
Chéri membeku di depan cermin besar dengan perasaan tak menentu, menatap bayangan dirinya dengan keputusasaan yang tak terelakkan.
Semua orang telah keluar dari ruang kostum itu kecuali dirinya.
Bagaimana ini? batinnya gelisah. Bisa-bisanya aku berbicara seperti tadi…
Padahal aku tak yakin drama ini akan berhasil!
Padahal ini drama pertamaku.
Tapi situasinya malah seburuk ini.
Aku takut!
Tak peduli sejauh mana aku berusaha berkonsentrasi…
Sebuah panggung tetap saja tak bisa dikerjakan seorang diri.
Tidak!
Ketakutanku melebihi ini semua.
.
.
.
Selasar gedung MoscovArt Theatre mendadak gaduh.
Hiruk-pikuk kembali terdengar. Tawa riang dan celoteh ringan orang-orang, riuh rendah menghidupkan suasana yang sempat sekarat.
Kyle berdiri di sisi pintu ganda dengan wajah gembira. "Selamat datang! Silahkan pilih kursi yang mana saja!" Ia berseru riang menyambut semua orang yang datang menyerbu tempat itu dalam sekejap.
Kyle memenuhi janjinya!
Ia berhasil mengumpulkan penonton dan hasilnya benar-benar di luar dugaan.
Sesha nyaris jantungan menyadari situasinya. "Kyle! Apa yang terjadi? Penontonnya—"
Kyle menyeringai seraya menunjuk pamflet yang terpasang di depan pintu.
GENEPRO!!! TERBUKA UNTUK UMUM, GRATIS! BAGI YANG BERMINAT SILAHKAN MENONTON!
Anak ini…
Sesha menepuk dahinya dengan wajah frustrasi. "Habislah kita kalau sampai Rafaél tahu," erangnya tak berdaya.
"Yang penting penontonnya banyak!" Kyle berkilah sambil cengengesan.
Dalam hitungan menit, bangku penonton sudah penuh.
Mikail terperangah menyadari situasi itu.
Apa yang terjadi? Pikirnya. Dari mana datangnya para penonton ini?
"Lima menit lagi, stand by!" Pengawas panggung menginstruksikan.
Mikail menghela napas dan menggeleng. Mencoba mengenyampingkan semuanya.
Ada hal yang lebih penting dari itu semua!
.
.
.
Chéri masih mengurung dirinya di kamar rias, menyembunyikan keterasingannya dari… semua ini.
Entah apa yang salah…
Tapi ia tak mampu menghalau perasaan aneh yang menyergapnya, di mana ia merasa sangat terasing dan tak berdaya.
Jawabannya mungkin dapat disimpulkan, takut!
Aku takut!
__ADS_1
Aku tak sanggup melangkah ke panggung!
Sekelebat bayangan sosok tinggi melintas di dalam cermin.
Chéri mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam cermin.
Seseorang dengan kostum Si Buruk Rupa, lengkap dengan topeng dan jubah berbulunya, tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya.
Chéri menatap bayangan itu dengan mata membulat.
Saul?
Pria itu menurunkan topengnya.
Bukan Saul! pekik Chéri dalam hati. Bulu kuduknya seketika meremang. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya berdesir menebarkan perasaan hangat yang langsung menyengat.
"Rafaél?" Chéri berdesis lirih seraya menatap sepasang mata biru pria itu di dalam cermin.
Pria itu balas menatapnya juga melalui bayangan dalam cemin. "Aku memutuskan untuk berperan sebagai Si Buruk Rupa," katanya dengan wajah datarnya yang khas. "Sebetulnya aku tidak mau," ia mengaku. "Tapi, setelah mendengar bahwa kau akan tampil menggantikan Cyzarine yang ketakutan…"
Sesaat perasaan hangat menyelinap di sela-sela hati Chéri.
Rafaél mendekatkan tubuhnya ke punggung Chéri, merapatkan jarak di belakang gadis itu seraya menopangkan sebelah lengannya pada cermin. Ia merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Chéri.
Jantung gadis itu sudah meletup-letup sekarang.
"Chéri… kau memiliki kekuatan yang sangat ajaib," bisik Rafaél. "Bagilah kekuatan itu denganku. Pasti semuanya akan berjalan lancar!"
Chéri tersenyum haru. "Pasti lancar," bisiknya parau.
Kau juga memiliki kekuatan itu, katanya dalam hati.
"Kalau bersamamu… pasti akan berjalan lancar!" Chéri menambahkan.
Rafaél membenamkan mulutnya di pundak Chéri.
.
.
.
"Hei! Dengar tidak? Tadi katanya Rafaél Moscovich akan tampil!" Seru beberapa penonton dengan antusias.
"Tapi, di katalog sama sekali tidak ditulis!" seseorang bergumam ragu.
"Wah! Kita beruntung!" seru yang lainnya terdengar gembira.
.
.
.
"Di mana Rafaél?" Mikail berteriak gusar seraya berlari ke sana kemari.
