
Sore hari sudah tiba, saatnya pulang. Namun, aku masih saja duduk termenung di meja kerja sambil memikirkan ucapan Pak Yogi tadi siang.
"Semoga saja itu tidak terjadi, karena aku benar-benar mencintai bang Eril," ucapku dengan lirih.
"Der!"
"Aaahhhkkk!" jeritku saat seseorang memukul meja sampai aku melompat.
"Tente, segitunya banget," kekeh Flo yang menatap wajahku.
Aku sangat kesal sehingga menarik hijabnya, dan terlepas. Mataku melirik ke arah leher Flo terlihat banyak sekali tanda merah kepemilikan di sana.
"Flo, apakah itu tanda merah?" tanyaku sambil menunjuk ke arah lehernya. Dengan cepat dia langsung memakai hijabnya kembali.
"Euum, bukan apa-apa kok," jawabnya dengan sangat gugup dan mencurigakan sekali, karena aku tahu dia belum memiliki pacar atau pria incaran.
"Oh, aku pulang dulu," ucapku sambil bergegas pergi dari dapur.
Aku berjalan dengan hati gelisah, saat melihat tanda merah di leher Flo tadi. Entah mengapa mulai mencurigai dia.
'Jangan sampai lagi, udah di tikung sama sahabat dan ini sama keponakan. Bisa gila aku kalau itu terjadi,' batinku.
"Citra!"
Aku langsung menoleh dan tersenyum melihat pacar tersayang ada di hadapanku, dengan sangat cepat aku berlari menghampirinya.
"Abang udah lama, nunggunya?" tanyaku dengan sangat lembut.
"Belum, baru saja," jawabnya sambil mengelus-elus hijabku.
Entah mengapa saat bang Eril mengatakan baru saja sampai, aku langsung teringat jika Flo juga baru saja sampai tadi.
"Kok diam saja, ayuk kita pulang," ucapnya sambil mencubit hidung mancungku.
"Iya." Aku langsung bergegas naik ke atas motornya, dan Bang Eril mulai mengemudi dengan perlahan.
"Sayang, kita berhenti dulu. Ya?" tanya Bang Eril saat kami berada di jalanan.
"Untuk apa?" tanyaku balik.
"Ada, sesuatu." Pria itu langsung mengemudikan motor menuju jalanan yang lumayan sunyi, karena tidak akan ada orang yang berlalu lalang di sana.
Aku merasa sangat gelisah, karena dia membawaku ke tempat yang sangat sepi dan jauh dari keramaian.
'Semoga saja dia tidak macam-macam,' batinku sambil berdoa. Agar tidak akan terjadi hal yang buruk nanti.
Setelah sampai di gubuk tua, Bang Eril membawaku masuk ke dalam. Aku sangat ketakutan pikiran kotor langsung menghampiriku.
__ADS_1
"Bang Eril, untuk apa kita masuk?" tanyaku dengan hati yang bergetar hebat.
"Duduk di sini." Pria itu menepuk baha agar aku duduk di sana. Namun, aku memilih duduk di sampingnya.
"Duduk di sini, biar lebih enak," ucap Bang Eril dengan penuh nafsu. Walaupun aku belum berpengalaman tetapi, aku tahu pria yang bergairah itu seperti apa.
"Bang Eril, kita pulang sekarang juga!" pintaku pada pria yang ada di sampingku itu.
"Eh, pulang? Cium dulu," ucap Bang Eril dengan sangat sambil mendekatiku, dan aku langsung menjauh.
"Jangan Bang!" teriakku sambil berlari menjauh darinya. Namun, kakiku tersandung dan jatuh.
"Sayangku!" Pria itu langsung membantu aku bangun dan membawaku duduk di bangku.
"Bang Eril, jangan buat macam-macam," ucapku sambil menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat.
Pria itu tersenyum dan langsung melahap bibirku, dengan sangat kuat aku mendorongnya agar ciuman kami terlepas.
Aku mengasihi ciuman pertama yang sudah di renggut paksa oleh pacar yang aku sayangi.
"Jahat!" Aku langsung berlari menuju luar sambil menangis tersedu-sedu, dan dia mengejarku.
