Kilau Bintang Di Moskow

Kilau Bintang Di Moskow
Глава 78


__ADS_3

"Tolong jangan permainkan kami semua," Chéri mengedikkan bahunya, mencoba menepiskan tangan Valentin. "Kumohon, berhentilah merusak Joan!"


Valentin menahan tangannya sebelum menutup kepala gadis itu dengan kain. "Aku seratus persen serius dengan drama ini," katanya datar. "Juga dengan dirimu!"


Chéri menelan ludah. Entah kenapa jantungnya mendadak berdebar-debar.


"Kau akan jadi milikku, Chéri." Pria itu berbisik lembut. Tatapannya juga melembut. "Lewat drama ini, akan kubuktikan padamu, kalau aku bisa lebih unggul dari Rafaél!" Ia menandaskan. Lalu menutup kepala Chéri.


Chéri memekik tertahan. "Hei—apa sebenarnya yang ingin kau lakukan? Lepaskan aku!"


Pria itu sekarang menggendongnya ke depan panggung. "Hei—kalian!" teriaknya pada beberapa anak laki-laki yang tidak kebagian peran yang sedang berkerumun menonton latihan di sisi panggung. "Bantu aku!"


Anak-anak itu bergegas menghampirinya.


"Angkat Joan ke tengah-tengah panggung!" perintahnya. "Tetap seperti itu sampai kuberi aba-aba."


"Apa sih yang ingin dia lakukan?" Vladimir menggeram tak sabar.


Valentin kembali ke kursinya dan menginstruksikan melalui pengeras suara. "Lampu fade in!"


Vladimir mendelik mencemooh.


"Gerombolan domba putih tergeletak, tak terhitung jumlahnya…" Valentin menambahkan narasi.


Para penonton menahan napas.


Suasana panggung berubah misterius.


"Narasi!" Valentin menginstruksikan.


"Keputusan pengadilan!" Narator kembali mengambil alih audio. "Perempuan yang memberikan hatinya kepada iblis… akan diberi hukuman mati!"


"Angkat Joan!" Valentin menyela.


Empat anak laki-laki yang menggotong Chéri mengikuti instruksinya.


"Dari gerombolan domba-domba putih itu," Valentin mengambil alih narasi. "Hanya satu yang terpilih… Domba kecil berwarna hitam."


Vladimir terkesiap.


Para penonton terperangah.


"Lempar Joan keluar!" perintah Valentin.


Chéri terlempar dan menggelinding ke tengah-tengah panggung. Lalu menarik duduk tubuhnya membelakangi panggung.


"Hanya satu gadis yang dipilih Tuhan…" Valentin menambahkan narasi lagi. "Joan d'Arc!"


Chéri menoleh ke belakang, memperlihatkan wajahnya ke bangku penonton.


Kenapa dia bisa menyutradarai sebagus ini? batinnya terkejut. Lalu melirik ke bangku Valentin.


Pria itu balas menatapnya dengan ekspresi tenang. Jauh lebih tenang dibanding Rafaél yang asli.


Dia… Chéri tergagap dalam ketakjuban.


Seisi ruangan menahan napas dan terpana.


Vladimir menelan ludah dengan susah payah.


"Semua domba putih berdiri dan melepaskan kain!" perintah Valentin.

__ADS_1


Panggung berubah gemerlap tanpa bantuan pencahayaan.


"Dari sini, langsung pindah ke adegan kedua. Saat pangeran Charles menerima Joan!" Valentin menambahkan. "Di balik kulit domba putih, semuanya adalah bangsawan yang berpakaian mewah."


"Hebat," pekik seseorang di bangku penonton.


"Luar biasa!" Komentar beberapa orang.


Vladimir spontan memucat. Orang bodoh ini… ternyata…


.


.


.


"Latihan hari ini selesai!" Valentin mengumumkan.


Semua orang terlihat lelah dan puas. Hari pertama latihan berjalan diluar dugaan.


Beberapa anggota dari kedua grup sudah mulai terlihat akrab.


Chéri mengemasi barang-barangnya dan bersiap meninggalkan gedung.


Di luar sedang turun hujan.


Beberapa anak dari kedua grup bergerombol di teras.


Chéri melewati mereka dan menoleh ke sana kemari untuk mencari Mikail.


Sesha bersama beberapa gadis dari MoscovArt Theatre berkerumun di dekat pilar.


"Sesha!" Chéri memanggilnya. "Apa kau lihat Mikail?"


"Dia pasti sedang sibuk mengurus persiapan pementasan," gadis pemeran kucing berkomentar di samping Sesha.


"Besok kan masih bisa bertemu lagi," Sesha menimpali.


Chéri mendesah pendek.


Sebuah taksi berhenti tak jauh dari mereka. Seseorang menurunkan kaca jendela di jok penumpang. "Chéri!" Wajah tampan Rafaél muncul di jendela. "Ayo pulang sama-sama!" ajaknya.


Chéri langsung mendengus. "Are you kidding me?"


"Ini sedang hujan, Chéri!" Valentin menggeram.


