Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 43


__ADS_3

Lampu spot light beralih menyoroti pemain di depan layar zanaves.


Chéri terperanjat. Tapi bukan karena lampu spot light yang tiba-tiba berpindah


Rafaél tiba-tiba duduk dan memeluknya dari belakang, sebelah tangan pria itu merayap naik ke dadanya. Sementara mulut pria itu mulai menjelajah di lehernya.


Chéri menelan ludah dengan susah payah. Debar jantungnya serasa meledak. Sengatan rasa panas tiba-tiba menyergap dirinya. Napasnya mendadak terengah-engah.


Apa yang terjadi?


Chéri gemetar ketakutan sekaligus bergairah.


Perasaan bergairah ini terasa lebih mengerikan dibanding perasaan ngeri itu sendiri.


Aku tidak sedang terpesona pada pria ini, kan? Chéri membatin gusar. Tidak, bantahnya cepat-cepat. Aku hanya mengagumi Rafaél. Bagaimana pun juga, tubuh pria ini adalah tubuh Rafaél.


"Bagus sekali aktingmu," bisik Rafaél seraya menjilat telinga Chéri dengan ujung lidahnya. Lalu memagut leher gadis itu. "Ah, seandainya Rafaél tahu betapa bagusnya kau berakting…" pria itu m e n d e s a h pelan seraya m e r e m a s dadanya.


Chéri mengedikkan bahunya dan meronta.


Pria itu makin bersemangat memagut lehernya, sementara kedua tangannya menjalar semakin agresif ke sana kemari.


Semakin keras Chéri memberontak, pria itu semakin bergairah.


"Biar kuberitahu sesuatu yang akan menyenangkanmu," desis pria itu setengah melenguh. Kemudian memagut lehernya lagi, dan melepaskannya lagi. "Kenyataan menyakitkan namun sangat indah," katanya seraya memutar wajah Chéri dan memagut mulutnya.


Chéri menyentakkan wajahnya untuk melepaskan diri.


Pria itu menyeringai. "Hanya aku yang tahu isi hati Rafaél," bisiknya. "Rafaél jatuh cinta padamu!"


Jatuh cinta?


Chéri menelan ludah.


Benarkah?


Apakah Rafaél bisa mendengar pembicaraan ini?


Apa dia melihatnya?


"Menurutku, bakatmulah yang membuatnya terpesona!" Pria itu menambahkan. Kemudian menindihnya.


"Pembohong," pekik Chéri setengah tercekat. "Aku tidak percaya padamu."


"Ya sudah, tak apa-apa!" Sergah pria itu tanpa beban. "Lagi pula dia juga bodoh. Tidak menyadari perasaannya sendiri," katanya seraya merebahkan tubuh Chéri dengan paksa.


Apa sebenarnya yang ingin dia lakukan? Chéri membatin ngeri. Dia tidak berpikir untuk melakukannya di sini, kan?


Pria itu memagut puncak dada gadis itu dengan rakus sementara tangannya meremas pangkalnya.


"Lepaskan—" Chéri menggeram tertahan sembari memberontak dan mendorongnya.


"Patuhlah, kecuali jika kau berharap semua penonton melihat ini," katanya seraya mengetatkan cengkeramannya di dada Chéri.


Apakah Rafaél melihat semua ini?


Jika mereka benar-benar sudah bertukar tempat…


Meski Rafaél bisa melihat dan mendengar…


Dia tak bisa berbuat banyak!


Walau apa pun yang terjadi di depan matanya, dia tak bisa melakukan apa-apa, persis seperti Bayangan Si Cantik!


Kini dia terkurung seperti aku tadi!


Benar…

__ADS_1


Awalnya dia berdiri di tempat terang dan kepribadian lain berada di tempat yang gelap.


Tapi sekarang…


Ah, begitu ya?


Skenario Si Cantik dan Si Buruk Rupa yang ditulis ulang adalah cerita tentang Rafaél dan kepribadiannya yang lain.


Mungkin hal yang ingin disampaikannya waktu itu, tersembunyi di dalam skenario barunya.


Betul!


Pasti begitu.


Pasti ada sesuatu dalam skenario itu.


Pria di atasnya mendadak terdiam. Kenapa tidak mau melawan? Ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Chéri terkulai lemas dengan tatapan kosong.


Rafaél memicingkan matanya dan menelan ludah.


Apa yang terjadi? Pria itu membatin gelisah. Tapi ekspresi fokus gadis itu membuatnya mengerang kehilangan gairah. "Membosankan sekali," dengusnya. Kemudian melepaskan gadis itu.


Chéri tiba-tiba menyeringai.


Pria itu paling benci seseorang menyeringai kepadanya. "Apa kau sudah sinting?"


Chéri menarik duduk tubuhnya dan menatap ke dalam mata pria itu. "Biar kuberitahu sesuatu yang menyakitkan namun indah," katanya tajam. "Sesuatu tidak akan selamanya berjalan lancar seperti yang kau inginkan."


Pria itu menautkan alisnya seraya mengetatkan rahang.


"Kau saja yang tidak tahu!" Chéri menambahkan.


Pria itu menelan ludah sekarang. Kilat kekhawatiran berkelebat di bola matanya.


Pria itu melepaskan topengnya dan mencampakkannya.


Senyum gadis itu seketika lenyap.


"Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?" Pria itu bertanya dengan raut wajah serius. Tidak cengengesan seperti biasanya. Sepasang matanya tampak terfokus penuh waspada.