"Sayang, Tunggu!"
Aku menangis tersedu-sedu sambil berjalan degan sangat, dan Bang Eril mengejar dengan mengendarai motornya. Sehingga dia menghalangi jalanku.
"Abang jahat, untuk merenggut ciuman pertamaku!" teriakku sambil memukuli lengannya dengan kuat.
"Maaf," ucapnya dengan sangat lembut, dan aku mulai tenang kemudian berhenti menangis.
"Jangan di ulangi lagi, karena adik sangat mencintai Abang," sambungku sambil menatap wajah Bang Erli.
"Iya, sekarang naik dan kita pulang." Pria itu menarik tanganku naik ke atas motornya, kemudian dia melajukan motor dengan perlahan sampai di rumahku.
Setelah sampai, aku langsung bergegas turun dan masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun.
Aku mendengar suara motornya sudah menjauh dari rumah, barulah aku masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana ini? Aku sudah melakukan hal itu," ucapku dengan lirih.
Aku teringat ucapan pyak Yogi tadi siang, sehingga tangisanku pecah lagi.
'Aku sangat mencintainya, semoga dia tidak meninggalkan aku begitu saja,' batinku sambil berdoa. Agar Bang Eril tidak mendua atau berselingkuh.
Otak kecilku tidak sanggup memikirkan hal itu, sehingga aku pun tertidur dengan sangat nyenyak.
Malam hari tiba ...
__ADS_1
"Nak, bangun sudah malam."
Aku tersadar dan membuka mata, terlihat emak mengelus-elus kepalaku yang masih memakai hijab.
"Sudah jam berapa, Mak?" tanyaku dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Sudah pukul 18:00 Wib, sebentar lagi Azan Magrib loh," jawab emak sambil bergegas pergi dari kamar.
Aku langsung bangun dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, aku merasa bibirku sangat kering sejak kejadian tadi. Seketika air mataku mengalir deras tanpa izin dariku.
"Setelah ini, aku akan meminta bang Eril bertanggung jawab!" Aku bergegas ke luar dari kamar mandi.
Aku memakai piyama dan menyisir rambut, setelah itu kembali menidurkan tubuh sambil menunggu Azan Magrib. Ponselku bergetar ada pesan masuk dari Wiwit.
📥Wiwit.
(Citra, besok aku operasi doakan. Ya, agar aku selamat.)
Seketika air mataku mengalir deras, membaca pesan dari Wiwit karena sudah dua minggu dia masuk rumah sakit, dan besok dia harus operasi.
"Ya Allah, selamatkan Wiwit." Aku mendengar suara Azan dan bergegas berwudhu, setelah itu aku langsung melaksanakan Shalat.
Setelah selesai Shalat, aku berdoa agar Wiwit selamat saat operasi besok dan aku juga akan datang menemaninya.
📤Aku.
(Wit, besok aku akan datang.)
Setelah mengirimkan pesan, aku ke luar dari kamar ingin menghampiri kedua orang tuaku, dan melihat mereka ada di ruang tamu.
"Bapak, Emak." Aku duduk di tengah-tengah mereka agar mendapatkan kasih sayang yang lengkap.
"Anak bapak, ada apa?" tanya bapak sambil mengelus-elus rambutku dengan lembut.
"Pasti ada sesuatu," sambung emak yang sudah tahu kalau aku ada maksud lain.
"Iya," kekeku sambil menatap wajah emak dan bapak secara bergantian.
"Sebenarnya, besok Wiwit operasi dan Citra mau melihatnya," ucapku dengan sangat lirih, mengingat keadaan sahabatku.
"Pergilah, yang terpenting pekerjaan kamu di tinggal dulu." Aku mencium emak dengan sangat lembut, kemudian bergegas pergi dari sana.
Aku berjalan menuju dapur, karena rasa lapar sangat menyiksaku saat ini. Tidak tunggu lama aku langsung makan seperti preman pasar yang kelaparan.
"Ya ampun, ini enak sekali," ucapku sambil terus menyantap ikan bakar dan sambal mata yang di campur kecap manis.
__ADS_1
Bersambung.