
"Kita mau ke mana?" Chéri bertanya terbata-bata.
Mikail menanggapinya dengan tersenyum tipis seperti biasa. "Seseorang sedang menunggumu," katanya dengan kerlingan penuh arti.
Seseorang?
Rafaél-kah?
Ah, Chéri membatin geli. Mendadak merasa konyol. Kenapa yang ada di otakku hanya Rafaél dan Rafaél?
Benar-benar memalukan!
Tapi sejak pernyataan pria itu, ingatannya pada Rafaél selalu berhasil membuatnya melupakan segala beban yang merundungnya. Kenangan tentang Rafaél menjadi semacam mood booster yang tidak ada duanya. Bahkan ketika semua orang menatapnya dengan dingin, Chéri bisa tiba-tiba tersenyum hanya dengan membayangkan wajah tampan pria itu.
Sekarang juga begitu.
Yang bisa ia bayangkan hanya sosok tinggi pria itu yang menoleh dan melirik dengan tatapan mautnya yang bisa melumpuhkan seribu wanita dalam satu malam.
Tapi ketika Mikail memarkir mobilnya di depan sebuah Coffee Shop dan menuntunnya masuk, sosok yang telah menunggunya benar-benar diluar ekspektasi.
Orang itu duduk kaku di depan meja, menatapnya dengan tatapan serius yang membuat Chéri spontan kehilangan senyuman manisnya.
"Sesha—" Chéri tergagap dan berdeham salah tingkah.
Sesha adalah tipe orang serius yang selalu menampilkan wajah resmi seorang pegawai kantoran yang sulit diajak basa-basi, apalagi untuk sekadar bercanda.
Mikail menarik sebuah bangku untuk Chéri dan mempersilahkan gadis itu duduk. Kalau yang ini sudah jelas sikap resmi seorang pengawal.
Chéri duduk dan menyeringai dengan tampang khasnya yang kekanak-kanakan.
Mikail duduk di sampingnya dengan ekspresi sama resminya dengan Sesha. Sepintas kedua orang ini terlihat seperti dua pemimpin perusahaan yang sedang mencoba untuk berdiskusi.
Benar-benar kaku, pikir Chéri.
Sesha menyodorkan gulungan pamflet ke tangan Chéri.
Gadis itu membukanya dan tercengang dengan sorot gembira seorang anak kecil. "Wuaaaaahhhh," serunya. "Jadi juga!"
Sesha dan Mikail saling melirik sekilas.
"Kalian benar-benar akan mempertunjukkan Joan?"
"Ya," jawab Sesha lugas. Di hari yang sama dengan pementasan Tsar Dramy. Kita benar-benar akan saling berhadapan."
"Syukurlah," gumam Chéri dipenuhi suka cita. "Tadinya kupikir MoscovArt Theatre sudah menyerah. Aku sempat khawatir, lho!"
Hening.
Sesha membeku dengan mulut terkatup.
Mikail meliriknya dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Sesha mendesah dan menatap Chéri.
Chéri balas menatapnya dengan tatapan bertanya.
Sesha tampak ragu-ragu dan melirik pada Mikail.
Chéri mengikuti arah pandangnya.
Mikail mengerjap dan membuka mulut, tapi tak berhasil menemukan kata-kata.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Chéri bertanya pada keduanya.
Hening lagi.
Mikail akhirnya berdeham dan membuka suara. "Sebenarnya hari ini aku sengaja membawamu ke sini untuk—"
"Sebenarnya aku belum begitu setuju!" Sesha tiba-tiba menghela bangkit tubuhnya dan berdiri dengan kedua tangannya bertumpu pada meja. Ia membungkuk mencondongkan tubuhnya ke arah Chéri dan menatap gadis itu.
Chéri tergagap kebingungan.
"Rafaél ingin kau berperan sebagai Joan," kata Sesha. "Katanya kembalikan Chéri ke MoscovArt Theatre, sebab dia ke Tsar Dramy hanya demi aku."
"Rafaél bicara begitu?" Chéri membelalakkan kedua matanya.
"Katanya dia punya rencana rahasia, dan anggota yang lain belum diberi tahu. Singkatnya, Joan, sekarang tidak dimainkan oleh Cyzarine dan kami akan melanjutkan latihan tanpa Joan. Benar-benar keterlaluan!" Sesha menggerutu.
"Benarkah?" Chéri bertanya dengan ekspresi prihatin, tapi sorot di matanya tidak bisa menutupi kebahagiaan hatinya yang meluap-luap. Jantungnya sampai berdebar-debar mendengar berita itu, seperti mendengar seseorang mengatakan, "Rafaél menitipkan salam!"
"Rafaél sama sekali tidak memberi alasan, cuma lewat telepon pula!" Sesha masih tampak keberatan dengan keputusan itu.
