Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Pagi ini, aku sudah bersiap-siap berangkat bekerja walaupun hatiku masih sedih karena kepergian Wiwit dan kenyataan yang menyakiti perasaanku.


'Aku akan membuat Flo cemburu, begitu juga dengan Bang Eril. Apa dia pikir tidak ada pria yang menyukaiku,' batinku.


Aku bergegas pergi dari kamar, berjalan dengan perlahan sampai di ruang tamu.


"Pagi semuanya," ucapku sambil mencium pipi emak.


"Pagi sayang," jawab bapak dengan sangat lembut.


"Makan dulu sana, setelah itu baru pergi bekerja," ucap emak dengan sangat lembut, sambil memegang tanganku.


"Manja banget," cibir Kak Fiia padaku. Mungkin karena dia cemburu sudah tidak di manja lagi.


Aku tidak menggubrisnya, karena suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Mak, Pak, pergi dulu makannya nanti saja di cafe." Aku bergegas bangun dan mencium tangan bapak dan emak.


"Hati-hati, Nak!" pesan ibu dan bapak padaku.


"Iya, assalamualaikum!" Aku bergegas pergi dari sana dengan perlahan.


"Wa'alaikumsalam!"


Aku berjalan menuju cafe, karena Kak Fiia tidak masuk siang hari ini. Entahlah dia selalu saja pergi bersama dengan pacarnya.


"Gini banget sih, ditikung sahabat sama keponakan," ucapku lirih sambil terus berjalan dengan perlahan.

__ADS_1


Setelah sampai aku langsung masuk ke dalam dapur, dan mulai mengerjakan tugas dengan baik. Selama mencuci piring aku terus saja memikirkan cara apa agar Flo cemburu.


'Baiklah, hari ini aku akan pulang telat agar bisa membuat Flo cemburu karena Bang Eril menjemputku nanti,' batinku.


Aku sangat terkejut saat melihat kedatangan Pak Yogi secara tiba-tiba, dan pria itu berdiri di sampingku.


"Apa ada maslah, Pak?" tanyaku sambil terus mencuci piring sampai selesai.


"Tidak ada, setelah ini selesai duduklah bersamaku! Di bangku itu!" ucap Pak Yogi sambil menunjuk bangku yang berada di depanku.


"Baik Pak, ini sudah selesai." Aku menjawab sambil bergegas pergi menuju bangku dan duduk di sana.


Setelah Pak Yogi duduk, pria itu mulai menatap wajahku dengan sangat dalam. Entah mengapa dia berubah beberapa bulan ini.


"Citra, saya ingin mengatakan sesuatu," ucap Pak Yogi dengan sangat gugup, sepertinya dia ingin menyampaikan hal yang sangat penting.


Pak Yogi terlihat seorang yang ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting.


"Saya menyukaimu," ucapnya, membuat aku sangat terkejut.


Bagaimana tidak terkejut, mendengar pria yang selama ini sangat aku sukai ternyata menyukaiku.


"Saya sudah memiliki bang Eril, tidak mungkin menerima cinta Pak Yogi," ucapku dengan sangat hati-hati, takut menyakiti perasaannya.


"Saya hanya mengutarakan isi hati saja, selebihnya kamu yang memutuskan." Pria itu berucap sambil bergegas pergi dari.


Hatiku merasa tidak enak melihat kepergiannya, dengan sangat kecewa akan penolakanku tadi.

__ADS_1


'Aku merasa tidak enak. Biarlah karena aku ingin menjalankan rencana agar pengkhianatan mereka terbongkar,' batinku.


Sebenarnya aku sangat menyukainya. Namun, tidak bisa menerima cinta dia karena aku juga masih berpacaran dengan Bang Eril. Walaupun pria itu sudah mengkhianatiku.


"Sakit. Tapi, tidak berdarah." Aku berucap dengan sangat lirih, sambil mengingat kembali poto Flo dan Bang Eril.


Sesak di dadaku terasa sangat sakit, mengingat poto Flo dan Bang Eril yang sedang bercumbu di keramaian orang.


Meraka sama sekali tidak memiliki malu, berbuat hal memalukan di tempat umum dan ramai pengunjung di sana.


Aku terdiam melihat kedatangan Bang Eril. Entah sejak kapan dia ada di depan pintu, apa mungkin pria itu mendengar ucapan Pak Yogi tadi.


"Bang Eril, sejak kapan ada di situ?" tanyaku dengan sangat lembut sambil menghampirinya.


"Baru saja, ada apa?" tanyanya balik dan aku bernafas lega. Karena dia tidak mendengarkan ucapan Pak Yogi tadi.


"Tidak ada. Kenapa Abng cepat sekali datang?" tanyaku dengan sangat lembut sambil bergegas duduk kembali.


"Hanya ingin, melihat bidadari abang ini." Bang Eril mencubit hidung mancungku, sehingga aku meringis.


"Sakit tau," ucapku dengan sangat manja.


"Maaf," kekeh Bang Eril melihat raut wajahku yang masam ini.


Sakit rasanya melihat orang yang sudah mengkhianati cintaku tertawa di hadapanku saat ini. Namun, aku belum bisa berhenti samapi di sini sebelum mereka mendapatkan karma.


'Mundahnya dia bersandiwara, di depanku dengan sangat baik dan di belakang menusuk dengan pisau tajam,' batinku dengan sangat kesal.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2