"Ikutlah, Chéri!" Sesha menyarankan. "Bagaimanapun kalian searah. Kalian kan tinggal serumah!"


"Tidak apa-apa," sergah Chéri. "Aku tunggu Mikail saja. Dia sudah janji akan menjemputku."


"Beristirahatlah, Chéri!" Sesha membujuknya. "Kau pemeran utama."


"Chéri! Jangan jual mahal! Cepat naik!" Valentin menghardiknya.


Chéri menelan ludah dan mengetatkan rahangnya. Lalu membuka pintu taksi itu sembari menggeram. Lalu menyelinap masuk sembari menggerutu.


Valentin meliriknya sembari tersenyum nakal.


Mendekati area apartemen, Chéri mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tolong turunkan aku di Izmaylovskiy park," kata Chéri pada supir taksi itu.


"Aku juga!" Valentin menimpali.

__ADS_1


Chéri spontan memelototinya.


"Aku Rafaél Moscovich," sergah Valentin. "Sudah sewajarnya aku pulang ke kamarku sendiri."


Keparat ini… Chéri mengerang dalam hatinya.


"Mulai malam ini, kita akan terus sekamar!" Valentin menambahkan.


Chéri mendesah tak berdaya.


Pria itu benar-benar pulang ke apartemen. "Kau benar-benar telah merawat apartemenku dengan baik," cerocosnya dengan ekspresi wajah tak berdosa. "Aku bosan tinggal di hotel, pelayannya terlalu perhatian dan sangat cerewet," katanya sembari bergegas ke kamar Rafaél.


Chéri mengikutinya, khawatir pria itu mengacaukan kamar Rafaél.


Dan benar saja.


Valentin mulai mempreteli semua kertas yang menempel di dinding, melucuti tirai di jendela dan menepiskan tumpukan naskah dan buku-buku dari meja tulis Rafaél.


"Apa yang kau lakukan?" Chéri memekik frustrasi. Dia seperti anak kecil nakal yang kurang perhatian, batinnya prihatin.


"Ini tidak sesuai seleraku," protes Valentin. "Ini selera Rafaél!"


"Ini kamar Rafaél!" Chéri menghardik pria itu. Lalu mulai memunguti barang-barang yang berserakan di lantai. "Jangan sembarangan memberantakkan barang-barangnya."


"Ya, sudah!" Valentin berhenti dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau begitu aku tidur di kamarmu saja," katanya tanpa beban. "Dengan begitu, saat aku tidur, mungkin kau bisa bertemu dengan Rafaél. Aku tidak keberatan sama sekali berkencan denganmu. Habis sesama anak-anak kita tidak bisa melakukan apa-apa."


Chéri menggeram jengkel dan melempar bantal ke wajah Valentin. "Kau sudah bukan anak kecil lagi, Valentin!"


"Aku tahu, kok!' Valentin menggembungkan pipinya dengan ekspresi anak berumur lima belas tahun.


Chéri akhirnya mulai mengerti kenapa Valentin terkadang terlihat bodoh. Valentin masih merasa dirinya anak laki-laki berusia lima belas tahun. Gaya bicaranya hampir mirip dengan Kyle ketika mereka baru bertemu.


Kyle berubah setelah bergabung di MoscovArt Theatre dan terlibat dalam kesibukan. Anak itu tidak punya waktu lagi untuk mengusili Chéri sejak menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan.


Barangkali hal itu juga bisa berguna untuk Valentin.


"Walaupun masih muda… Rafaél bermaksud menjadi pengganti ayahmu," tutur Valentin dengan raut wajah prihatin.


Seketika Chéri merasa ulu hatinya seperti tertikam benda tumpul.


Seperti itukah perasaan Rafaél selama ini?


Hanya sebatas itu?


"Itulah sebabnya kau juga merasa nyaman, kan?" Valentin melirik ke arah Chéri.


Chéri tertegun sesaat. Tapi lalu memalingkan wajahnya dan membungkuk, memunguti barang-barang lainnya. Hatinya mendadak terasa perih.


"Dengan kata lain, hubungan kalian berdua bukan hubungan kekasih," Valentin mencemooh. "Tapi hubungan ayah dan anak yang palsu."


"Tutup mulutmu!" Chéri menghardiknya. Dasar anak kecil, gerutunya dalam hati.


"Buktinya, meskipun tinggal serumah, Rafaél tidak pernah sekali pun menyentuhmu!" ejek Valentin.


"Waktu itu kami belum—" Chéri tiba-tiba tidak melanjutkan perkataannya. Kenapa aku harus meladeninya? pikirnya menyesal.


"Waktu itu Rafaél belum merasa ingin memilikimu," Valentin melanjutkan kata-kata Chéri. "Dia bahkan belum menyukaimu! Apa aku benar?"


Chéri serentak membeku.


"Bahkan kabarnya, dia pembenci perempuan." Valentin menambahkan. "Makanya Mikail tenang-tenang saja sewaktu pertama kalian tinggal bersama."

__ADS_1


Jadi begitu, ya? pikir Chéri patah hati.


__ADS_2