
Hujan gerimis mengguyur pusat kota Moskow ketika Chéri meninggalkan gedung Tsar Dramy.
Gadis itu berjalan pelan sembari tercenung di bawah payung transparan yang berkilauan diterpa cahaya lampu jalan.
Pembicaraannya dengan Leah Denova telah menorehkan kesan yang mendalam dan membuatnya berpikir banyak mengenai impian yang dikatakan Leah.
Impian terbesar dalam hidupku…
Chéri berusaha menyelidiki hati dan pikirannya, mencoba menemukan impiannya sendiri. Mimpi itu sangat penting untuk memotivasi dirinya. Tapi isi kepala dan perasaannya dipenuhi oleh Rafaél dan… Rafaél.
Memalukan!
Chéri membatin memarahi dirinya sendiri. Yang terus kupikirkan hanya Rafaél.
Tiba-tiba ia curiga bahwa impian terbesarnya bukan balet maupun teater. Tapi Rafaél.
Ini tidak benar! kata sisi dirinya yang kritis, sisi dirinya yang selama ini membantunya lebih kuat dan mandiri.
Apa salahnya? Sisi lain dirinya yang bijak menepis begitu saja pandangan kritis yang membuatnya merasa tak pantas dan seolah bersalah.
Apa yang salah dengan mencintai seseorang?
Itu bukan suatu dosa!
Kau tidak mencintainya, bantah sisi dirinya yang kritis. Kau terobsesi padanya. Dan itu berbahaya!
Sementara itu, sisi dirinya yang rapuh terus meratap.
Apakah impian itu terlalu tinggi?
Kenapa begitu sulit untuk meraihnya?
Apa dia akan kembali dengan selamat?
Meski seandainya dia kembali, apa aku bisa lebih sering disutradarai oleh Rafaél?
Lalu tiba-tiba Chéri membayangkan pria itu memeluknya, memanggil namanya dan berbisik…
"Aku mencintaimu…"
Mencoba meyakinkannya.
"Aku mencintaimu, Chéri!"
Itu hanya angan-angan.
Chéri menggelengkan kepalanya, seolah berusaha membangunkan dirinya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menghalau bayangan tinggi pria itu dari kepalanya.
__ADS_1
Tapi sosok itu terasa nyata dalam penglihatannya.
Sekarang sosok itu berdiri di seberang jalan di bawah rinai hujan yang membuih. Sosok tinggi itu mengenakan long coat tebal warna putih dengan kerah tinggi. Rambut panjangnya yang hitam mengkilat menjuntai selurus penggaris dan memantulkan butiran cahaya yang tercipta dari curah hujan yang diterpa lampu jalan. Terlalu nyata untuk dikatakan sebagai khayalan.
Chéri mengerjap sekali lagi, lalu memicingkan matanya. Tapi berapa kali pun ia mencobanya, sosok tinggi di seberang jalan itu tetap tak mau hilang dari penglihatannya, terbukti bahwa itu bukan halusinasi.
Mungkin seseorang yang mirip dengan Rafaél, katanya dalam hati.
Mungkin juga…
"Rafaél!" Chéri tak bisa menahan diri untuk tidak memanggilnya.
Lalu secara spontan pria itu menoleh pada Chéri dan terkesiap.
Dia memang Rafaél! pekik Chéri dalam hati.
Ini mukjizat!
Tanpa pikir panjang, Chéri segera melambaikan tangannya pada pria itu dan berteriak, "Tunggu! Aku akan menyeberang dulu," katanya seraya bergegas menuju tangga jembatan penyeberangan. Ia menoleh sekilas ke seberang jalan untuk memastikan pria itu masih berada di sana.
Dan, ya. Pria itu masih di sana.
Dia telah kembali!
Tapi…
Secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, pria itu berbalik memunggungi Chéri dan menjauh pergi.
Kumohon, jangan pergi!
Aku baru saja menemukanmu.
"Rafaél!" Chéri spontan berbalik dan menghambur menerobos lalu lalang kendaraan. Payungnya terlempar dari tangannya, yang secara otomatis membuat beberapa pengendara mobil terkejut dan berteriak sembari membunyikan klakson.
Suara ban-ban mobil berdecit ribut disusul suara-suara klakson mobil yang mendengking nyaring.
Rafaél tersentak dan menoleh ke belakang.
Gadis itu menyeberang ke arahnya dengan langkah-langkah lebar tanpa melewati jembatan penyeberangan.
Rafaél menahan napas dan mengatupkan matanya. Lalu mendesah kasar dan menghentikan langkahnya.
Detik berikutnya, gadis itu sudah mencapai trotoar, dan beberapa langkah di depan Rafaél, butiran hujan yang bercampur dengan air mata membanjir di seluruh wajahnya.
