
"Jujur, kakak sama sekali tidak tahu kalau bang Amon sudah berhubungan dengan Flo. Sebab, kami baru bertemu di Banda," jawab kak Fiia lirih.
Aku tau wanita itu sedih, dia mengira Bang Amon itu lugu. Tapi menyesatkan, sudah memiliki anak dengan wanita lain. Aku ingin rasanya kak Fiia memutuskan hubungan dengan pria itu.
Tapi, semua manusia pasti bisa berubah. Apa lagi Bang Amon, kalau dia mencintai kakakku. Pasti dia akan berubah, tidak mengulangi perbuatannya lagi.
"Lalu, setelah Kakak tau. Apakah Kakak masih mau padanya?" tanyaku lembut sambil menatap wajahnya yang melas.
"Entahlah, karena kami saling mencintai. Aku ingin menyampaikan ucapan kamu tadi padanya. Jika dia masih membantah, aku akan memutuskan hubungan kami, karena dia tidak bisa jujur dengan hal sebesar ini," jawab Kak Fiia lirih.
Aku tersenyum, karena kakak ku ini sangat bijak menghadapi masalah. Aku pikir dia tidak peduli sama sekali. Tapi aku salah, dia malah memikirkan rencana yang sangat bagus untuk bang Amon.
"Bagus sekali rencanamu itu, aku berharap dia akan mencintaimu dan berkata sejujurnya," ucapku penuh harapan.
"Aamiin," jawab Kak Fiia lembut.
Kami berdua saling berpelukan, dan berharap hal yang sama. Ya walaupun aku tahu, jika Kak Fiia menikah dengan bang Amon, dan pria itu mengakui Ammar sebagai anaknya. Pasti mereka akan membawanya. Tapi itu tidak akan terjadi.
__ADS_1
Sebab, Ammar sudah menjadi anakku dalam mata negara. Karena Flo sendiri yang menanda tangani surat perjanjian itu.
. . .
Malam ini, aku akan bertemu dengan mamanya Pak Yogi. Sebab, mereka ingin mengantarkan uang kasih sayang yang tidak aku minta. Juga semua perlengkapan yang lain.
Padahal aku sama sekali tidak meminta. Namun, Pak Yogi dan mamanya tetap memberikan semuanya. Kata mereka, itu memang hak aku, walaupun aku tidak meminta.
"Cantiknya calon menantu mama," ucap Mamanya Pak Yogi lembut.
Aku pun langsung mencium tangan calon mertuaku dengan lembut, setelah itu aku duduk di sampingnya sambil tersenyum manis.
Wanita paruh baya yang ada di hadapanku tersenyum manis, kemudian dia memegang tanganku, dan memasangkan cincin emas yang sangat cantik dan indah.
"Ini untuk kamu juga, mama harap pernikahan kalian cepat terlaksana. Juga sampai maut memisahkan kalian," ucap Mamanya Pak Yogi lembut dan harapan yang besar.
"Aamiin," ucapku dan yang ada di sini bersamaan.
__ADS_1
Sebab, kami ingin Pernikahan aku dan pak Yogi sampai maut memisahkan kami. Juga ingin acara pernikahan yang akan terlaksana satu bulan lagi, lancar tanpa kendala apa pun.
"Semoga semuanya lancar sampai hari H tiba," ucap Enak lembut.
"Aamiin," jawab Mamanya Pak Yogi.
Aku tersenyum, kemudian menggendong Ammar yang menangis mencari keberadaan aku. Setelah itu, aku memberikan susu padanya yang dibutakan oleh Kak Fiia tadi.
Ya, Ammar bersama Kak Fiia. Namun, bayi kecilku menangis karena tidak mau padanya. Sebab dia hanya mau padaku juga Emak yang setiap hari menjaganya.
"Cucu Oma, kenapa menangis? sini sama Oma sayang," ucap Mamanya Pak Yogi lembut.
Wanita paruh baya itu mengambil Ammar, dan bayi kecil itu sudah diam tidak menangis lagi. Membuat aku heran, sebab dia bisanya tidak mau dengan siapapun. Namun, kali ini diam.
BERSAMBUNG.
Sambil menunggu aku update, yuk hampir ke novel teman aku yang seru. Terima kasih.
__ADS_1