
HARI PERTAMA PEMENTASAN "SI CANTIK DAN SI BURUK RUPA", PENULIS SKENARIO DAN SUTRADARA: RAFAÉL MOSCOVICH.
Demikian isi pengumuman yang terpampang di pintu masuk auditorium gedung MoscovArt Theatre. Lembar-lembar katalog terbengkalai di dekatnya, terlihat suram dan kesepian.
Hiruk-pikuk di selasar seolah menguap. Hilir-mudik orang-orang yang berseliweran seperti tak pernah terjadi.
Antrean panjang di depan loket seperti kenangan yang takkan terulang.
Pintu masuk terasa seperti ancaman.
Dua gadis berdiri kikuk di depan pintu. Melongok ke sana-kemari dengan sikap takut-takut.
"Benar kan, pertunjukannya hari ini?" Salah satu gadis bergumam bimbang.
"Kenapa sepi sekali?" Timpal gadis yang lainnya.
"PARA PENONTON YANG TERHORMAT, SELAMAT DATANG!" Pengumuman menggaung dari pengeras suara. "KAMI MOHON MAAF YANG SEDALAM-DALAMNYA. PERTUNJUKAN TERPAKSA DIUNDUR SELAMA 30 MENIT KARENA SUATU HAL. HARAP MAKLUM!"
"Apa?" Beberapa orang di bangku penonton mulai merutuk. "Tiga puluh menit?"
"Apa maksudnya?" gerutu yang lain di bangku teratas.
"Ini hari pertama, kan?" Timpal yang lainnya lagi. "Apa ada kesalahan pada tata lampunya, atau ada masalah lain?"
"Wah! Pertunjukkannya jelek, nih!" erang yang lain-lainnya lagi.
"Heh!" Tegur seseorang di sampingnya.
"Habis… aku belum pernah melihat kursi penonton sekosong ini!"
"Kru dan para staf juga tidak kelihatan," komentar yang lainnya lagi.
"Iya, kenapa sepi sekali?"
"Di mana mereka semua?"
Di belakang panggung...
"Kemarin… Chéri melihat Demian bersama Vladimir. Lalu tadi… Demian melarikan diri." Rafaél menggumam di tengah-tengah kerumunan dengan wajah pucat.
Chéri menelan ludah dengan susah payah.
Kecemasan menyergap semua orang.
"Vladimir mengatakan pertunjukan kita bakal berantakan," Rafaél melanjutkan. "Jadi… sudah cukup jelas, semua ini ulah Vladimir."
"Lalu? Bagaimana dengan tiket yang habis terjual?" Seseorang menginterupsi. "Apakah ini juga ulah Vladimir?"
"Cara Vladimir benar-benar kotor," seseorang menggerutu. "Sudah mencuri naskah sampai kita terpaksa ganti drama, merampas penonton dengan memborong tiket, sekarang dia juga merebut Demian!"
"Keparat! Apa dia berniat menghancurkan teater ini?" Yang lainnya menimpali.
Rafaél mendadak diam. Tatapan matanya terlihat kosong.
Chéri tercekat dan menghampirinya.
"Apa?" Rafaél bertanya tanpa berkedip.
"Aku kira mau pingsan," kata Chéri setengah tersipu.
Pengawas panggung mendekati mereka. "Rafaél, ini kita pikirkan nanti. Yang penting sekarang pemain cadangan Si Buruk Rupa. Kita tidak punya waktu lagi!"
"Sejak awal pemain cadangan sudah ditetapkan," jawab Rafaél seraya memutar tubuhnya dengan gerak lambat. "Saul!"
"Ah---ya!" Saul tergagap.
"Kau hapal dialognya, kan?" tanya Rafaél.
"I---iya, jangan khawatir!" jawab Saul tak yakin.
__ADS_1
"Coba ucapkan dialog pertama di babak kelima," perintah Rafaél.
"A---a—"
"Cepat!"
"Tubuh ini berubah menjadi tubuh binatang malam…"
"Terus!"
Saul gelagapan.
"Malam apa?" Rafaél menghardiknya.
"Sabar sedikit, Keparat!" Saul berteriak kesal. "Ini terlalu mendadak. Pikiranku benar-benar kacau!"
"Rafaél, kau tak harus menyudutkannya!" Ibrahim menyela mereka. "Saul pasti bisa. Percayalah!"
"Bagaimana dengan peran kakak laki-laki?" Daniel akhirnya membuka suara. "Siapa yang akan menggantikan Saul?"
"Bukankah semua pemain cadangan sudah ditetapkan?" Rafaél menggeram.
Daniel memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak. "Pemain cadangan kakak laki-laki tidak datang hari ini," erangnya seraya mendesah.
Rafaél menggeram seraya mengetatkan rahangnya, kemudian merenggut vas bunga di dekatnya dan menghempaskannya ke lantai.
Semua orang memekik dan terlonjak bersamaan.
Rafaél pasti sangat terguncang dikhianati Demian seperti ini, pikir Chéri.
Saul tampak terpukul.
Daniel dan Ibrahim bertukar pandang.
Pengawas panggung menengahi mereka. "Sudah, biarkan Rafaél menenangkan diri! Waktu kita tinggal dua puluh menit lagi," katanya. "Kalian semua sebaiknya mempersiapkan diri!"
"Wah!" Beberapa kru mulai mengerang. "Apa jadinya pertunjukan hari ini?"
Lila, pemeran kakak perempuan Si Cantik, masih menggeliat-geliut, mencoba menata rambutnya.
Dua pemain lain sedang bertukar pendapat mengenai akting satu sama lain.
