
Sudah satu minggu berlalu, sejak Citra dan Eril berpacaran. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di cafe maupun di luar.
Pada pagi ini, Citra bangun seperti biasa saat Azan Subuh berkumandang dan melaksanakan Shalat.
Setelah selesai Shalat, Citra bersiap-siap membuat sarapan untuknya dan juga sang pacar.
'Semalam, kenapa Bang Eril tidak menelponku?' batin Citra sambil berfikir.
Eril berubah sejak kejadian beberapa malam lalu, saat Citra memintanya mengantarkan Flo pulang karena hari sudah larut malam.
Flashback on ...
Citra bekerja malam hari, karena dia bertukar sip dengan Fiia yang ingin bertemu dengan calon mertuanya malam ini.
Setelah selesai bekerja, Flo dan Citra hendak pulang. Namun, mereka tidak bisa pulang karena gadis itu di antar oleh Yogi.
"Pak Yogi, bisakah saya dan Flo jalan berdua saja?" tanya Citra dengan sangat hati-hati, takut atasannya itu marah.
"Tidak bisa, karena ini adalah permintaan dari kakakmu kalau aku harus mengantarmu pulang dengan selamat," jawab Yogi dengan sangat santai, yang berada di atas motor sport miliknya.
Citra mengendus kesal, karena dia juga tidak tahu kenapa sang kakak menitipkannya pada Yogi.
'Bagaimana ini? Sebentar lagi, Bang Eril datang menjemput aku di sini?' batin Citra sambil berfikir.
"Udah, Tente pulang aja sama Pak Yogi," sambung Flo sambil menyenggol lengan Citra, sehingga gadis itu menganggukkan kepalanya.
Saat Citra naik ke atas motor Yogi, datanglah Eril dengan mengendarai mobil. Pria itu turun dari mobil dan menghampiri sang pacar yang bersama dengan orang lain.
"Hei, apa ini?" tanya Eril sambil menarik tangan Citra turun dari motor Yogi.
"Bang Eril, adik pulang sama Pak Yogi," ucap Citra dengan sangat lembut sambil menundukkan wajahnya.
Eril menatap tajam ke arah Citra, karena dia sangat terkejut sang pacar akan pulang bersama dengan pria lain.
"Tidak! Biar aku saja!" seru Eril sambil melirik ke arah Yogi, yang terlihat sangat santai.
"Bang Eril, tolong malam ini saja," bisik Citra di samping tubuh Eril, karena pria itu sangat tinggi membuatnya tidak sampai.
"Tolong, antarkan dia," tunjuk Yogi ke arah Flo yang tengah menonton Eril dan Citra.
Eril menatap ke arah Flo dan tersenyum manis, membuat Citra cemburu karena sang pacar menatap wanita lain.
"Baiklah, dan ingat! Jangan coba untuk mendekati pacarku!" ancam Eril sambil menarik ke arah Yogi.
"Euum," jawab Yogi singkat, kemudian dia menarik tangan Citra naik ke atas motornya.
"Bang Eril, adik pergi dulu," pamit Citra pada sang pacar.
__ADS_1
"Iya sayangku, hati-hati!"
Yogi mulai mengemudikan motor sport miliknya menuju rumah Citra dengan sangat perlahan, sedangkan Eril mengantarkan Flo pulang dengan mengendarai mobil.
Flashback off ...
Citra tersadar saat masakannya sudah matang, ia cepat-cepat menyiapkan bekal dan bergegas pergi menuju kamar.
Setelah sampai, Citra langsung berganti baju dan menggunakan hijab. Gadis itu mengambil tas dan ponselnya.
"Tidak ada pesan masuk, atau telpon dari bang Eril," ucap Citra sambil memasang wajah sedih, karena sang pacar sudah berbuat sejak kejadian malam itu.
'Tidak mungkin, kan' mereka mengkhianati aku?' batin Citra sambil berfikir.
Citra langsung berjalan ke dapur mengambil rantang yang sudah bersih makanan yang dia masak tadi. Setelah itu bergegas pergi bekerja dengan berjalan kaki, karena sang kakak masuk malam hari ini.
