
Yogi merasa heran, karena sejak kepergiannya ke luar kota. Citra sulit untuk dihubungi, tidak seperti biasanya.
Hari ini, pria itu menghubungi sang kekasih. Namun, sama masih tidak bisa juga bahkan sejak pagi tadi.
"Mungkin Citra sibuk, karena dia mengerjakan tugas ku," gumam Yogi sambil terus mengerjakan tugasnya.
Pria itu melihat pesan dari Eril, karena sang sepupu jarang mengirimkan pesan, bila ada hal yang penting maka baru mengirimkan pesan.
Eril: Cepatlah pulang, karena kekasih ku sudah memiliki bayi.
Bak di sambar petir disiang bolong, Yogi langsung mengingat beberapa hari lalu. Saat dia menelepon Citra dan ada suara bayi.
"Apakah yang diucapkan Eril ada benarnya? Atau, dia hanya ingin membuat hubungan ku dan Citra hancur?" Yogi bertanya-tanya.
Sebab, dia bingung harus mempercayai Eril atau hatinya. Sebab, hati tidak pernah berbohong.
"Tidak apa, karena aku hanya lima hari lagi di sini," ucap Yogi dengan tenang.
Pria itu kembali mengerjakan tugasnya, karena dia ingin segera kembali ke kotanya dan bertemu Citra, memastikan bahwa semua ucapan Eril salah.
__ADS_1
. . .
Eril tertawa puas karena dia sudah membuat Yogi panas, dan Elisa melihat hal itu langsung menghampiri sang kakak.
"Kak Eril, sebaiknya lupakan saja kak Citra, karena dia bukan jodoh kakak. Mungkin, ada wanita yang akan menjadi milik kakak, lebih dari gadis itu," ucap Elisa dengan lembut.
Gadis kecil itu tahu, karena Citra terlihat bahagia saat bersama Yogi, walaupun dia tidak terlalu mengenal gadis itu.
"Euum, seperti itu? Apakah, gadis yang kamu bicarakan adalah kamu?" jawab Eril dengan pertanyaan.
Elisa langsung tersenyum dan berlari dari sana, Eril pun mengejarnya kemudian berhasil menangkap gadis itu.
"Kak Eril, lepaskan Elisa!" teriak Elisa dengan keras.
Sehingga gadis itu langsung memberontak, dan terlepas dari pelukan Eril.
"Elisa!" teriak Eril, karena permainannya belum usai.
"Ayo kejar!" teriak Elisa.
__ADS_1
Gadis itu berlari masuk ke dalam kamar, dan Eril juga mengejarnya. Namun, sayang sekali Elisa langsung mengunci pintu.
"Elisa, buka!" teriak Eril sambil menggedor-gedor pintu kamar.
Elisa bernafas lega, karena tadi hampir saja dia melewati batas dengan Eril. Padahal, ia benar-benar sudah menganggap pria itu sebagai kakaknya.
"Tuhan, apakah aku harus pergi dari sini? Sebab, kak Eril sangat berbahaya sekarang, dia sama sekali tidak menjaga ku, melainkan ingin memiliki ku," ucap Elisa lirih.
Gadis kecil itu tetap bertahan, karena dia tidak memiliki siapapun sejak ibunya meninggal dunia, dan ia juga hampir menjadi korban pelecehan ayah tirinya.
. . .
Citra membawa sang anak ke dalam kamar, dan meletakkannya di box bayi karena Amar tengah tertidur pulas. Gadis itu juga tertidur sambil menunggu waktu malam.
Setelah malam, Citra bangun dan bergegas untuk shalat Maghrib karena adzan berkumandang.
Bayi kecil itu bangun. Namun, dia diam saja karena bayi juga tahu saat adzan tidak boleh bersuara atau menangis.
"Ya Allah, anak ini sangat baik, saat adzan saja dia tidak menangis atau bersuara sedikitpun," ucap Citra sambil melepas mukena yang dikenakan.
__ADS_1
Gadis itu langsung menghampiri sang anak, dan memberikan susu pada pria kecil itu. Citra menggendong dan ke luar kamar karena dia sangat lapar ingin makan.
BERSAMBUNG.