
"Entah kenapa rasanya pikiranku menjadi sangat segar," kata Chéri seraya bangkit berdiri dan menggeliat meregangkan tubuhnya. "Rasanya energi dalam tubuh mendadak melimpah ruah."
Semua orang di sekelilingnya masih tercengang menyaksikan tingkah lakunya.
"Sekarang aku siap memainkan peran Si Cantik," kata Chéri bersemangat.
Teman-temannya masih tergagap.
"Sekarang giliran Si Cantik!" Pengawas panggung berteriak. "Cepat!"
"Ok!" Chéri melanting secepat kilat ke arah panggung.
Para pemain lain masih mematung di tempatnya masing-masing—menatap Chéri tanpa berkedip.
Sesha masih membekap mulutnya dengan telapak tangan, sementara mata dan mulutnya membulat memperhatikan punggung gadis itu.
"Anak itu betul-betul aneh," komentar seseorang setengah menggumam. "Tapi sebetulnya dia anak baik, lho!"
"Apa kalian sadar, kadang… aku merasa anak itu seperti bintang?" Sesha berkomentar.
Cyzarine meliriknya dengan kaget. Binatang?
"Kekuatan yang dimilikinya melebihi akal sehat," lanjut Sesha. "Aku tidak tahu bagaimana harus menyebutnya, mungkin… bisa disebut kekuatan jiwa yang segar."
Semua orang menoleh pada Sesha.
"Dengan sorot mata yang tajam seperti binatang, dia meraba dan menemukan tempat yang tepat dengan kecepatan luar biasa." Sesha menambahkan. "Anak itu sangat mengerikan kalau sudah seperti itu. Aku rasa tak ada yang bisa menandinginya!"
Cyzarine menelan ludah. Sesaat, ia membayangkan seekor macan kumbang betina berkepala manusia. Wajah Chéri yang tersenyum sinis dengan tatapan yang berkilat-kilat, melintas dalam benaknya.
Tepuk tangan yang bergemuruh di bangku penonton, menyentakkan mereka.
Para pemain itu sesaat merasa seperti mendapat peringatan.
Serta-merta mereka berpencar dan berhamburan ke sisi panggung, kemudian berjubal berebut celah untuk mengintip bangku penonton.
"Tampaknya setelah Si Cantik muncul, situasi panggung langsung meriah, ya?" Beberapa staf berkata gembira.
"Tolong suruh Rafaél bersiap-siap!" Asisten pengawas panggung berteriak pada tim kreatif.
"Yah! Aku mana berani," keluh anak laki-laki yang berada paling dekat dengan tim pengawas panggung. "Rafaél sekarang sedang mengurung diri di ruang kostum. Mikail berjaga di depan pintu. Dan…" anak itu menggantung kalimatnya, sementara semua orang terus menatapnya menunggu penjelasan. "Pokoknya luar biasa!" tandasnya asal bunyi, tak berhasil menemukan kata yang tepat.
"Apanya?" Asisten pengawas panggung mengernyit tak mengerti.
"Auranya!" jawab anak itu.
"Hah?" Semua orang memelototinya.
"Auranya menyelubungi seluruh tubuh Rafaél!"
Semua orang tidak bereaksi.
"Aku tidak bohong, aku melihatnya dengan mata kepalaku!" Anak itu meyakinkan semua orang.
Tapi siapa yang akan percaya?
Tidak satu pun dari mereka akan percaya kalau tidak melihatnya sendiri!
Kenyataannya, Rafaél sedang menyala di dalam ruang kostum. Ia mengurung dirinya untuk mengendalikan semua itu.
Tidak seorang pun boleh melihatnya dalam keadaan seperti ini. Itu sebabnya Mikail berjaga di depan pintu.
Apa aku bisa melakukannya? Rafaél membatin gelisah.
Tolong beri aku waktu satu setengah jam ini saja…
__ADS_1
Pasti tidak akan muncul!
Kumohon jangan muncul!
"Giliran Si Buruk Rupa!" Pengawas panggung berteriak mengumumkan.
Rafaél menghela napas dalam-dalam dan menahannya di dasar perut, kemudian mengembuskannya dengan perlahan.
"Rafael!" Teriakan pengawas panggung mulai terdengar tidak sabaran.
Rafaél menghela tubuhnya dari bangku dan melangkah ke arah pintu.
Mikail terkesiap ketika pintu di depannya terkuak.
Rafaél melangkah keluar dengan mengenakan topeng.
Semua mata di sekelilingnya serentak memandangnya dengan terbelalak.
Chéri meliriknya dengan mata yang berbinar-binar.
Luar biasa, batinnya takjub. Padahal dia mengenakan topeng dan jubah berbulu.
"Chéri aktingmu di babak pertama benar-benar bagus!" Lila berlanting di sisi Chéri.
"Ah," Chéri terperanjat. "Terima kasih," katanya sedikit gugup.