Setelah sampai di cafe, Citra langsung masuk ke dalam dapur dan meletakan rantang di meja, kemudian dia mulai mengerjakan tugasnya dengan baik.
*. *. *.
Eril bersama dengan seorang wanita cantik, sedang duduk di teman berdua dengan bergandengan tangan.
"Sayang, setelah ini apa kita akan memberitahu dia?" tanya wanita tersebut dengan sangat manja.
"Tidak, tunggu waktu yang tepat," jawab Eril sambil mencium puncak kepala gadis itu.
Eril memberikan uang berwarna merah, ke pada gadis itu dan langsung diam melihat jumlahnya.
'Banyak sekali, bagus dia memilih aku daripada wanita hitam itu,' batin gadis tersebut.
"Jangan banyak protes, sayang." Eril kembali mencium wanita itu dengan sangat lembut, dan juga meninggalkan jejak kepemilikan di seluruh leher gadis tersebut.
Mereka sama sekali tidak malu di lihat banyak orang di sana, dan terus saja melanjutkan aktivitas itu.
*. *. *.
Hati Citra sangat gelisah saat nomor Eril, tidak bisa di hubungi sama sekali sejak pagi sampai siang ini.
"Bagaimana, dengan makanan ini?" tanya Citra pada dirinya, sambil terus menatap rantang yang ada di meja.
"Ada, aku!"
Citra langsung menoleh dan melihat Yogi ada di belakangnya, dengan senyuman manis.
"Pak Yogi," ucap Citra dengan sangat lembut, sambil menatap ke arah Yogi.
Yogi duduk di samping Citra, sambil mengambil rantang yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kita bisa makan berdua, tidak usah cemas memikirkan Eril," ucap Yogi dengan sangat lembut.
Citra hanya bisa tersenyum, karena dia bingung harus menjawab apa.
Yogi mulai memakan, kemudian dia tersenyum sambil menatap ke arah Citra.
"Enak sekali, kamu sangat pandai masak," ucap Yogi dengan sangat lembut, membuat Citra tersenyum.
Yogi sangat berubah sejak kejadian Citra pingsan beberapa minggu lalu. Biasanya pria itu sangat dingin dan ketus padanya sehingga Citra bingung.
'Euum, Pak Yogi sangat berubah sejak kejadian hari itu, dia baik dan tidak lagi ketus padaku,' batin Citra.
*. *. *.
Fiia menatap tajam ke arah dua manusia yang sedang bergelora, dan mengepalkan kedua tangannya.
"Bajingan! Beraninya kau!" seru Fiia, hendak melangkah. Namun, tangannya di tarik oleh seseorang dari belakang.
"Ri, maaf aku terlambat." Fiia berucap sambil berjalan menuju pinggir danau dan duduk di sana.
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf sudah membuatmu menunggu," ucap Ri dengan sangat lembut.
"Jadi, kita pergi?" tanya Fiia dengan sangat lembut sambil menatap wajah Ri.
"Jadi," jawab Ri sambil bergegas pergi bersama Fiia menuju rumahnya.
Fiia lupa akan dua manusia yang tengah bergelora tadi, sehingga dia langsung pergi bersama Ri menuju rumahnya.
*. *. *.
Setelah selesai makan, kini Yogi dan Citra duduk saling berhadapan dengan rasa canggung.
"Citra, maaf kalau aku keterlaluan ingin bertanya apakah kamu dan Eril berpacaran?" tanya Yogi dengan hati-hati.
Citra menatap wajah Yogi, kemudian gadis itu tersenyum.
"Iya, apa ada yang salah, Pak?" tanya Citra dengan rasa tidak nyaman menghampirinya.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan kamu harus waspada dan berhati-hati. Kalau dia meminta hal aneh-aneh, jangan mau karena aku sudah tau tentang dirinya," ucap Yogi dengan sangat serius.
Deg!
Citra terdiam sambil menahan sesak di dadanya, yang datang dengan tiba-tiba saat mendengar ucapan dari Yogi barusan.
'Semoga saja tidak akan terjadi, apa-apa di antara kami,' batin Citra.
Bersambung.
__ADS_1