Rafaél menelan ludah dan menatapnya dengan sedih. Hatinya serasa teriris. Segala sesuatu di dalam dirinya ingin menyambar tubuh mungil gadis itu dan mendekapnya. Tapi sisi lain dirinya yang tegar berusaha menahan dirinya.
Chéri sekarang menatapnya, matanya berkaca-kaca. Bibir dan dagunya bergetar menahan tangis.
__ADS_1
"Aku sudah membaca artikel itu," kata Rafaél datar, berusaha mengalihkan perasaannya yang berkecamuk. Tapi dia gagal mengendalikan jantungnya yang berdegup kencang.
Chéri menelan ludah dengan susah payah. Menatap Rafaél antara sedih dan penasaran, menyesal dan berharap.
"Padahal aku sudah menyuruhmu pulang ke St Petersburg, padahal sudah kubilang jangan mengejarku, padahal sudah kubilang kau akan berada dalam bahaya kalau kau di sisiku."
Chéri langsung tertunduk, menghindari tatapan tajam Rafaél, berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai merebak.
"Kenapa kau tidak mau mendengarku, Chéri?" Rafaél memelankan suaranya menjadi bisikan lirih.
"Aku bukan marionette yang hanya akan bergerak mengikuti perintahmu," sergah Chéri, mencoba menguatkan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Rafaél. "Semua ini salahmu, Rafaél," desisnya parau. "Gara-gara kau terus-terusan memperlakukanku seperti marionette, aku jadi tak bisa berjalan sendiri seperti semestinya. Aku terus-menerus mengalami kegagalan."
"Aku tak ingin melibatkanmu dalam masalah-masalahku, Chéri!" Rafaél meninggikan suaranya.
"Aku sudah jauh terlibat!" Chéri menaikkan suaranya lebih tinggi lagi.
Rafaél langsung terdiam.
"Aku tak bisa pergi ke St. Petersburg, Rafaél," Chéri mendesis lirih. "Aku tak bisa pergi ke mana pun."
Rafaél menelan ludah dan tertunduk. Menghela napas berat dan mengembuskannya secara perlahan, nyaris tak kentara.
"Aku tak bisa melupakanmu," Chéri merintih, suaranya tercekat di tenggorokan. Lalu meledak menangis. "Aku tak bisa hidup tanpamu, Rafaél! Kenapa kau tidak mengerti?"
"Chéri," Rafaél tergagap dalam kesesakan antara tak sanggup menahan diri dan tak tahan melihat tangisan Chéri.
"Apa pun yang terjadi, aku tidak takut asal kau di sisiku. Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri," Chéri tersengak-sengak di antara isak-tangisnya.
Rafaél mengulurkan tangannya ke arah gadis itu, jantungnya berdegup kencang, rasa perih yang menyenangkan mengetuk seluruh titik sarafnya. Sekarang ia tidak sanggup menahannya lagi. Dorongan kerinduan yang seketika bangkit dari dalam dirinya membuatnya benar-benar tak berdaya. Sekujur tubuhnya bergetar ingin menyentuh gadis itu.
"Izinkan aku berada di sisimu, Rafaél!" pinta Chéri lirih.
Rafaél meraup wajah mungil gadis itu dan merunduk. Mendekatkan wajahnya ke wajah Chéri dengan napas tersengal yang terus diredam.
Chéri mendongak terkejut, tatapannya menghangat seiring napas Rafaél yang menyapu wajahnya.
"Walaupun aku lari dan lari, kau akan tetap mengejarku juga," bisik Rafaél seraya tersenyum sedih. "Sekarang aku tidak bisa lari lagi. Aku tidak akan lari lagi."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka malam itu, Chéri akhirnya tersenyum.
Ia melihat bibir pria itu menuju bibirnya dan memagut mulutnya dengan lembut.
Tubuh keduanya sekarang bergetar di bawah guyuran hujan.
Tapi bukan cuaca dingin yang membuat mereka gemetar. Perasaan hangat telah menyengat keduanya secara bersamaan dan mengikat mereka. Tubuh keduanya tidak merasakan dingin lagi sekarang. Getaran itu datang dari gelegak kerinduan mereka yang lama terpendam.
Chéri melingkarkan tangannya di leher Rafaél.
__ADS_1
Pria itu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Chéri dan merapatkan jarak di antara mereka, sementara tangan lainnya berpindah ke tengkuk Chéri. Bibir keduanya masih bertautan, saling menyapu satu sama lain.
Rasa kebebasan mengetuk setiap ujung saraf keduanya. Lidah mereka bersuka ria.