seperti biasa. Untuk apa kalian memusingkannya?" Terdengar suara lantang menegur mereka.
Chéri mengerling ke belakang dan mendapati semua orang tengah menatapnya. Itu tak mengejutkannya sama sekali. Ia cukup familier dengan tatapan dingin yang penuh permusuhan itu.
Anak laki-laki yang mirip Kyle yang menghardiknya di pintu masuk beberapa hari yang lalu saat Chéri baru pertama kali menginjakkan kaki di Tsar Dramy, balas menatapnya dengan raut wajah datar. Anak itulah yang menegur para penggosip tadi.
"Kau tidak mendengarku, ya kan?" Vladimir kemudian menegurnya.
Chéri buru-buru memalingkan wajahnya lagi ke arah Vladimir, sementara para penggosip di belakangnya mendesis tertawa.
Seusai Vladimir memberikan pengarahan, Chéri meninggalkan ruang latihan dengan raut wajah lelah. Ia bisa merasakan pandangan semua orang membakar punggungnya.
Meski ia berusaha bersikap tenang dan mencoba berbicara dengan santai, berusaha melakukan pendekatan kepada semua orang, tapi sorot mata orang-orang itu tetap terasa dingin dan dipenuhi rasa permusuhan yang luar biasa.
Chéri mendesah pendek dan menenggelamkan dirinya ke dalam kamar mandi wanita. Tapi dinding penyekat kamar mandi itu sangat rendah dan tak bisa menyembunyikan diri sepenuhnya dari… semua ini.
"Kudengar, Chéri Dutchskova itu punya affair dengan Rafaél Moscovich!"
Para penggosip itu juga muncul di koridor kamar mandi.
"Oh, bagus!" Terdengar suara mendengus. "Dan sekarang dia juga berhubungan dengan Vladimir."
Seketika Chéri merasa dunia seolah tidak memiliki tempat aman untuk sekadar beristirahat.
"Hebat juga dia, padahal katanya baru enam belas tahun."
"Rendah sekali!" Gadis yang lainnya menimpali. "Tapi kenapa dia mendapatkan peran Joan gadis utusan Tuhan."
"Joan-nya akan seperti apa ya… aku jadi penasaran."
Terdengar cekikikan.
"Aku sih tidak bisa cari muka pada sutradara untuk mendapatkan peran utama."
Kalian salah, kata Chéri dalam hati. Ingin rasanya berteriak, "KALIAN SEMUA SALAH!"
Tapi seolah bisa mendengar suara hati Chéri, gadis-gadis penggosip itu tiba-tiba memekik dan menahan napas seraya membekap mulutnya. Mata mereka spontan melebar mendapati Chéri berada di salah satu bilik kamar mandi seraya menatap mereka dengan sorot peringatan.
"Dia ada di sini," bisik salah satu dari gadis itu.
"Pergi, yuk!" desak yang lainnya.
__ADS_1
"Ah, tenang saja!" sergah salah satu dari gadis itu sembari mendelik pada Chéri. "Kenyataannya memang begitu, kan. Terutama kalau melihat sikap Vladimir. Siapa yang tidak tahu Vladimir seperti apa."
"Sudahlah! Kita pergi saja."
Lalu secara serempak gadis-gadis itu berbalik dan menyelinap pergi. Tapi tetap tidak berhenti bergosip.
Chéri tertunduk dan menelan ludah dengan susah payah---menelan seluruh kegetiran yang sulit diterimanya. Ia menyalakan shower dan tertunduk menenggelamkan kepalanya di bawah pancuran air panas yang ia harapkan bisa membantunya mendapatkan sedikit saja perasaan hangat. Tapi hatinya tetap dingin.
Meski tidak seorang pun memahamiku…
Meski aku dikata-katai…
Meski seluruh dunia membenciku…
Aku harus tetap bertahan!
Chéri berusaha menguatkan dirinya.
Demi Rafaél.
Aku harus bertahan…
Seorang diri!
Lalu kehadiran seorang di bilik kamar mandi di sebelahnya membuat Chéri segera mengakhiri tangisnya, mengusap air matanya dan mengangkat wajah. Berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa.
Sekilas ia melirik orang itu dan menjerit sembari menyilangkan keduanya tangannya di depan dadanya.
Anak di bilik sebelah adalah anak laki-laki yang mirip Kyle yang menghardiknya di pintu masuk ketika pertama kali Chéri memasuki teater Tsar Dramy.
Anak itu tetap memasang wajah datar. "Aku perempuan," katanya sedikit kesal.
Perempuan? Chéri membeku dengan mata dan mulut membulat. Lalu menoleh ke arah anak itu.
"Lihat yang benar," kata anak itu sembari mengerling ke bawah ke arah tubuhnya sendiri.
Dengan wajah polos kekanak-kanakannya yang khas, Chéri melongok ke bilik sebelah dan mengernyit. "Maaf—" katanya terbata-bata.
"Tidak apa-apa," kata anak itu seraya menyalakan kran. "Aku sudah terbiasa."
Chéri melanjutkan acara mandinya sembari sesekali melirik ke arah anak yang wajahnya mirip Kyle itu dengan sorot penasaran seorang anak kecil.
"Namaku Leah Denova," kata anak itu tiba-tiba.
