Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Author


__ADS_3

Setelah sampai di Banda Aceh, Citra dan Yogi juga Edson pergi menuju rumah Allah yang tekena tsunami belasan tahun lalu. Untuk melaksanakan Shalat Dzuhur.


Mata Citra sangat terpana melihat masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Karena ini kali pertama buatnya, begitu juga dengan Yogi yang sama dengan Citra.


"Kalian, hanya berdiam diri saja? Tidak masuk ke dalam?" tanya Edson, melihat Citra dan Yogi hanya diam sambil menatap bangunan masjid Raya Baiturrahman.


"Ha?" Citra dan Yogi sama-sama menjawab dengan gumam secara bersamaan, membuat Edson tertawa melihat tingkah mereka.


"Masuklah Om, udah di sini kok gak masuk," jawab Citra dengan senyuman manisnya dan mulai masuk ke dalam.


Mereka bertiga berpisah, karena Citra masuk ke dalam bagian wanita sedangkan Yogi dan Edson masuk ke dalam bagian pria.


Citra berjalan masuk ke dalam tempat wudhu, setelah selesai ia langsung berjalan masuk ke masjid karena Azan Dzuhur sudah berkumandang.


Setelah selesai Shalat, Citra berdoa pada sang pencipta alam semesta.


'Ya Allah, pertemukan hamba dengan jodoh hamba di sini,' batin Citra.


Di sisi lain ...


'Ya Allah, hamba sangat yakin jika dia jodohku maka kami akan selalu, engkau pertemukan,' batin Yogi.


Edson berdoa agar anaknya lekas sembuh, karena dia sangat menyayangi Eril. Walaupun ia tidak melihat keadaan putranya yang baru saja mengalami kecelakaan.


'Ya Allah, sembuhkan Eril karena hamba sangat menyayangi dia. Walaupun hamba tidak bisa memperlihatkan padanya langsung,' batin Edson.


Tanpa disadari oleh Edson, air matanya mengalir deras membasahi seluruh wajah tampannya.


"Paman Edson, kenapa menangis?" tanya Yogi sambil memegang tangan sang paman.


Edson langsung memeluk keponakannya, dan menuangkan rasa sedih yang selama ini ia simpan seorang diri.


"Yogi, sebenarnya paman membawamu ke sini karena sudah tidak sanggup lagi melihat kelakuan, Eril." Edson melepaskan pelukannya kemudian bergegas pergi dari dalam masjid.


Yogi mengejar sang paman. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Citra tengah berpoto bersama seorang wanita. Dengan sangat penasaran ia langsung menghampiri gadis pujaannya.


"Assalamualaikum," ucap Yogi dengan sangat lembut dan manis pada dua wanita yang ada di hadapannya. Tanpa disadari ternyata dia melupakan sang paman.


"Wa'alaikumsalam." Citra menjawab salam Yogi bersama dengan sepupunya.


"Pak Yogi, perkenalkan dia Sari sepupu saya," ucap Citra sambil menatap ke arah Sari yang terus menatap wajah Yogi.


"Yogi."

__ADS_1


"Sari."


"Panggil saja Sari roti," kekeh Citra.


Sari menyenggol lengan Citra sehingga gadis itu langsung terdiam.


"Pak Yogi, saya pulang bersama sepupu saya saja," ucap Citra dengan sangat lembut.


Yogi menganggukkan kepala, kemudian ia menarik tangan Citra yang sudah berjalan sehingga gadis itu langsung membalikan badannya.


"Ada masalah?" tanya Citra sambil melepaskan tangannya.


"Kamu tinggal di mana?" tanya Yogi sambil menatap wajah Citra.


Citra memberikan alamat rumah pamannya pada Yogi, setelah itu ia langsung bergegas pergi dari sana bersama dengan Sari.


Yogi menatap kepergian Citra sampai gadis itu sudah tidak terlihat lagi di matanya, kemudian ia baru ingat kalau sang paman pergi entah ke mana.


"Astaghfirullah! Aku lupa, paman pergi kemana ya?" Yogi bergegas pergi dari sana dengan berlari.


