
Pagi hari ini, Citra sudah bersiap-siap berangkat menuju kantor Wijaya properti karena dia di terima bekerja di sana.
Citra langsung pergi dari rumah sang paman tanpa sarapan terlebih dahulu, karena gadis itu sudah hampir terlambat dan sudah di pastikan, dia akan di tolak karena terlambat.
Setelah sampai di kantor Wijaya properti, Citra langsung masuk ke dalam menemui resepsionis dan berkata, "Permisi Mbak, saya ingin bertemu pemilik perusahaan ini. Karena kemarin saya di terima bekerja di sini."
Resepsionis tersebut tersenyum dan langsung menelpon sang Presdir. Setelah selesai dia langsung membawa Citra masuk ke ruangan Presdir.
"Kamu masuk saja, aku kembali bekerja." Resepsionis tersebut bergegas pergi dari hadapan Cinta.
Gadis itu merasa sangat takut, cemas, menjadi satu saat ia mulai mengetuk-ngetuk pintu sang Presdir.
Tok!
"Masuk!"
Perlahan Citra masuk ke dalam sambil membuka pintu ruangan sang Presdir, dan masuk ke dalam kemudian duduk di bangku.
Presdir tersebut mulai membalikkan badannya, dan tersenyum manis kepada Citra. Sedangkan gadis itu membuka mulut lebar-lebar karena tidak percaya apa yang di lihatnya.
"Pak Yogi, kenapa ada di sini?" tanya Citra dengan sangat tidak percaya akan apa yang di lihatnya.
"Ini perusahaan milik, paman Edson Wijaya," jawab Yogi dengan sangat lembut sembari tersenyum manis.
__ADS_1
Citra terdiam sambil menundukkan wajahnya, karena dia tidak bisa menerima semuanya. Gadis itu pergi dari kotanya hanya untuk melupakan maslah yang di lalui. Namun, ia malah bertemu salah satu dari masalah itu.
'Bagaimana ini? Karena aku berniat menjauhi mereka semua, mala kini aku terjebak,' batin Citra sambil berpikir.
Citra tidak mungkin membatalkan kontrak kerja yang sudah di tanda-tangani di surat berjanji kerja, dan tidak mungkin juga dia menerima pekerjaan ini. Sebab, akan sering bertemu dengan Yogi. Gadis itu sudah berjanji tidak akan mau berurusan dengan keluarga Eril.
"Bagaimana?" tanya Yogi dengan sangat lembut.
Citra tersadar dan langsung menatap wajah Yogi dan berkata, "Saya terima nikahnya Citra dan Yogi!"
Gadis itu langsung menutup mulut menggunakan kedua tangannya, karena sudah keceplosan apa yang sedang ia pikirkan. Sedangkan Yogi merasa sangat bahagia mendengarkan ucapan sang pujaan hati.
"Benarkah?" tanya Yogi dengan sangat bahagia saat mendengar ucapan Citra tadi, walaupun gadis itu hanya keceplosan.
Yogi mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum simpul menatap wajah sang pujaan hati yang ada di hadapan dia saat ini.
'Tidak apa-apa Citra menolak ku. Tapi, suatu hari nanti malah sebaliknya dia yang mengejar-ngejar cinta ini,' batin Yogi.
Pria itu sangat yakin sekali kalau Citra akan mencintai dia kembali, walaupun ia tahu betul sang pujaan hati tidak menyukainya.
"Ambil berkas ini, pelajari apa saja tugasmu di perusahaan Wijaya properti," ucap Yogi sambil memberikan beberapa berkas pada Citra.
Gadis itu langsung mengambil beberapa berkas dari Yogi, kemudian dia bangun dan menatap ke arah atasannya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum," ucap Citra dengan sangat sopan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Yogi dengan sangat lembut.
Citra mulai bergegas pergi dari sana sambil membawa beberapa berkas yang di berikan oleh Yogi tadi. Gadis itu naik ojek agar bisa segera sampai rumah sang paman dan mengerjakan tugasnya.
Selama di perjalanan, Citra hanya diam sambil memikirkan kembali kejadian tadi saat dirinya keceplosan.
'Mulut ini sangat keterlaluan, bisa-bisanya berbicara seperti tadi saat ada orangnya. Kalau aku tidak ingat ini mulutku sendiri, sudah lama aku lenyapkan,' batin Citra.
Sang ojek berhenti tepat di lampu merah, menunggu lampu berubah menjadi hijau. Saat itu juga mata Citra melihat sosok Eril ada di sebuah mobil bersama anak remaja.
Citra terus-menerus menatap ke arah sosok yang di yakini adalah Eril. Namun, lampu sudah berubah menjadi hijau, sehingga sang ojek melajukan kembali motornya.
Sontak saja Citra mengumpat dalam hatinya, melihat motor yang di naiki sudah menjauh sehingga dia tidak bisa memastikan itu Eril atau bukan.
'Tadi itu siapa, ya? Apakah benar dia adalah bang Eril? Atau hanya mirip saja?' batin Citra sambil berpikir.
Akhirnya Citra mengentikan ojek yang membawanya di tengah jalan, agar dia bisa memastikan kalau tadi saat. Namun, setelah dia sampai di tempat tadi sosok Eril tidak ada lagi.
'Ck, sialnya hari ini. Ternyata dia sudah tidak ada lagi di sini dan bodohnya aku kembali lagi untuk melihatnya,' batin Citra.
Citra kembali berjalan mencari ojek ajar membawanya pulang, karena jarak rumah sang paman masih sangat jauh.
__ADS_1
Bersambung.