
Di dalam lift Mikail dan Rafaél masih saling terdiam.
Chéri mengawasi keduanya dengan salah tingkah.
Sungguh mengejutkan, pikir Chéri. Mikail kelihatan jauh lebih gagah, sementara Rafaél kelihatan kekanak-kanakan.
Ternyata benar, kata Chéri dalam hati. Yang namanya manusia memang rumit.
Mikail kemudian berdeham dan melirik Rafaél sembari bersedekap.
Rafaél balas meliriknya dan mendengus, "Baiklah," katanya tak berdaya. "Aku yang akan meminta maaf duluan pada Demian. Itu memang tugas sutradara!"
Oh, jadi bukan tentang aku? Pikir Chéri. Mereka berdua… sedang memikirkan cara untuk berbaikan kembali dengan Demian?
Tenyata Sesha benar, Demian lebih dihormati di sini.
Salah besar kalau aku mengira Rafaél akan membelaku.
"Mungkin sebaiknya tadi aku mengundurkan diri dari peran Si Cantik," kata Chéri. "Dengan begitu… semuanya takkan berakhir seperti tadi."
Kedua pria di sampingnya serentak menoleh dengan mata terbelalak.
Chéri tertunduk.
"Perkataan bodoh macam apa itu?" Rafaél menegurnya.
"Tapi kelihatannya kau juga tidak suka?!" Chéri mengangkat wajahnya, menatap Rafaél. Lalu kembali tertunduk. "Lagi pula… aku tambah tidak mengerti bagaimana memerankan Si Cantik."
Rafaél menelan ludah dan membeku.
Mikail melirik angka digital di dekat pintu. "Sudah sampai," katanya seraya merenggut paksa tangan Chéri dan Rafaél. Begitu pintu lift tersibak, pria itu menghalau keduanya keluar lift.
"Hei—" Rafaél memekik terkejut. Chéri tersungkur di dadanya.
Mikail menyeringai seraya melambaikan tangannya sekilas sebelum pintu lift kembali tertutup. "Menyemangati aktris juga tugas sutradara," gumamnya pada diri sendiri.
Rafaél membeliak sebal seraya mendorong kedua bahu Chéri dan menarik wajahnya menjauh. Kedua bahu gadis itu bergetar di tangannya. Rafaél mengerutkan dahi dan merunduk.
Chéri menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan tersengak-sengak.
Rafaél menarik dagu Chéri dan mengangkat wajahnya.
Wajah gadis itu berurai air mata.
Rafaél melengak. Kenapa dia menangis? Ia bertanya dalam hati.
"Maaf," desis Chéri parau. "Aku—"
"Kau salah," potong Rafaél.
Chéri tergagap.
"Sebetulnya aku menyukai aktingmu," Rafaél mengaku.
Chéri mengerjap, menatap kedua mata Rafaél.
__ADS_1
Rafaél balas menatapnya. "Kau tidak merusak skenarioku," katanya seraya tersenyum sedih. "Hanya saja… aku terikat posisiku di teater ini. Bagaimanapun juga, aku merasa tak enak pada Demian kalau sampai aku memujimu dengan mudahnya. Tapi kalau para pemain lain bisa mengerti interpretasimu, itu artinya Si Cantik-mu punya potensi. Kalau ada pasangan Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang berbeda, bukankah akan lebih menarik?"
"Wuaaaa…" Chéri menyusupkan wajahnya ke dada Rafaél dan menangis sejadi-jadinya.
Rafaél mengerang dan memutar-mutar bola matanya. Kenapa dia malah tambah nangis, sih? Rafaél tak habis pikir. Perempuan memang sulit digambarkan, rutuknya dalam hati. "Ya, sudah! Tidak apa-apa," katanya setengah menggumam. "Menangislah… lagi pula sweater ini sudah tua."
Chéri merenggut kerah sweater Rafaél dengan kedua tangan dan menggelayut di dada pria itu, membenamkan wajahnya semakin dalam.
Rafaél menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mendesah. "Kadang aku lupa… kau baru 18 tahun dan baru ditinggal ayahmu," katanya. "Sekarang kau tinggal di Moskow juga seorang diri."
Chéri makin menangis.
"Baiklah," kata Rafaél seraya mengeluarkan satu tangannya dari saku dan mengangkatnya, mengusap lembut bagian belakang kepala Chéri. "Aku mungkin tak bisa menggantikan ayahmu, tapi… menangislah!"
Angin dingin musim semi berembus dari balkon kamar Rafaél.
Rafaél menyandarkan punggungnya pada dinding. Menatap kosong sepasang pintu logam yang terkatup rapat, tepat di depannya.