Setelah sampai di luar masjid, Yogi melihat sang paman bersama dengan Citra dan Sari di mobil mereka. Dengan cepat ia langsung menghampiri mereka.


"Paman Edson, aku sudah lelah mencari paman tadi," ucap Yogi sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari tadi.


"Sudahlah jangan banyak bicara! Sekarang kita antar mereka dulu!" pinta Edson pada sang ponakan.


"Jadi, Sari ini adalah kakak sepupu kamu?" tanya Edson pada Citra.


"Iya Om, dan Citra akan tinggal di sana untuk sementara waktu," jawab Citra dengan sangat lembut.


"Oh, ya. Kamu bekerja di mana setelah ini?" tanya Edson yang ingin mengetahui di mana Citra bekerja.


"Wijaya Properti," jawab Citra dengan sangat lembut, membuat Edson dan Yogi saling menatap satu sama lainnya.


"Oh, itu adalah milik Pa-" terputus karena Edson langsung menyerang ucapannya.


"Selamat bekerja di sana," potong Edson dengan cepat sambil menginjak kaki Yogi.


"Terimakasih Om, atas ucapannya," sahut Citra dengan sangat sopan kemudian dia bercerita bersama dengan Sari.


"Kenapa?" bisik Yogi dengan sangat kecil agar kedua wanita itu tidak mendengar ucapannya tadi.


"Diam saja, ini untuk kejutan dia," bisik Edson, membuat Yogi menganggukkan kepala.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah pamannya Citra, kedua wanita itu turun dan Yogi mulai melanjutkan kembali perjalanannya.


Citra berjalan masuk ke dalam rumah sang paman bersama kakak sepupunya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam," jawab paman Citra bersama sang bibi secara bersamaan.


"Ponakan bibi, duduk dulu di sini!" pinta Dilla sambil menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya, agar Citra duduk.


Citra duduk di samping sang bibi, sedangkan Sari memiliki bersama sang ayah duduk di sofa yang berhadapan dengan Cita dan Dilla.


"Paman Sam, dan Bibi Dilla, jangan sungkan menghukum saya kalau memiliki salah," ucap Citra dengan sangat sopan.


"Tentu saja, sayang," jawab Sam sambil menatap wajah sang ponakan.


"Sari, bawa Citra masuk ke dalam kamar!" pinta Dilla pada anak gadis satu-satunya itu.


"Siap Ma, Pa," ucap Sari sambil membawa koper milik Citra masuk ke dalam kamarnya.


"Permisi, Paman Sam dan Bibi Dilla." Citra bergegas pergi dari sana menyusul sang kakak.


Setelah sampai di dalam kamar, Citra langsung membuka kopernya karena ia ingin berganti baju.


Mata Citra membulat sempurna saat melihat isi kopernya, kemudian ia terkekeh bersama Sari juga.


"Astaghfirullah, Citra buat apa kamu bawa baju laki-laki dan kain segitiga pria juga?" kekeh Sari sambil menepuk pundak Citra.


Citra mencoba untuk mengingat-ingat kembali kejadian tadi saat di dalam mobil, dan ia baru sadar kalau warna kopernya berbeda dengan yang ada di sini.


"Aku rasa ini milik, pak Yogi?"


*. *. *.


Yogi baru selesai mandi, kini ia menggunakan handuk dan bergegas masuk ke dalam kamarnya dan membuka koper.


"Aaahhhkkk!" jerit Yogi, melihat bikini wanita berserakan saat ia membuka koper tersebut.


"Astaghfirullah, apa ini punya Citra?" tanya Yogi yang mencoba mengingat-ingat kembali kejadian tadi, saat dia membawa kopernya dan Citra.


Yogi merasa bingung, karena dia sama sekali tidak ada baju ganti, sebab kopernya tertukar dengan Citra. Sehingga ia meminjam baju sang paman karena tidak mungkin memakai baju Citra bukan?


Bersambung.

__ADS_1


Author datang lagi ni, menyapa kalian semua sahabat baik yang membaca novel saya dengan keikhlasan hati.


Jangan lupa untuk berikan hadiah dan vote. Satu dukungan dari kalian sangat berarti untuk Author.


__ADS_2