"Babak 2!" Pengawas panggung mengumumkan.
Rafaél akan tampil, pikir Chéri.
Si Buruk Rupa milik Rafaél…
Aku juga ingin melihatnya!
Chéri menghela napas berat seraya menjatuhkan tubuhnya di kursi di depan meja rias. Kemudian mulai memperbaiki riasannya.
Pertemuan Si Cantik dan Si Buruk Rupa ada di babak tiga, ya…
"Hebat," seseorang memujinya di belakang seraya bertepuk tangan.
Chéri menoleh dan terkesiap.
Cyzarine mendekatinya seraya tersenyum lebar. "Meskipun sudah turun panggung, kalau tidak terus berbicara seperti tokoh yang kita perankan, rasanya seperti bukan pemain teater, ya? Itu sudah cukup, jangan terlalu menor!"
Chéri menatap Cyzarine dengan alis bertautan.
"Lho? Kok, sekarang wajahmu malah jadi angker?" Cyzarine menggodanya.
Chéri masih mengatupkan mulutnya dengan tampang kesal.
"Ya, sudah! Terserah kau saja!" Cyzarine sekarang memutar tubuhnya memunggungi Chéri, kemudian menyusupkan wajahnya ke meja rias di sebelahnya. "Aku memang tidak serius, egois, tidak ada gunanya percaya padaku."
Chéri mengerjap dan mengawasi Cyzarine dengan ekspresi merasa bersalah. "Itu tidak benar," gumamnya kekanak-kanakan.
Cyzarine akhirnya mengangkat wajah dan kembali menghadap Chéri sembari menyeringai.
Chéri memalingkan wajahnya dan tertunduk.
"Ah! Itu bagian belakang rokmu ada yang lepas!" Cyzarine memberitahu.
"Hah?" Chéri spontan meliukkan tubuhnya untuk melihat bagian belakang roknya.
Cyzarine menghampirinya dan membantu Chéri memperbaiki roknya.
"Maaf, merepotkanmu," ujar Chéri.
__ADS_1
"Tidak masalah," jawab Cyzarine. "Bagaimanapun, kau sudah menggantikanku."
Chéri melirik wajah Cyzarine, mempertanyakan ketulusannya.
"Kalau dipikir-pikir… sebetulnya kau tak perlu emosi," kata Cyzarine. "Kalau tahu Rafaél akan main, aku juga—"
"Heh!" Chéri menggeram.
"Hei! Tenang!" Cyzarine menyela sembari tergelak. "Jangan dimasukkan ke hati, dong… aku hanya menggodamu!"
"Chéri, siap-siap untuk babak 3, ya!" Lila memberitahu dari ambang pintu.
"Ok," Chéri menjawab Lila dengan penuh semangat. "Thanks," katanya pada Cyzarine.
"Good luck!" Cyzarine menyemangatinya.
Chéri menghambur ke arah pintu.
"Ah!" Cyzarine menepuk dahinya. Kau membuatku tergesa-gesa. Aku lupa mengencangkannya!
Kalau dia berputar lagi, roknya akan turun lebih banyak dari sebelumnya. Cyzarine membatin geli. Saat dia menginjak tepi roknya dan terjatuh, semua orang akan tertawa terbahak-bahak.
Adegan penting pertemuan Si Cantik dan Si Buruk Rupa bakal berantakan!
.
.
.
Babak 3.
Si Cantik memasuki puri sihir Si Buruk Rupa…
"Halo?" Si Cantik mengedar pandang mengamati sekelilingnya, bergerak-gerak gelisah ke sana-kemari. Berputar-putar dengan sikap gusar.
Ternyata tidak ada siapa-siapa…
Ayah pasti salah lihat!
Katanya ada bintang besar yang mengenakan baju dan bisa berbicara…
Katanya dia sedang menunggu dan ingin memakanku!
Tunggu dulu," Evaline bergumam di belakang panggung. "Rasa-rasanya ada yang salah dengan rok Chéri!" Ia memberitahu Lila dan Sesha.
Kedua gadis itu serentak mengintip.
"Ah! Dia menyeret bagian belakang roknya!" Sesha membekap mulutnya.
Sound effect bergemuruh…
Rafaél mengendap keluar dari balik tirai.
"Ah!" Chéri memekik terkejut seraya melangkah mundur. Tapi tumit sepatunya tersangkut ujung roknya hingga ia terjengkang ke belakang dengan kedua tangan bergerak-gerak gelisah di sisi tubuhnya, mengais-ngais udara kosong.
Tidak! Chéri membatin gusar. Aku akan jatuh!
Rafaél tergagap di balik topengnya, kemudian menerjang ke arah Chéri dan menangkap tubuhnya.
Sesha dan para pemain lain terbelalak ngeri sembari menahan napas.
Pengawas panggung mengernyit ngilu.
Wajah-wajah di bangku penonton mendadak terlihat bingung.
__ADS_1