Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Author


__ADS_3

Amon sangat terkejut melihat sang adik sudah tidak ada lagi di tempat tidur pasien, dan dia langsung mencari Eril di setiap sudut rumah sakit. Namun, sama sekali tidak melihat keberadaan adiknya.


Amon duduk di bangku tunggu pasien, kemudian dia mencoba menelpon Eril. Namun, sang adik tidak menjawab panggilan darinya.


'Ke mana anak itu, bisa-bisanya belum sembuh total malah kabur,' batin Amon.


Pria itu tidak putus asa mencari sang adik yang tengah sakit, walaupun Eril sama sekali tidak memikirkan hal itu sebelum pergi.


*. *. *.


Eril membawa Elisa ke villa yang sudah di sewa olehnya untuk beberapa bulan ke depan, sampai dia menemukan kebenaran Citra. Walaupun mereka sudah putus pria itu tidak akan memberikan Citra bahagia.


'Aku tidak akan membiarkan dia bersama pria lain, sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan darinya,' batin Eril.


Eril membereskan barang-barang milik Elisa ke dalam kamar. Saat ia tengah membuka jendela, tiba-tiba saja dia terjatuh ke lantai membuat Elisa terkejut.


"Kak Eril!" Elisa berlari mendekati Eril dan membantu pria itu bangun kemudian membawanya ke tempat tidur.


Elisa melihat wajah Eril semakin pucat, dia pun langsung mengoleskan minyak kayu putih ke hidung pria itu.


"Kak Eril, apa kamu baik-baik saja?" tanya Elisa dengan sangat lembut.


Eril hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena rasa pusing yang datang tiba-tiba membuat pria itu langsung lemas. Mungkin juga keadaan yang belum pulih membuat dia lemah.


"Elisa bawa ke rumah sakit saja, ya?" tanya Elisa sambil beranjak bangun dari duduknya. Namun, Eril menarik tangan gadis itu sehingga jatuh ke atas tubuhnya.


Jantung Eril berdegup kencang kemudian dia menatap wajah Elisa dengan sangat dekat, dan wajah gadis itu sangat familiar sekali di matanya.


Elisa langsung cepat-cepat bangun, karena takut akan tatapan dari Eril yang sangat dalam. Gadis itu bergegas pergi dari kamar menuju dapur untuk membuatkan teh.


Saat dia sudah menyiapkan teh, gadis itu berpikir sejenak kenapa Eril menatap wajahnya seperti tadi.


'Apa dia akan berbuat jahat padaku, seperti apa yang ingin di lakukan oleh ayahku sendiri?' batin Elisa lirih.

__ADS_1


Elisa kabur dari rumahnya karena ayah tirinya hendak melecehkan dia, setelah sang ibu meninggal dunia beberapa minggu yang lalu.


Hati Elisa sakit mengingat kembali kejadian itu, dan dia juga sangat membenci ayah kandung yang sama sekali tidak pernah menemuinya. Walaupun sang ibu hanya istri kedua.


'Setidaknya ayah tidak seperti ini, karena aku yang menjadi imbasnya. Untung saja aku pandai melarikan diri kalau tidak,' batin Elisa lirih.


Elisa sama sekali tidak menceritakan kejadian malam kemarin pada Eril, saat dirinya hampir saja di lecehkan oleh ayah sambungnya. Gadis itu berpikir bahwa hal memalukan itu tidak seharusnya di ceritakan. Sebab itulah gadis berusia 12 tahun ada di pesawat di tengah malam.


Elisa tersadar saat Eril memanggil namanya, dia pun langsung membawa teh hangat ke dalam kamarnya. Dengan perlahan ia menghampiri pria yang tengah terbaring lemas.


"Kak Eril bisa bangun? Atau, mau Elisa bantu?" tanya Elisa dengan sangat lembut sambil meletakkan teh ke meja.


Eril menggelengkan kepala, kemudian dia bangun dengan sekuat tenaga. Namun, kondisinya masih lemas sehingga pria itu terjauh menimpah tubuh Elisa.


