
Eril terbangun dari tidur panjang, dan melihat sekeliling terdapat Elisa yang tidur di sampingnya. Dengan perlahan dia bangun dan bergegas pergi dari dalam kamar gadis kecil itu.
Eril duduk di sofa sambil menatap langit-langit ruang tamu, sambil mengingat kembali di mana dia pernah melihat wajah Elisa. Pria itu yakin sekali kalau sebelumnya pernah bertemu dengan wanita yang berwajah seperti gadis itu.
'Aku ingat, istri kedua papa wajahnya sama persis seperti Elisa. Apakah dia anak papa?' batin Eril sambil berpikir.
Eril mengingat kembali kejadian 15 tahun silam, di mana sang papa membawa pulang seorang wanita mudah, cantik, manis, melebihi mamanya. Namun, hal itu membuat Zarah meninggal dunia akibat serangan jantung.
Pria itu langsung mengepalkan kedua tangan, kemudian memukul meja yang ada di hadapannya. Eril masih sangat dendam akan perbuatan sang papa dia jadi kehilangan mamanya.
'Jika benar dia anak ja-lang itu, aku akan membalaskan dendamku pada anaknya saja. Bukankah anak atau ibu sama saja?' batin Eril licik.
*. *. *.
Edson di sambut dengan kabar putranya kabur dari rumah sakit, saat dia baru saja sampai di rumah. Membuat pria paru baya itu lemas.
Anak keduanya sama sekali tidak pernah mendengarkan ucapan dia, sangat jauh berbeda dengan putra pertamanya yaitu Amon. Laki-laki berusia 26 tahun itu sangat menyayangi sang papa dan menuruti keinginan apa saja yang papanya perintah.
"Papa, sudahlah jangan terlalu memikirkan dia ... biarkan saja Eril sudah dewasa dan seorang pria. Kita juga harus memberikannya sendiri dulu," ucap Amon dengan sangat lembut sambil mengelus-elus punggung sang papa.
Edson menganggukkan kepala, kemudian dia bergegas masuk ke dalam kamar untuk memenangkan diri. Pria paruh baya itu tidak tahu kenapa sang anak sangat membangkang ucapannya selalu.
'Apa yang membuat Eril seperti ini, mungkin dia tidak bisa melupakan mamanya meninggal karena aku,' batin Edson.
Edson sangat menyesali perbuatannya 15 tahun silam, karena dia sang istri meninggal dunia karena serangan jantung.
*. *. *.
Fiia sangat kesepian sejak Citra pergi. Walaupun mereka seringkali bertengkar. Namun, dia sangat menyayangi sang adik dan merindukannya.
Fiia duduk bersama dengan Yesi di sebuah warung bakso kesukaan Citra, hal ini membuat gadis berusia 20 tahun itu sedih.
'Sepertinya aku harus menyusul dia, untuk melepaskan rindu ini,' batin Fiia.
__ADS_1
Yesi tahu kalau sahabatnya itu merindukan Citra. Namun, dia masa bodoh tidak mau memikirkan wanita yang sangat di bencinya.
'Bodoh banget, dia mau pikiran tuh cewek apa enggak,' batin Yesi.
Yesi sangat membenci Citra karena sang pacar selalu saja membandingkan dirinya dan sahabat dia itu, dan juga membuat mereka putus hanya karena perbedaan sifat antara ia dan sang sahabat yang sudah di khianati.
Yesi selalu iri hati melihat Citra selalu menjadi rebutan para pria, walaupun gadis itu memiliki kulit gelap lain dengannya yang sangat sempurna.
*. *. *.
Citra mengerjakan tugas dengan baik, membuat Yogi terkejut. Setahunya gadis itu hanya tamatan SMA saja dan mengapa kinerja kerjanya melebihi lulusan sarjana.
Yogi senang mendapatkan rekan kerja seperti Citra, bukan karena gadis itu pandai. Namun, dia bisa setiap saat bersama dengan pujaan hatinya.
'Aku bahagia sekali bisa setiap saat bersama dia, walaupun tidak ada hubungan apapun di antara kami,' batin Yogi.
