
Pada pagi ini, aku bersiap-siap berangkat bekerja di cafe. Rasa malas selalu saja menghampiriku sehingga engngan pergi bekerja.
"Malas sekali hari ini. Tapi, kalau tidak pergi aku pasti di pecat," ucapku dengan lirih.
"Hayuk! Aku juga!" teriak seseorang yang sangat familiar sekali di telingaku.
Aku pun langsung menoleh kemudian mengembuskan nafas dalam-dalam.
"Fiia, kumohon jangan hari ini," mohonku pada kakak yang sangat aku sayangi. Walaupun selalu memangilnya dengan sebutan nama saja.
Aku lihat kakak mendekat dan menoyor kepalaku dengan sangat kuat, sehingga aku pun terjatuh dari atas ranjang karena dorongan kuatnya.
"Aaahhhkkk!" jeritku karena lututku berkenalan dengan lantai.
"Itu karmamu! Sopanlah pada kakakmu ini," kekehnya sambil menatap wajahku yang masam seperti jeruk purut.
"Dasar! Peyot," gumam ku dengan kesal, dan aku bangun lalu mendekatinya.
"Hei, kemarin paman itu menayangkan kabarmu," kekehnya sambil memperlihatkan sebuah video dari ponsel.
Aku membuka mata lebar-lebar, saat melihat seorang Polisi paru baya yang menanyakan kabarku.
"Hapus sekarang juga!" jeritku sambil mengejarnya yang terus berlari sampai luar.
Saat aku mengajarnya tidak sengaja kakiku menabrak meja lalu terjauh, dan langsung bangun.
"Cik, awas aku akan membalasmu!" teriakku sambil menatap kepergiannya yang menyebalkan.
"Balas saja!" teriaknya dari kejauhan, dan aku masih dapat jelas mendengarkan ucapnya sehingga aku bergegas berlari ke luar.
Entahlah, sepertinya hari ini aku kalah lagi darinya karena sesampainya di luar kakakku yang menyebalkan itu sudah tidak ada lagi.
"Dasar menyebalkan! Aku sumpahin kamu sial hari ini," ucapku tanpa sadar sudah berkata seperti itu. Ya, walaupun sangat senang melihatnya sial.
Aku pun berjalan dengan perlahan menuju tempatku bekerja, karena jarak dari rumah hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.
Saat aku tengah berjalan sambil bernyanyi, mataku tidak sengaja melihat seorang Polisi yang sangat aku kenali sedang mengejar seseorang. Yang terlihat jelas itu adalah maling.
"Wah, ini tidak bisa di biarkan aku harus menolong Polisi itu. Walaupun aku tidak menyukainya," ucapku sambil terus menatap ke arah Polisi yang sedang mengejar maling. Tapi, bukan maling kundang. Ya, eh maksudnya malin kundang.
"Hei! Berhenti!" teriakku, dan sang maling berhenti kemudian menatap ke arahku dengan sangat seram.
Polisi itu menatap ke arahku juga, kemudian aku melambaikan tangan agar dia mendekat dan menangkap penjahat itu. Karena sang maling terdiam menatap wajah imutku.
__ADS_1
"Dasar anak bau kencur! Jangan ikut campur!" serunya, sontak membuatku langsung tertawa kecil.
"Jangan panggil aku anak kecil, Paman!" teriakku, karena keberanian itu datang saat Pak Polisi sudah ada tepat di belakangnya.
"Jangan bergerak!" Polisi itu langsung memborgol tangan sang maling, kemudian aku berlari mendekati mereka karena ingin menjitak kepala penjahat itu.
Plak!
Aku menjitak kepala sang maling di hadapan Pak Polisi tanpa rasa takut, karena sudah mengenalnya lumayan lama.
"Terimakasih, atas kerjasamanya kamu ikut saya," ujar Pak Polisi itu padaku.
Entahlah, rasa tidak nyaman menghampiriku karena merasa jika Polisi itu mencoba mendekatiku akhir-akhir ini.
"Tapi, saya mau bekerja Pak," tolak ku dengan halus karena takut dia tersinggung dan langsung memborgol lenganku. Karena itulah yang ada di dalam isi kepalaku saat ini.
"Tempat kamu kerja, itu adalah milik saya," sahut Pak Polisi, membuat aku sangat terkejut.