Mata Chéri spontan melebar. "Kau saudara Kyle Denovich?"
Gadis tomboi itu serentak menoleh, matanya berbinar-binar, tapi ekspresinya tetap datar. "Kau mengenalnya?" Ia balas bertanya.
"Dia kakak kelasku," jawab Chéri.
"Dia kembaranku," jelas Leah singkat.
Kembar? pikir Chéri terkejut. Pantas saja mereka begitu mirip. Tapi apa perlu Leah juga memangkas rambutnya seperti Kyle?
__ADS_1
"Hei, boleh bicara sebentar?" Leah bertanya sembari meliriknya. Suaranya lantang dan tegas ditempa latihan vokal yang sangat disiplin.
Chéri meliriknya lagi. Suaranya juga sangat mirip dengan suara Kyle, pikirnya. Rasanya seperti sedang mandi bersama Kyle. Dan itu membuatnya agak kikuk.
"Aku tahu alasanmu pergi dari MoscovArt Theatre," kata Leah sembari mulai menggosok lengannya dengan sabun. "Tapi aku berharap kau tak sampai mengenyampingkan peranmu."
Chéri terperangah dan melirik pada Leah.
Leah balas meliriknya, ekspresi datarnya sepertinya sudah jadi ciri khasnya. "Orang-orang yang sudah lama mengenal Vladimir pasti tahu dia senang memanfaatkan skandal sebagai alat promosi."
Chéri akhirnya merasa hangat dan tidak lagi sendirian. Akhirnya ada seseorang yang bisa memahaminya. Dan yang terpenting dia identik dengan Kyle. Setidaknya ia bisa merasakan kehadiran Kyle di tempat asing. Hal itu membantunya merasa terhubung dengan MoscovArt Theatre.
"Aku sudah pernah melihat pertunjukanmu," kata Leah. Sebuah senyuman akhirnya tersungging di sudut bibirnya. Dibandingkan dengan kembarannya, Leah memiliki kepribadian yang jauh lebih tenang yang lebih cocok dimiliki anak laki-laki.
Alangkah baiknya jika ia dan Kyle bertukar kepribadian, pikir Chéri.
"Aku sendiri suka karya-karya Rafaél Moscovich," lanjut Leah. "Lebih suka dibanding karya Vladimir."
Tatapan Chéri melembut mendengar nama Rafaél disebutkan.
"Tapi yang penting adalah Joan," Leah menambahkan. "Itu adalah peran yang bagus."
Chéri berusaha menampilkan senyum tulus menanggapi saran Leah.
"Bagi seorang aktris, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain bisa mendapat peran bagus," kata Leah lagi.
"Aku sudah susah payah berlatih hingga akhirnya bisa memerankan Joan," cerita Leah. "Jadi aku akan marah kalau kau tak bisa memerankan itu dengan benar."
Chéri mengerjap dan menatap Leah.
"Sebetulnya peran itu sudah lama kuimpikan," Leah menambahkan seraya tersenyum pada Chéri.
"Joan itu… peran seperti apa?" Chéri bertanya ragu-ragu.
Leah kembali tersenyum, tapi tidak menoleh pada Chéri. "Aku bukan pria atau wanita," katanya dengan penuh penghayatan. "Bukan orang dewasa atau anak kecil, juga bukan malaikat atau iblis. Orang-orang memanggilku… Joan d'Arc!" Leah mengangkat kedua tangannya seolah-olah menghunus pedang. "Utusan Tuhan yang membawa pedang."
Chéri mengerjap dan terkesiap, penuh dengan kekaguman.
"Tokoh ini adalah seorang manusia yang mondar-mandir antara surga dan dunia," tutur Leah menjelaskan.
Chéri masih bergeming. Tadi, dalam sekejap, aku bisa melihat sosok Joan, batinnya takjub.
Lalu tiba-tiba Leah tertawa. "Aku suka bagian itu," katanya di antara gelak tawanya. Wajahnya berbinar-binar senang dan tampak berkilauan di bawah guyuran air yang disetel kecil menyerupai curah hujan.
Orang ini benar-benar punya potensi, Chéri mengakui, sedikit tersengat oleh perasaan iri. "Mungkin… jika dibandingkan aku, kau lebih cocok memerankan Joan," katanya muram.
"Aku benci rasa simpati dan kerendahan hati," kata Leah, ekspresinya berubah dengan cepat—kembali ke mode datar.
Chéri langsung terdiam.
"Mimpi itu… bukanlah sesuatu yang diberikan pada kita, atau sesuatu yang telah menunggu kita," tutur Leah dengan pandangan menerawang. "Melainkan sesuatu yang harus kita tangkap sendiri. Sebab dalam diri akan muncul kekuatan ajaib ketika ingin mewujudkan keinginan. Kau tahu itu?" Leah menoleh pada Chéri. "Sama halnya seperti ketika kita menciptakan tokoh dalam sandiwara, kita akan membayangkan apa yang kita inginkan supaya terlihat dengan jelas di depan mata. Saat kita melakukannya berulang kali, tak terasa tokoh itu menjadi semakin nyata, seakan-akan kita dapat menyentuhnya."
Chéri tertunduk dan menelan ludah.
__ADS_1
"Walaupun sekarang tidak bisa, pasti nanti aku akan berperan sebagai Joan." Leah menandaskan.