Setelah selesai bekerja, Citra memutuskan untuk segera pulang dengan berjalan kaki sampai ojek pesanannya sampai. Gadis itu menghentikan langkahnya di halte bus sambil duduk manis.
*. *. * .
Elisa tidak protes sama sekali apa yang di pinta oleh abang angkatnya itu, karena dia senang ada orang yang baik padanya. Mata gadis kecil tersebut melihat wanita yang di cari-cari oleh Eril sedang duduk di halte bus.
"Kak Eril, apa dia gadis itu?" tanya Elisa sambil menunjuk ke arah halte bus, dan Eril langsung tersenyum melihatnya.
"Benar, dia cintanya abang," jawab Eril sambil mengemudikan mobilnya menuju halte bus.
Setelah sampai, Eril mengentikan mobilnya di hadapan Citra membuat gadis itu heran karena dia pesan ojek bukan grab.
"Eh, seingatku tadi memesan ojek? Bukannya grab?" tanya Citra dengan sangat bingung.
Erik turun dan langsung menghampiri Citra, membuat gadis itu membuka mulut lebar-lebar melihat orang yang sangat di bencinya.
Citra berlari sekuat tenaga. Namun, Eril berhasil menangkap tangannya sehingga mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Hati Citra bergetar dan nyeri melihat wajah yang sudah menyakiti hatinya beberapa hari lalu, dan juga pria yang sangat di benci ada di hadapannya saat ini.
Dengan sangat kuat, Citra melepaskan tangan dari Eril dan menatap tajam ke arah pria yang sudah menghancurkan hati dan perasaannya.
"Mau apa lagi!?" tanya Citra dengan sangat emosi.
Bagaimana tidak emosi, di khianati oleh keponakannya dan pacar yang sudah merenggut ciuman pertama dia.
"Aku mencarimu, kita belum putus karena abang gak mau pisah dari adik," ucap Eril dengan sangat lembut.
Hati Citra semakin sakit, saat Eril memanggil dia dengan sebutan adik. Sewaktu mereka berpacaran pria yang ada di hadapannya selalu memanggil dia dengan sebutan itu.
"Tutup mulutmu! Jangan ucapkan apapun lagi!" seru Citra sambil menunjuk Eril mengunakan carinya.
Eril langsung bersimpuh di hadapan Citra, meminta maaf dan ampunan karena sudah membuat gadis itu terluka. Namun, Citra tidak menggubrisnya dia berlari dan naik ojek yang sudah di kesannya.
"Citra tunggu! Aku belum selesai bicara!" teriak Eril sambil menatap kepergian sang mantan.
Elisa sejak tadi hanya menjadi penonton saja, karena dia bingung harus berbuat apa dan tidak mengerti akan urusan orang dewasa.
Eril kembali masuk ke dalam mobil dengan sangat kesal, karena tidak bisa membujuk Citra.
"Kak Eril, apa dia mau memaafkan kakak?" tanya Elisa dengan sangat lembut dan hati-hati, takut membuat kakak angkatnya itu tersinggung.
Eril menatap wajah Elisa, dan hatinya semakin kesal melihat wajah yang membuat sang mama meregang nyawa. Pria itu tersenyum untuk menutupi dendamnya pada adik angkatnya dan Citra.
'Elisa, aku akan membuatmu merasakan apa yang di rasakan oleh mamaku, dan untuk Citra aku akan menghancurkan hidupnya secara perlahan,' batin Eril dengan rencana liciknya.
*. *. *.
Citra menangis tersedu-sedu, sampai dia tidak memperdulikan sang ojek yang tengah mengemudikan motor. Gadis itu sampai mengeluarkan ingus dan bingung membuang susu kental itu ke mana.
Matanya melirik ke arah sapu tangan yang ada di jaket sang ojek, dan dia langsung mengambil tanpa sepengetahuan pria itu.
__ADS_1
'Sakit sekali hati ini, melihat dia mencariku dan tidak mau putus,' batin Citra.
Bersambung.