
Yogi baru saja tiba di rumahnya, dan dia menidurkan tubuh karena lelah sehabis perjalanan jauh tadi.
Tiba-tiba saja, dia mengingat Citra dan berniat akan melamar gadis itu besok. Di hadapan semua orang, walaupun dia tahu akan di tolok. Namun, tidak ada salahnya bukan jika mencoba.
"Apapun ceritanya, aku akan tetap melamar Citra besok di cafe," ucap Yogi dengan bersungguh-sungguh.
Pria itu mengirimkan pesan pada seseorang untuk menyiapkan semuanya besok, dan juga akan memberikan kejutan untuk sang pujaan hati.
Yogi: Besok siapkan buket mawar merah, dan coklat juga yang aku katanya kemarin padamu, ya!
Pria sangat gembira dan tidak sabar menunggu hari esok, karena dia akan memutuskan. Kalau Citra masih juga menolaknya maka dia akan berhenti memperjuangkan cintanya.
Sebab, seringkali berjuang. Namun, tidak pernah mendapatkan balasan, yang dia dapatkan hanya penolakan terus-menerus.
Saat tengah memikirkan hari esok, Yogi terkejut saat melihat adanya Eril di hadapan duduk santai.
"Hei! Jangan coba-coba, kau mendekati pacarku!" sentak Eril.
Yogi bangun, dan tersenyum simpul. Kemudian mendekati Eril dan memegang pundak pria itu.
"Apa buktinya, kalau kalian masih berpacaran?" tanya Yogi.
__ADS_1
Eril tersenyum dan menghempaskan tangan Yogi dari pundaknya dengan kasar, membuat pria itu tertawa.
"Kau lihat saja! Aku akan membuktikannya!" teriak Eril dengan geram.
Yogi tersenyum, karena Eril masih saja tidak mau mengaku kalah darinya yang lebih unggul, walaupun hanya satu poin saja.
"Ck, kau lihat besok! Aku akan melamarnya di cafe!" jawab Yogi yang tak kalah lantang dari Eril.
"Buktikan!" Eril bergegas pergi dari sana dengan keadaan kesal.
Yogi menatap kepergian sepupunya dengan kesal, karena seenaknya masuk ke dalam rumahnya dan membuat kekacauan.
"Semoga besok Citra menerima ku, kalau tidak. Aku akan kalah dari Eril," ucap Yogi.
. . .
Eril pulang ke apartemen dengan keadaan kesal, sehingga dia membanting apa saja yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba, Elisa datang dan terkena serpihan kaca dari lemparan Eril sehingga tangannya terluka.
"Aaahhh!" jerit Elisa.
__ADS_1
Eril langsung menghampiri Elisa, dan membersihkan luka itu. Kemudian mencium tangan Elisa yang sudah berbalut perban.
"Maafkan aku Sa, karena membawa amarah pulang ke sini," ucap Eril dengan sangat lembut.
Elisa tersenyum dan memegang tangan sang kakak dengan lembut, kemudian dia memeluk pria itu.
"Elisa sayang kak Eril, mana mungkin Elisa marah," jawab Elisa dengan sangat polos.
Eril tersenyum, dan memegang bokong Elisa membuat gadis itu terkejut dan langsung bangun.
"Bang Eril!" teriak manja Elisa.
Eril menarik tangan Elisa masuk ke dalam pelukannya, dan dia sengaja mencium tengkuk leher sang adik, dan gadis itu hanya diam.
Karena dia takut sang kakak akan marah padanya. Sebab, Eril akan marah kalau dia tidak menuruti keinginan pria itu.
"Ayo masuk ke dalam," ucap Eril dengan lembut.
Elisa bergidik ngeri, karena sebelumnya hampir saja Eril menidurinya kalau dia tidak berlari. Sebab, pria itu sangat bergairah padanya.
"Maafkan, Elisa tidak bisa menuruti keinginan Bang Eril seperti itu," ucap Elisa.
__ADS_1
Eril tersenyum, karena dia akan tetap menjalankan rencana jahatnya menghamburkan kehidupan Elisa, cepat atau lambat.
Bersambung.