
Pintu berderak membuka, dua petugas hotel memasuki kamar Valentin dan terhenyak.
Pertama karena pemandangan di seluruh kamar seperti habis dilindas badai.
Kedua karena penghuni kamar yang terkenal paling serampangan itu tengah menggenggam sebilah pisau.
Tak elak kedua petugas itu memucat ketakutan.
Valentin duduk memeluk lututnya di jendela, seperti orang frustrasi yang berniat untuk bunuh diri.
Kemeja denimnya terbelalak di bagian dada, dan merosot di tangan kirinya. Darah menetes dari goresan luka di pangkal lengannya.
"Tuan!" Para petugas hotel berteriak khawatir.
Pria tersentak dan menoleh dengan ekspresi sadis seorang bajingan. "Apa-apaan ini!" teriaknya merasa terganggu. "Jangan masuk seenaknya!"
"Maaf," sesal kedua petugas itu dengan wajah ketakutan.
"Anda terluka," kata si front office. "Tangan Anda harus segera diobati."
Valentin mengerling ke arah lengan kirinya dengan raut wajah datar. "Ini aku sendiri yang melakukannya supaya aku tidak ketiduran."
Kedua petugas hotel itu serentak bertukar pandang.
Cara aneh untuk menahan kantuk!
Atau cara paling ekstrim?
Pria ini benar-benar mengerikan, pikir keduanya nyaris bersamaan.
"Tenang saja," kata Valentin tanpa beban sedikit pun. "Luka ini tidak dalam. Tidak sampai mengenai urat nadi. Sebentar lagi juga darahnya berhenti. Sudah! Keluar sana!"
Kedua petugas itu beringsut mundur. Tapi tidak bisa melepaskan pandangannya dari Valentin.
"Kubilang keluar!" hardik Valentin tak sabar.
Kedua petugas itu serempak melejit meninggalkan kamar itu.
"Sial!" Valentin mengumpat-ngumpat. "Energiku terbuang percuma," rutuknya tak sabar.
Pria itu merayap turun dari jendela, lalu berjalan terhuyung ke tengah ruangan.
Ketika ia melewati cermin, bayangan dirinya di dalam cermin menarik perhatiannya.
Bayangan dalam cemin itu menatapnya dengan ekspresi wajah yang sama sekali berbeda dengan dirinya.
"Rafaél!" Valentin menyadari, lalu mendekat ke arah cermin itu dan memelototi bayangannya yang tidak sesuai dengan gerakan tubuhnya. Sementara tubuhnya membungkuk, bayangan dalam cemin tetap tegap dan tidak bergerak.
Valentin menyeringai dengan sikap mencemooh.
Bayangan di dalam cermin tidak tersenyum.
"Kau ingin bertukar tempat?" Valentin mengejeknya. "Kau menantangku? Kau ingin bertarung melawanku?"
Bayangan dalam cermin tetap bergeming. Menatap Valentin dengan raut wajah dingin.
"Kalau kau bersikeras untuk melakukannya, baiklah!" Valentin kembali menyeringai. "Tapi asal kau tahu, tidak ada apa pun untuk dirimu. Akan kurebut semua milikmu dengan cara kekerasan. Chéri, dan juga dramamu…"
Bayangan dalam cemin mengerjap dengan raut wajah gusar. Meski tetap datar.
"Aku akan mendapatkan semua milik Rafaél Moscovich! Tidak tanggung-tanggung, akan kurampas semua sampai keberadaanmu tidak ada artinya lagi!"
Bayangan dalam cermin terkesiap dan terhuyung mundur.
Valentin melayangkan tinjunya ke permukaan cermin dan meremukkan cermin itu hingga berkeping-keping. "Aku akan menikmatinya," desisnya semakin melemah. Lalu tiba-tiba ambruk dan jatuh tertelungkup di lantai.
.
__ADS_1
.
.
"Sudah tiga hari, Vladimir terus mendampingi Leah pemain cadangan. Sedangkan si pemeran utama malah tidak digubris sama sekali. Stretching terus kerjaannya!"
Suara bisik-bisik itu terdengar dari sudut ruang latihan di gedung Tsar Dramy.
"Habis dia punya waktu luang, Vladimir hanya menyuruhnya sekali. Selebihnya, dia bertingkah seperti boneka pajangan."
"Mau tahu panggilan Vladimir untuk anak itu? Marionette Rafaél!"
Terdengar cekikikan.
"Vladimir punya masalah dengan Rafaél. Dia seharusnya tidak memakai anak itu."
Seketika suara bisik-bisik terhenti.
Chéri menghampiri para penggosip itu dengan langkah-langkah lebar.
"Kedengaran, ya?" mereka saling bertanya satu sama lain.
Tapi sikap Chéri membuat mereka melengak.
Gadis itu mengembangkan senyum pada mereka dengan ekspresi anak-anak. Lalu menunjuk railing di belakang para penggosip itu. "Boleh pakai palang itu?"
