Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Satu Minggu kemudian, aku sudah jauh lebih baik setelah terbiasa kembali bekerja di cafe pak Yogi, apa lagi dia juga ada di sana. Ya walaupun aku harus melihat bang Eril yang sangat menyakiti jiwaku. Asik!


Pada hari Minggu ini, aku libur bekerja dan menghabiskan waktu dengan Ammar. Sebab, sudah lama sekali kami tidak berdua seperti ini. Walaupun ada emak dan bapak, aku tetap merasa sunyi, selagi kak Fiia belum kembali dari Banda Aceh.


Kakak ku itu sudah sukses di sana, menjalankan bisnis yang dikembangkan sendiri. Jujur, aku sangat bangga padanya dia bisa membuat usahanya sendiri. Sedangkan aku? Masih bekerja di cafe orang lain.


Aku mendengar ketukan pintu, kemudian berjalan sambil menggendong Ammar membuka pintu. Betapa terkejutnya aku, melihat Flo datang sambil menatap ke arah Ammar.


Tidak! Apa dia ingin mengambil anakku? Aku tidak ingin hal itu terjadi, sebab Ammar adalah belahan jiwaku. Walaupun dia tidak lahir dari rahimku, aku tetap menyayangi dia seperti anakku sendiri.


"Jangan ambil anakku!" teriakku dengan kencang.


Membuka Ammar terkejut. Namun, dia tidak menangis dan semakin memeluk aku dengan erat. Sedangkan Flo hanya diam dan menatap wajah putraku mana, ya walaupun Ammar adalah anaknya juga.

__ADS_1


Tetap aku tidak rela, kalau anakku diambil olehnya. Sebab, sudah beberapa bulan ini aku bahagia adanya Ammar di kehidupanku.


"Enggak Buk, aku cuma mau lihat Ammar aja. Lagi pula, aku sudah menikah dengan pria kayak raya. Jadi, dia bisa memberikan anak untukku," ucap Flo dengan nada sombong.


Aku hanya tersenyum sinis, sebab dia sangat sombong tidak mengingat siapa dirinya yang sebenarnya.


"Lebih baik, jangan datangi Ammar lagi, karena aku tidak ingin dia tahu semuanya," ucapku padanya.


Dia mengangguk, kemudian mencium Ammar dengan lembut dan bergegas pergi dari sini. Entahlah mungkin dia tidak sanggup melihat putranya ada padaku, di tambah lagi anak ini sudah semakin lucu dan menggemaskan.


Sudah sampai di dalam kamar, Aku pun memberikan susu untuk Ammar dan melihat ponseoki berdering, ternyata pesan dari Pak Yogi, kemudian aku pun langsung membukanya.


Pria itu menuliskan pesan, bahwa dia ingin membawa aku dan juga Ammar berjalan-jalan ke bioskop nanti sore. Namun, aku nggak sekali pergi, karena lelah jika harus membawa bayi pergi kemana-mana, karena ngerepot jika harus membuatkan susu di tempat umum.

__ADS_1


Sehingga aku pun langsung menolak ajakannya, karena aku kan tidak mau sebab anakku yang sulit dibawa bepergian apalagi mau jalan-jalan ke mall.


Setelah itu aku langsung bergegas menidurkan Ammar, dan benar saja bayi kecil itu tertidur dengan pulas, dia sangat mengantuk sejak tadi. Namun, Flo datang aku pun tidak jadi menidurkannya.


Aku menatap wajah anakku yang tertidur dengan pulas, rasa sayangku semakin bertambah dan rasa tidak ingin berpisah darinya kian membesar, karena aku tidak akan sanggup jika harus berpisah dari anakku.


Entahlah aku sanggup atau tidak meninggalkan anakku jika aku menikah, sebab tidak mungkin suamiku akan menerima anak yang bukan darah dagingnya juga bukan darah dagingku.


Aku pun merasa mengantuk dan memejamkan kedua mataku, kemudian aku merasa seperti akan tertidur. Namun, aku tersentak kaget saat Ammar menangis, terlihat baik kecil itu pipis dan pampersnya sudah penuh dan aku pun langsung menggantinya.


BERSAMBUNG.


Sambil menunggu Aku update, yuk hampir ke novel teman aku yang seru. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2