Rafaél akan meneruskan rencananya, pikir Chéri bahagia. Masih sibuk dengan urusan hatinya, padahal Sesha secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan.
Aku benar-benar bisa kembali ke MoscovArt Theatre! Hatinya bersorak.
"Rafaél…" desis Chéri. "Mikail, Sesha, Demian, Cyzarine… semuanya sekarang berpencar," katanya emosional. "Alangkah baiknya kalau kita semua bisa bermain bersama lagi."
Sesha dan Mikail serentak terdiam dan bertukar pandang. Tatapan keduanya melembut seiring hati mereka yang meluluh.
Sesha mendesah pendek dan berbalik. "Aku pergi duluan," katanya memohon diri.
Chéri terperangah dan menarik bangkit tubuhnya.
Sesha menoleh ke arah gadis itu, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu hari ini, gadis serius itu tersenyum. "Kau pasti bisa," katanya menyemangati Chéri. "Setelah kupikir-pikir, mungkin maksud Rafaél adalah… perampasan pemeran utama ini merupakan pembalasan untuk Si Cantik Dan Si Buruk Rupa! Vladimir merebut Demian waktu itu, sekarang Rafaél merebutmu."
"Ya," Chéri menimpali dengan antusias.
"Sampai nanti!" Sesha berpamitan.
"Ah, akhirnya!" Chéri mendesah lega sembari duduk kembali.
Mikail meliriknya dengan raut wajah tetap datar.
__ADS_1
"Tapi, Mikail…" Chéri tiba-tiba menoleh pada pria itu. "Bagaimana kalau Vladimir membocorkan rahasia Rafaél?"
Mikail mendesah pendek. "Soal itu… sebenarnya, tadi malam… untuk pertama kalinya Rafaél akhirnya meneleponku," tuturnya.
Chéri kembali terbelalak dengan wajah semringah.
"Katanya, kalau Vladimir mengancam akan membocorkan rahasia Rafaél, biarkan saja dia melakukannya. Pokoknya tarik saja Chéri."
"Tidak bisa!" protes Chéri. "Itu namanya rencana bunuh diri!"
"Aku juga berkata begitu," Mikail menimpali. "Makanya… bantu aku, Chéri. Dengan pengaruh Moscovich Corporation aku akan membungkam mulut Vladimir dengan tekanan. Kalau sampai rahasia Rafaél terbongkar, Moscovich Corporation akan mengalami kerugian."
"Menggertak balik Vladimir? Apa itu bisa dilakukan?"
"Pasti bisa. Pengaruh Moscovich Corporation sangat besar. Tapi aku tetap akan membutuhkan bantuanmu nanti. Kalau kita berhasil, kau kembali ke MoscovArt Theatre kapan saja."
.
.
.
Larut malam di Ibis Moscow Kievskaya…
Valentin menyalakan televisi dengan volume tinggi, ditambah video player yang memutar musik dengan volume yang lebih tinggi lagi.
Surat kabar, buku-buku dan majalah berserak di lantai kamar, sementara dirinya duduk gelisah membolak-balik halaman majalah tanpa minat.
"Arrrrrgh!" erangnya jengkel. Rasa kantuk kembali menyiksanya. "Betul-betul membosankan," gerutunya tak sabar. Ia berusaha untuk menahan kantuknya dengan macam-macam cara dan hasilnya…
Kegaduhan di kamarnya mendatangkan banyak keluhan ke ruang resepsionis.
"Ini sudah tiga orang yang mengeluh kalau kamar di lantai sepuluh berisik," petugas resepsionis mengerang frustrasi.
"Oh, kamar nomor 1034, ya? Dia sudah begitu sejak dua hari lalu. Walaupun sudah diberi peringatan. Tapi dia tak mau dengar!" Seorang front office menimpali pembicaraan resepsionis itu.
"Tapi ini sudah tengah malam!" protes resepsionis satunya lagi.
"Ayo kita langsung ke sana saja!" Si front office mengusulkan.
Lalu salah satu dari petugas resepsionis itu akhirnya bergegas ke kamar Valentin bersama front office tadi.
Mereka mengetuk pintu kamar Valentin dan memanggil-manggil. "Tuan! Tuan!"
Tapi suara berisik dari kamar itu seolah menenggelamkan seluruh tempat. Seperti di diskotek saja, pikir mereka kesal.
Tapi Valentin tidak peduli.
Aku harus menahan rasa kantukku, tekadnya. Kalau tidak, Rafaél akan muncul dan mengambil alih tubuhku lagi. Aku tidak akan membiarkan dia menggunakan tubuh ini seenaknya.
"Bagaimana ini?" Para petugas hotel di luar kamarnya semakin frustrasi.
__ADS_1
"Apa boleh buat," kata si front office. "Kita masuk dengan kunci cadangan."