Para penggosip itu berpencar dan menjauhinya, menjauh dari railing, menjauh dari gadis itu dengan tatapan sinis dan ekspresi nyinyir.
"Anak aneh," gerutu mereka.
Chéri sudah terbiasa dengan situasi macam itu. Jadi, dia tidak peduli. Lagi pula tidak lama lagi dia akan kembali ke MoscovArt Theatre.
Diabaikan juga tidak apa-apa, pikirnya.
Situasi ini sebetulnya menguntungkan Chéri. Dia jadi bisa menganalisa teknik Leah.
Tempo…
Tatapan mata, dan tubuh…
Chéri tiba-tiba terkesiap takjub.
Dia benar-benar jago! Chéri mengakui.
Lalu tiba-tiba Leah mengerang. "Arrrrrgh!"
"Ada apa?" Vladimir menghampiri Leah.
"Kakiku kram…" Leah meringis sembari terpuruk di lantai memegangi kakinya. "Maaf, aku kurang melakukan pemanasan tadi."
"Wah! Susah," gerutu Vladimir. "Kau beristirahatlah sebentar," katanya.
Chéri bergegas ke tengah-tengah, menghampiri Vladimir dan mengajukan diri untuk menggantikan Leah.
Seisi ruangan serentak menoleh pada gadis itu dengan ekspresi mencela.
"Apa dia tidak malu menawarkan diri?" komentar beberapa orang.
"Apa dia tidak punya harga diri sebagai pemeran utama?" komentar yang lainnya.
Chéri bergegas melewati mereka dan mendekat pada Vladimir.
"Hah," Vladimir mendesah kasar. "Kau tak perlu berakting," katanya mencemooh. "Sebaiknya kau pahami posisi Joan. Kau akan mendapat masalah kalau para penonton mencemooh dirimu seperti tadi."
Chéri tidak menjawab.
"Mainkanlah dengan aktingmu sendiri!" Vladimir akhirnya memberikan kesempatan.
__ADS_1
Chéri bersiap di tengah ruangan.
Para pemain lain mencebik dengan sikap muak.
"Joan berdiri tepat di antara pasukan Inggris dan pasukan Prancis!" Vladimir memberikan aba-aba kepada semua pemain.
Para pemain itu terpaksa mematuhinya dan bergabung dengan Chéri.
Joan terombang-ambing seorang diri di antara para prajurit—sama seperti aku sekarang, pikir Chéri.
Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa dia memiliki kekuatan gaib.
"Tentara musuh semakin mendesak!" teriak pemain lain di dalam kerumunan.
"Mundur!" teriak yang lain memprovokasi.
Inilah saatnya…
Joan menunjukkan kekuatan ajaibnya!
"MAJUUUU!"
Seisi ruangan menahan napas.
Suara Chéri terdengar seperti gelegar halilintar di puncak musim panas.
Vladimir bahkan tersentak mendengar suara gadis itu. Ini adalah pertama kalinya gadis itu menunjukkan teknik yang berbeda. Dan itu membuat Vladimir sedikit… menyesal.
Seharusnya aku tahu Rafaél tak pernah keliru menilai bakat seseorang, pikirnya. Anak ini memang berpotensi. Tapi dia bahkan tidak tahu bagaimana cara menggali potensi itu.
Apa yang membuatnya seperti ini? Vladimir mulai penasaran.
"Suaranya ternyata luar biasa," bisik seseorang di luar lingkaran.
Demian tersenyum tipis mendengar komentar itu.
"Jangan gentar!" Chéri menghardik para tentara sembari menoleh ke belakang.
Para tentara itu memandang ragu.
Chéri memutar tubuhnya ke belakang dan meneliti wajah-wajah pemain lain dengan intensitas tatapan yang memprovokasi. "Dalam keadaan terjepit kita harus berusaha dengan gigih dan bukan menyerah pada nasib!"
Para tentara itu terhenyak ketika anak panah melesat ke arah Joan.
Chéri membeku dengan mata dan mulut membulat, lalu mengedar pandang dengan kelopak mata bergetar.
Para pemain lain yang melihatnya mendadak bisa merasakan apa yang disampaikan gadis itu melalui ekspresi wajahnya.
Terguncang saat benda asing menembus tubuhnya!
Jantungnya serasa meledak.
Darah seperti mengalir terbalik.
Wajah gadis itu serentak memerah, lalu memucat.
Cahaya matanya berangsur-angsur redup.
Seisi ruangan tanpa sadar menahan napas.
Bahkan Vladimir.
Leah tidak berkedip menatap akting Chéri.
Demian tersenyum diam-diam. Ekspresi wajahnya menyiratkan pengakuan terselubung. Sejak awal dia sudah tahu gadis itu penuh kejutan.
Dan ini tampaknya belum seberapa!
__ADS_1