Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, aku berpamitan karena Pak Yogi sudah menunggu ku di luar. Paman dan Bibi mengantar aku sampai depan rumah.


Terlihat jelas mereka sangat sedih melepaskan kepergian ku, karena baru beberapa hari aku berada di sini dan harus kembali.


"Paman, Bibi, saya bawa Citra dulu pulang," ucap Pak Yogi dengan lembut sambil mencium tangan paman dan bibi.


"Iya, hati-hati. Jaga dia dengan baik," jawab paman sambil menatap wajah ku.


Bibi Dilla memeluk ku dan mencium pipi ku, kemudian dia memberikan sebuah amplop. Yang kemungkinan besar itu adalah uang.


"Bi, untuk apa ini?" tanya ku dengan penasaran.


Bibi tersenyum dan membisikan sesuatu di telinga ku, dan aku terkejut ternyata itu benar uang untuk bapak dan emak di Indonesia.


Aku sempat bertanya untuk apa. Tapi, Bibi Dilla menjawab agar aku tidak banyak bicara dan harus memberikan uang itu pada bapak dan emak.


"Mengerti?" tanya Bibi dengan lembut.


Aku mengangguk tanda mengerti, kemudian berjalan membawa koper ku masuk ke dalam mobil.


"Assalamualaikum," ucapku dengan lembut.


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan!" jawab Bibi dan Paman secara bersamaan.


"Iya!" jawabku.

__ADS_1


Pak Yogi langsung mengemudikan mobil dengan perlahan menuju bandara, karena tidak mungkin kalau kami pulang naik mobil bukan?


"Pak, mobil ini milik siapa?" tanyaku.


Sejujurnya aku penasaran, kenapa Pak Yogi ada di Malaysia dan menjadi CEO di salah satu perusahaan properti?


"Milik paman Edson," jawabnya.


Aku sangat terkejut, karena pak Edson masih saja menjadi bos pak Yogi. Walaupun aku tahu kalau mereka sudah seperti ayah dan anak.


Tapi, tetap aku belum bisa melupakan pengkhianatan Flo dan bang Eril. Karena, masih sangat membekas di dalam lubuk hati ku yang terdalam.


Walaupun aku sudah memaafkannya. Tapi, sulit bagiku untuk melupakan semua itu.


Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, karena tidak mungkin aku berkata jujur untuk kali ini.


"Setelah sampai di sana, kamu bekerja lagi ya sama saya?" ucap Pak Yogi.


Aku bingung, karena sudah jelas akan bertemu bang Eril kalau aku bekerja di restoran pak Edson.


"Tidak usah cemas! Buktikan pada mereka, kalau kamu kuat dan melupakan semua kenangan itu," ucap Pak Yogi.


Aku tersenyum, karena dia tahu saja apa tengah aku pikirkan saat ini, dan ucapannya membuat ku semangat.


"Terimakasih Pak, karena saya akan mendengarkan ucapan Bapak," ucap ku dengan lembut.

__ADS_1


Pak Yogi tersenyum, dan menghentikan laju mobil di parkiran Bandara. Kemudian kami masuk ke dalam. Menunggu jadwal penerbangan ke Indonesia.


"Pak, apa saya boleh bertanya lagi?" tanya ku dengan hati-hati, karena takut menyakiti perasaannya.


"Boleh," jawabnya dengan lembut.


Aku tersenyum, karena dia tidak marah sama sekali padaku, dan aku mulai bertanya-tanya padanya.


"Kenapa di usia bapak yang sudah menginjak kematian, Bapak masih jomblo?" tanya ku dengan hati-hati.


Aku takut dia akan tersakiti, maka-nya aku bertanya dengan hati-hati dan lembut.


Pak Yogi langsung diam sambil menatap wajahku, kemudian dia melihat wajahnya di ponselnya.


"Ada apa, Pak?" tanya ku dengan penasaran.


Pria itu masih diam, kemudian menghitung umur yang sudah lumayan dewasa dan mendekati kematian.


"Tidak ada, hanya mengingatkan umur," jawanya dengan datar.


Aku tersenyum, karena dia bisa sadar dengan apa yang aku sampaikan tadi tentang umurnya yang sudah mendekati kematian.


BERSAMBUNG.


Halo gaes? Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Agar author semangat update.

__ADS_1


__ADS_2