Bagaimana bisa aku sudah satu tahun bekerja di sana. Namun, tidak tahu siapa pemilik cafe itu.
"Baik Pak saya ikut ke KUA eh, maksudnya ke kantor Polisi," ucapku cepat sambil menutup mulut, karena sudah berkata yang bukan-bukan.
Aku merasa sangat malu saat ini karena Polisi itu tertawa melihat tingkahku, sedangkan sang maling menatap tajam ke arahku.
Aku pun mengikuti langkahnya masuk ke dalam mobil Polisi yang baru saja sampai di hadapan kami.
Tiga puluh menit kemudian ...
Setelah semuanya selesai, aku pun berpamitan pergi ke cafe tempatku bekerja takut terkana hukuman karena sudah datang terlambat.
"Saya bisa minta nomor kamu?" tanya Pak Polisi itu sambil memberikan ponselnya.
"Bisa Pak." Aku langsung menuliskan nomorku di ponselnya dengan rasa tidak nyaman.
Karena aku takut dia menyukaiku, lalu istrinya akan mengira jika aku adalah seorang pelakor. Ya, begitulah yang ada di dalam pikiranku saat ini, terlalu berlebihan bukan.
"Terimakasih, apa perlu saya antar?" tawarnya membuatku bergidik ngeri, saat membayangkan kami tengah berdua, dan di grebek oleh istrinya.
"Citra," panggilnya membuatku sadar dari lamunan.
"Tidak usah, saya bisa sendiri Pak," tolakku dengan halus takut dia akan tersinggung atau apapun itu.
"Baiklah, hati-hati di jalan dan sampai bertemu kembali," pesannya padaku.
__ADS_1
"Terimakasih." Aku bergegas pergi dari sana sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi, karena Pak Polisi itu sangat membuatku tidak nyaman.
Setelah aku sampai di cafe, langsung bergegas masuk ke dalam ruangan karyawan untuk berganti baju.
Aku melihat kakakku ada di sana dengan wajah pucat. Merasa sangat kasihan aku pun menghampirinya.
"Peyot, kamu baik-baik saja?" tanyaku dengan sedikit cemas, walaupun dia jahat padaku tetap saja rasa cemas itu lewat sedikit di pikiran ku.
"Sok baik!" jawabnya dengan ketus.
Kalau saja dia tidak sakit, mungkin aku sudah menoyor kepalanya karena sudah ketus pada adiknya yang lucu dan baik hati ini.
"Ini karma untukmu, eh maksudnya ini adalah ujian dari Allah." Aku berucap dengan hati-hati takut menyakiti hatinya. Ya, walaupun lebih tepatnya aku senang menyakiti perasaan dia.
"Jangan ngomong doang, buktikan!" serunya.
Inginku lemparkan ponselku ke wajahnya, karena dia sudah sakit masih saja ketus padaku. Namun, aku ragu-ragu karena ponsel ini masih keredit.
"Pulanglah, hari ini aku masuk dua shift," ucapku dengan sangat keterpaksaan yang mendalam.
Aku lihat kak Fiia langsung bangun dan memeluk tubuhku dengan sangat kuat, sehingga aku merasa seperti kehabisan nafas.
"Menyingkir!" teriakku sambil mendorong tubuhnya menjauh.
"Entar kakak izin dulu," ucapannya yang bergegas pergi dari hadapanku.
Aku melihat kakakku itu seperti tidak sakit, dan dia hanya berpura-pura saja pikirku.
"Aku menyesal, pasti dia hanya bohong!" teriakku sambil menatap ke arah pintu.
Aku mengatur nafas karena hari ini akan bekerja dari jam 09:00 sampai pukul 22: 00 yang artinya, bekerja selama tiga belas jam. Ya, walaupun uang kerja Kak Fiia untukku juga nantinya.
Aku mulai mengerjakan tugas mencuci piring di dapur, karena memang itu tugas ku dan ada seseorang wanita seksi berkulit putih mendekatiku.
"Tante, akhirnya kita bisa satu shift. Ya!" jeritnya dengan sangat manja.
Aku mengambil centong dan melemparkan ke arahnya, dan dia mengelak sehingga centong itu mendarat tepat di kepala seseorang.
"Aaahhhkkk!" jerit seseorang itu dari sebalik tubuh Flo.
"Ya ampun!" Aku langsung menutup mulut menggunakan kedua tangan.
Bersambung.
__ADS_1