Elisa membantu Eril bangun dengan perlahan, dan memberikan teh hangat untuk pria yang menjadi abang angkatnya.


"Terimakasih, sudah membantu abang," ucap Eril dengan sangat lembut, dan Elisa menganggukkan kepalanya.


"Kak Eril, lagi sakit bukan?" tanya Elisa sambil melirik ke arah perban yang ada di kepala pria itu.


Eril mengagunkan kepala, kemudian dia memegang tangan Elisa dengan sangat lembut.


"Tolong, bantu abang mencari keberadaan cintanya abang yang hilang di sini," ucap Eril dengan sangat lembut, dan gadis itu menganggukkan kepala.


*. *. *.


Citra membaca isi berkas yang di berikan oleh Yogi tadi, dan dia sudah menguasai semuanya dengan sekejap mata. Gadis itu menguap dan menutup kedua mata.


"Citra!"


Gadis itu kembali membuka kedua matanya, saat sang kakak berteriak-teriak memanggil namanya. "Astaghfirullah, baru juga mau tidur udah di panggil aja," ucap Citra dengan sangat lemas.


Sari masuk ke dalam kamar dan melihat sang adik sudah mau tertidur padahal waktu Dzuhur akan tiba, sehingga dia langsung menarik tangan Citra ke luar dari dalam kamar.

__ADS_1


"Kak Sari, kita mau ke mana? Aku ngantuk tau?" tanya Citra sambil mengikuti langkah sang kakak.


Sari tidak menjawab ucapan sang adik, dan terus membawanya ke ruang tamu, setelah mereka berdua sampai di sana. Gadis itu membuka mulut lebar-lebar.


Sedangkan Sari merasa biasa-biasa saja, karena yang ada di hadapan mereka adalah Edson. Citra mulai duduk sambil menatap ke arah pria paru paru itu.


"Assalamualaikum semuanya," ucap Citra dengan sangat lembut.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang dengan serempak.


Sari duduk di samping sang adik, sambil terus menatap ke arah Edson karena dia ingin sekali dekat dengan Yogi. Sedangkan Citra merasa sangat heran mengapa pria paruh baya itu datang ke rumah sang paman.


"Citra, sebenarnya ... " Edson menceritakan semuanya pada gadis itu, kalau dia akan kembali ke kota mereka dan meminta agar ia dan Yogi mengurus perusahaan dengan baik.


Citra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menyetujui dan menerima apa saja yang di minta oleh Edson.


"Kalau semuanya sudah jelas, saya permisi dulu," ucap Edson sambil bergegas pergi dari hadapan ketiga wanita berhijab di sana.


Setelah Edson pergi dari rumah Dilla, ketiga wanita itu mulia tersenyum sambil menatap satu sama lainnya. Kemudian tertawa bersama karena Citra mendapatkan jabatan sebagai sekertaris Yogi.


"Selamat. Ya, kamu mendapatkan jabatan itu di usia yang masih sangat mudah," ucap Dilla sambil tersenyum simpul.


"Terimakasih Tante, mungkin karena dia menganggap saya sebagai calon menantunya," jawab Citra dengan jujur.


Karena dia tahu betul, kinerjanya bagaimana dan dia juga hanya lulus SMA saja. Sebab itu Citra tahu apa yang membuat Edson menjadikan dia sebagai sekertaris Yogi.


"Sudahlah, anggap saja itu rejeki kalau pengetahuan kamu tinggi. Buktikan bahwa Citra bisa menjadi seorang sekertaris dengan benar, bukan karena pemilik perusahaan itu," ucap Sari panjang lebar.


Citra sama sekali tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh sang kakak, dan dia hanya mengiyakan saja. Takut kalau kakaknya marah.


'Semoga saja dia tidak curiga, kalau aku tidak mengerti ucapannya barusan karena otakku yang lemot ini,' batin Citra.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2