Gawat, pikir Chéri. Aku telah membuatnya menjadi waspada!


"Aku tidak mau lagi bermain sandiwara," kata pria itu seraya menarik tubuhnya berdiri. Lalu membungkuk mengulurkan tangannya pada Chéri. "Ayo! Saatnya menyerahkan dirimu dengan patuh!"


Chéri menelan ludah dan tergagap. "Tapi kau sudah berjanji—"


"Janji?" Pria itu mengulangi pertanyaan Chéri dengan raut wajah tenang.


Chéri terkesiap.


Entah kenapa tiba-tiba saja dia terlihat berbeda, pikir Chéri.


Pria itu merenggut pergelangan tangan Chéri dan menariknya.


"Kau sudah berjanji akan memerankan Si Buruk Rupa sampai selesai," sanggah Chéri dengan aksen anak-anaknya yang khas, keluar begitu saja secara naluriah.


Pria itu menatap ke dalam matanya, tampak dingin dan setenang batu karang. Lebih tenang dari Rafaél yang asli.


"Laki-laki sejati akan menepati janjinya!" Chéri mendesaknya.


Pria itu tetap tenang dan bertahan dengan posisinya yang masih membungkuk. "Kau juga sama saja, kan? Bukankah yang kau pikirkan hanyalah bagaimana caranya melarikan diri dariku?"


Chéri menyentakkan tangannya dari genggaman pria itu.


Tapi tindakan itu seolah memberikan pria itu kesempatan untuk menarik Chéri ke dalam dekapannya. Lalu tiba-tiba pria itu sudah menggendongnya.

__ADS_1


"Tidak! Turunkan aku!" Chéri memekik dan memberontak.


Mikail tersentak dan melongok dari belakang panggung. Diikuti oleh Sesha.


"Chéri! Rafaél! Kenapa kalian meninggalkan panggung?" Para staf tata panggung memprotes mereka.


"Chéri sakit!" Rafaél menjawab sekenanya.


"Pembohong!" Sergah Chéri. "Cepat! Turunkan aku!"


Mikail menghadang Rafaél dan menahannya. "Berikan Chéri padaku," pintanya setengah membujuk.


"Dia sudah berjanji akan menjadi milikku," sergah Rafaél seraya memutar tubuhnya menghindarkan Chéri dari jangkauan Mikail.


"Tidak! Lepaskan aku!" Chéri menjerit seraya meronta-ronta. "Mikail! Tolong aku!"


Semua orang terperangah kebingungan menyaksikan mereka.


"Hei—apa-apan ini?" Cyzarine menghardik mereka dari balik tirai. "Pertunjukan sedang berlangsung, kenapa kalian begitu ribut? Nanti bisa kedengaran sampai ke bangku penonton!"


"Kau juga berisik!" Rafaél balas menghardiknya.


"Rafaél—" pengawas panggung berusaha menahannya. "Kembali ke panggung sekarang!" Perintahnya.


BUK!


Rafaél melayangkan sebelah kakinya pada pria itu.


Pengawas panggung terjengkang ke belakang dan menabrak Cyzarine.


BRUK!


Keduanya jatuh terduduk sembari memekik.


Para staf dan para pemain berteriak panik seraya meraup mereka nyaris bersamaan.


"Keterlaluan!" Pengawas panggung berteriak marah. "Selama dua tahun ini aku tetap sabar menghadapi kesewenanganmu! Tapi kesabaranku juga ada batasnya. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi!"


"Ah! Memang itu yang kuharapkan!" Rafaél menghentikan langkahnya, kemudian menoleh. "Lagi pula aku tak suka dengan kumis kecilmu itu!"


"Hei—" Chéri memekik seraya mencengkeram kerah baju Rafaél.


Mikail mengulurkan kedua tangannya ke arah Rafaél. "Sudahlah! Berikan saja Chéri padaku!"


Chéri balas mengulurkan kedua tangannya pada Mikail.


Tapi dengan cepat Rafaél menepiskannya. "Kau sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenaran tentang diriku, kan?" Pria itu berbisik di telinga Chéri. "Karena jika tidak, kau takkan pernah bisa menolong Rafaél!"


Seketika Chéri langsung melemas. Benar, katanya dalam hati. Kalau aku tidak tahu apa-apa tentang pria ini, selamanya aku takkan pernah mendapatkan petunjuk untuk menolong Rafaél!


"Dia akan pergi denganku," kata Rafaél pada Mikail.


Mikail menatap pada Chéri dengan isyarat memohon.


Chéri mendesah pendek dan menyusupkan wajahnya ke dada Rafaél, pura-pura tak berdaya.


Aku sudah tak sabar untuk segera memecahkan masalah ini, katanya dalam hati.


"Tolong panggilkan pemain cadangan Si Buruk Rupa," pinta Chéri pada Mikail. "Dan… karena kondisiku tak cukup baik…" ia memalingkan wajahnya ke arah Cyzarine dengan gerakan lemas yang dibuat-buat. "Cyzarine, untuk adegan yang tersisa… bertahanlah tanpaku," katanya lirih.


Cyzarine menelan ludah dan menatap Rafaél.


Tapi pria itu hanya meliriknya sepintas, kemudian menyeringai pada Mikail sembari berlalu.


Sekarang Cyzarine mengalihkan perhatiannya pada Mikail.


Pria itu balas menatapnya. "Kau sudah dengar kan, masalah Rafaél itu?"

__ADS_1


__ADS_2