"Tadi… aku melihatnya di ruang mixer," jawab seseorang seraya tergagap-gagap.
"RAFAÉL!!!" Mikail mencelat secepat kilat.
"Apa yang terjadi?" Yang lainnya bertanya-tanya. "Kenapa tampangnya terlihat mengerikan?"
Rafaél menoleh ke arah tangga.
Mikail menghampirinya tergopoh-gopoh, kemudian menghentikan langkahnya dan membungkuk, memegangi perutnya seraya terengah-engah. "Apa kau… apa kau yakin akan melakukannya?"
"Jangan khawatir, Mikail!" Rafaél memotong perkataannya dengan sikap tenang. "Aku lebih hapal dialognya dibandingkan Saul."
"Masalahnya bukan dialog," sergah Mikail seraya menyentakkan tubuhnya dan meluruskannya. "Tapi—"
Rafaél menelan ludah dan tercenung.
"Aku khawatir hal itu muncul…" Mikail berkata lirih. "Kalau itu sampai terjadi… kau akan hancur."
Rafaél menghela napas berat, kemudian mengembuskannya sekaligus. "Hanya Tuhan yang tahu," katanya datar. "Sudahlah!" Rafaél bergegas menuruni tangga. "Pertunjukan sudah akan dimulai!"
"Hei—" Mikail membeku di tempatnya.
__ADS_1
.
.
.
Tirai panggung telah dibuka!
Seorang narator bertampang sangar melangkah ringan di bawah spot light dan berhenti dalam posisi menyamping.
Ini adalah dunia sihir…
Sebuah tempat di mana setangkai mawar lebih berharga dari nyawa manusia.
Tetes air mata menjadi butiran permata.
Dan…
Seorang pemuda disihir menjadi makhluk yang buruk rupa!
Semuanya terjadi semudah…
Sang narator memutar tubuhnya!
Berdiri menyamping dengan sisi sebaliknya.
Penampilan sang narator berubah menjadi badut!
Para penonton memekik terkesan.
"Aduh… aku benar-benar gugup sampai jantungku berdegup kencang," erang pemain di belakang panggung.
Chéri juga merasakan hal yang sama. Begitu gugup sampai-sampai ia tak sadar telah mengoyak lembaran naskah dan mengunyahnya.
Jangan gugup! Jangan gugup! katanya dalam hati seraya terus mengunyah dan menjejalkan sobekan kertas ke dalam mulutnya, secuil demi secuil.
"Tapi aku suka penampilanku," celoteh narator dari tengah pentas. Sebuah cermin besar sekarang dibuka di belakang panggung, memperlihatkan sisi lain sang narator. Para penonton sekarang bisa melihat kedua sisi sang narator yang berlainan, sementara sang narator tetap berdiri menyamping seraya tertunduk. "Aku tidak tahu yang mana wujud asliku. Karena si Buruk Rupa… tersembunyi dalam diri setiap orang!"
Para pemain babak pertama sudah stand by di belakang panggung, kecuali Chéri.
Sesha mulai gelagapan sembari menoleh ke sana kemari. "Hei! Di mana Chéri?" Ia bertanya pada para pemain yang sudah stand by.
"Ng… dari tadi, dia berada di sana!" Lila menunjuk ke sisi panggung.
Sesha menghambur ke sisi panggung kemudian memekik dengan wajah panik.
Chéri tergeletak di lantai tak jauh dari kaki panggung.
"Chéri! Apa yang terjadi?" Sesha melompat ke arahnya dan meraup tubuh gadis itu seraya mengguncangnya dengan sikap gusar.
Lila melongok bersama pemain lainnya.
"Chéri! Kau kenapa?" Teriak mereka tak kalah gusar.
"Chéri, sadarlah!" Sesha mengguncang tubuhnya lagi.
"Aduuuhhh… tambah kacau saja!" Evaline mengerang frustrasi seraya mengacak-acak rambutnya.
Cyzarine melangkah gontai menghampiri mereka. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," katanya dengan tampang meremehkan. "Dia kan, hanya meniru ritualku supaya tidak gugup!"
"Hah?" Para pemain lainnya terperangah.
"Aduh! Ini kenapa skenarionya robek-robek begini?" Lila menggumam seraya memunguti lembaran skenario dan mengumpulkannya.
Para pemain lainnya menatap heran mengamati lembaran skenario yang tercecer di seputar tubuh Chéri.
Chéri membuka matanya perlahan. "Maaf," katanya. "Aku tadi ketiduran."
Semua orang di sekelilingnya menghela napas lega.
"Aku berusaha mengatasi perasaan gugup dengan berkonsentrasi sambil makan kertas skenario," cerita Chéri seraya menarik duduk tubuhnya. "Aku tertidur sekejap."
Semua orang di sekelilingnya melengak.
"Makan?" tanya Lila tak yakin.
"Tidur?" Tanya pemain yang lainnya nyaris bersamaan.
__ADS_1