Ia masih berada di depan lift!
Dan…
Chéri masih tersuruk di dadanya sambil menangis.
Entah butuh berapa lama untuk gadis itu menguras habis air matanya.
Tapi Rafaél bisa merasakan gadis itu mulai tenang.
Napas gadis itu mulai teratur.
Rafaél melirik ujung koridor, tempat di mana kamar gadis itu berada.
"Beristirahatlah, Chéri!" Rafaél berbisik seraya mengelus punggung gadis itu.
Chéri menarik wajahnya dari dada Rafaél dan mendongak. Sepasang matanya terlihat sembap.
Rafaél membenamkan dahinya di puncak kepala Chéri dan mengusap bagian belakang kepala gadis itu sekali lagi.
...***...
.
.
.
Moskow, 19 Maret 2023.
Satu hari menjelang pementasan…
Gedung MoscovArt Theatre terlihat jauh lebih hidup menjelang akhir musim semi.
Hiruk-pikuk kesibukan… juga hilir-mudik orang-orang yang berseliweran di selasar menjadikan gedung itu terlihat seperti obyek wisata.
Sekelompok remaja berkerumun di dekat pintu masuk, mendiskusikan sesuatu sambil tertawa-tawa. Pada tangan mereka, masing-masing memegang lembaran naskah dan katalog.
__ADS_1
Pada pintu masuk auditorium terpampang prospektus: GLADI RESIK, YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK!
Tak jauh dari pintu auditorium, sederet antrean panjang memadati teras loket.
Gadis berambut kuning, Tania Deanlova, asisten Mikail Volkov, terlihat sibuk melayani pemesanan tiket. Sementara Mikail melayani pemesanan tiket melalui telepon di ruang administrasi.
Para pemain wanita berkeriap di ruang kostum sambil bergosip. Sementara para pemain pria saling melemparkan lelucon di ruangan sebelahnya.
Tim kreatif berseliweran di seluruh tempat dan saling menginstruksikan banyak hal satu sama lain.
Rafaél duduk di bangku penonton mengawasi semua orang didampingi Sesha Montrosecova.
Chéri belum kelihatan batang hidungnya.
Chéri masih berada di sekolah, sementara Kyle memilih izin tidak masuk sekolah. Anak laki-laki itu sudah sibuk sejak dini hari.
"Apa Chéri masih belum pulang juga?" Rafaél bertanya pada Ibrahim yang sedang bertengger di atas tangga lipat—memasang poster, di dekat pintu masuk.
"Aku belum melihatnya," jawab Ibrahim tanpa mengalihkan perhatiannya dari poster yang dibentangkannya di atas kepala.
"Bagaimana, sih?" Rafaél mulai menggerutu. "Katanya dia mau minta izin untuk pulang lebih cepat?"
"Demian juga belum kembali dari makan siang!" Sesha memberitahu.
"Ya, Tuhan…" Rafaél mengerang. "Mereka benar-benar keterlaluan!"
"Tolong beri aku beberapa paku," perintah Ibrahim pada anak laki-laki di bawah tangganya.
Di sebuah pusat kuliner, beberapa kilometer dari MoscovArt Theatre, tak jauh dari sekolah Chéri, dua orang pria duduk berhadapan di dalam Coffee Shop.
Beberapa gadis melirik mereka penuh kekaguman.
Salah satu dari pria itu mengerling ke arah mereka seraya tersenyum tipis.
Gadis-gadis itu berlanting dan berbisik-bisik sambil cekikikan.
Chéri berlari tergopoh-gopoh tak jauh dari tempat itu. Sepatu sekolahnya berdebam di permukaan aspal, menghempaskan debu jalanan dan kerikil halus.
Begitu ia sampai di depan Coffee Shop itu, dua orang pria tadi sudah beranjak dari meja mereka dan berjalan beriringan menuju pintu keluar.
Chéri menghentikan langkahnya sejenak seraya terperangah. Lalu beringsut menyisi dan menenggelamkan dirinya di antara kerumunan orang-orang yang berseliweran.
Wajah kedua pria itu tampak tak asing!
Demian?
Chéri memicingkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Napasnya masih tersengal ketika ia menjulurkan kepalanya dari balik punggung seseorang.
Tidak salah lagi!
Pria itu memang Demian.
Tapi bukan itu yang membuat Chéri memilih untuk menyembunyikan dirinya.
Tapi pria lainnya…
__ADS_1
Pria di sebelah Demian adalah Vladimir Valensky---musuh bebuyutan Rafaél.
Kenapa Demian bisa bersama Vladimir?