Yang lainnya lagi sedang bergosip dengan wajah tegang.
Cyzarine sedang berkutat menyempurnakan riasannya sembari cemberut.
Chéri memasuki ruangan dengan langkah limbung.
Lalu tiba-tiba Cyzarine menggebrak meja rias seraya menggeram, "Aku tidak mau tampil!"
Seisi ruangan memekik seraya menoleh.
"Apa katanya?" Evaline, pemeran kakak perempuan Si Cantik yang lain bertanya tak yakin.
Cyzarine meliukkan tubuhnya ke belakang, menatap semua orang dengan wajah kesal. "Katakan pada Rafaél, aku tidak mau tampil!"
Chéri tercekat di ambang pintu.
"Aku tidak mungkin bisa tampil," ulang Cyzarine seraya menyusupkan wajahnya di antara lipatan tangannya. "Teganya Demian mengkhianatiku! Dia benar-benar menyakitiku! B i a d a b!"
"Cyzarine, tenanglah!" Salah satu pemain mencoba menghiburnya.
Chéri memberanikan diri mendekati Cyzarine. "Cyzarine, sepuluh menit lagi tirai akan dibuka—"
PLAK!
Cyzarine melemparkan naskah ke wajah Chéri. "Aku tidak mau tampil!" jeritnya pada Chéri. "Penontonnya hampir-hampir tidak ada, memalukan! Aku tidak sudi bermain di panggung yang menyedihkan seperti ini!"
Dua orang gadis menghampiri Chéri dan membantunya berdiri.
__ADS_1
Cyzarine memukul-mukulkan kepalan tangannya di permukaan meja rias.
Sesha menghambur ke dalam dan membujuknya. "Tenanglah, Cyzarine! Kalau kau tidak menarik hati para penonton, siapa lagi yang akan melakukannya?"
"Tidak! Pokoknya aku tidak mau tampil!" Cyzarine menjerit-jerit tak terkendali.
"Aaaah, drama ini dari awal sudah kena kutuk! Aku juga tidak mau tampil!" Pemain lainnya mulai ikut-ikutan. "Aku mau main di pertunjukan drama sungguhan!"
"Hentikan!" Pemeran kakak perempuan Si Cantik memekik.
Chéri terperangah dengan wajah pucat.
Apa-apaan ini?
Kenapa semuanya tidak mau tampil?
Kenapa semuanya meninggalkan Rafaél?
Kalau terus begini…
Teater ini benar-benar akan hancur seperti harapan Vladimir.
Tidak! pikir Chéri. Aku tidak akan membiarkan Vladimir menang!
Chéri membuka sweatshirt-nya kemudian merenggut gaunnya.
Seisi ruangan tersentak dan mengawasinya.
"Apa yang dia lakukan?" tanya mereka.
Chéri berbalik dan memelototi mereka. "Biar aku saja yang tampil di pentas yang menyedihkan ini! Bagi kalian yang tidak sudi tampil di panggung menyedihkan ini, silahkan mengurung diri di sini!"
"Ché—Chéri…" para gadis tergagap.
"Oh, jadi kau merasa mampu menyelamatkan situasi?" Cyzarine mendengus sinis. "Apa kau yakin mau tetap tampil? Asal kau tahu saja, pemain pengganti si Buruk Rupa adalah Saul, dia mungkin tak hapal dialog karena selama latihan dia terfokus pada peran kakak laki-laki Si Cantik. Pasti semuanya akan kacau!"
"Kau—" Chéri benar-benar tidak habis pikir. Padahal tadinya aku mengira dia akan menyesal dan akhirnya mau tampil.
"Hanya orang t o l o l yang mau tampil hari ini," tandas Cyzarine angkuh.
PLAK!
Chéri menamparnya.
Cyzarine menjerit. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku memang tidak menyukaimu sejak awal," geram Chéri pada Cyzarine. "Tapi setidaknya dulu aku masih menghormatimu karena kau sendiri bahkan mengaku bahwa aktingmu pasti lebih baik. Tapi baiklah! Di tengah kondisi yang buruk ini, aku akan menyukseskan drama ini!"
"Chéri, tolong jangan bertindak seenaknya!" Sesha memarahinya.
Bersamaan dengan itu, Kyle muncul di ambang pintu. "Aduh! Cewek-cewek ini sedang apa, sih? Pengawas panggung menyuruh kalian stand by, tinggal 5 menit lagi."
"Tunggu dulu!" Cyzarine memberitahu Kyle. "Beri kami waktu 15 menit lagi! Katakan pada pengawas panggung, Chéri yang akan tampil hari ini menggantikanku!"
"Whoa—Lucky!" Kyle berlanting senang, lalu menghambur keluar dengan bersemangat "Kalau Chéri yang tampil, aku akan bekerja keras mengumpulkan penonton!" teriaknya di koridor.
"Kalian—" Sesha menghardik mereka.
"Dia sendiri yang mau!" Cyzarine mendelik ke arah Chéri. "Biarkan saja dia melakukannya! Kau siap menanggung risikonya, kan?" tantangnya.
"Tentu," jawab Chéri dingin. "Kalau aku gagal, aku bersedia keluar dari teater ini!"
"CHÉRI—" Sesha berteriak marah sekarang.
"Janji?" Cyzarine menyeringai puas.
Sementara itu, di belakang panggung…
"Rafaél! Bagaimana ini?" Pengawas panggung berteriak gusar. "Pemeran Si Cantik juga ikut berubah.
__ADS_1
Chéri! Rafaél terbelalak seraya membeku.