
Yesi menatapku dengan sangat dalam, seperti dia memiliki dendam padaku. Padahal, aku yang memiliki dendam padanya.
"Kak Yesi, kami duluan. Ya?" izin Wiwit pada kakak sepupunya itu.
"Ya sudah, kami sebentar lagi aja. Emangnya kalian mau ke mana?" tanya Yesi balik pada Wiwit dan aku hanya diam saja.
"Citra mau ketemuan, sama anaknya pak Polisi Edson," jawab Wiwit sambil melirik ke arahku, sontak aku langsung menatapnya.
"Ha, yang benar?" tanya Yesi dengan sangat terkejut, terlihat jelas jika dia tidak menyukaiku.
"Iya, yuk Wit kita pergi soalnya Oppa Amon udah nungguin aku!" Aku berucap dengan ketus, sengaja agar Yesi peka kenapa bersikap seperti ini.
Aku dan Wiwit berjalan ke luar dengan bergandengan tangan, setelah sampai kami langsung naik motor. Kali ini aku yang membawa motornya.
"Cit, jangan ngebut. Ya!" serunya dari belakang dan aku mengangguk kepala.
"Kamu tenang saja, aku gak ngebut kok cuma kencang aja," sahutku sambil melajukan motornya dengan perlahan.
"Sama aja kali," ucapnya dengan sangat pelan. Aku dan Wiwit bercerita sepanjang jalan, tiba-tiba ponselku berdering ternyata Oppa Amon yang menelpon.
"Wit kamu bawa motor. Ya, Oppa Amon nelpon ni!" Aku hentikan motor di tepi jalan kemudian kami bertukar posisi.
"Udah angkat aja, sambil jalan." Wiwit berucap sambil melajukan motornya dan aku langsung menjawab panggilan masuk dari Oppa Amon.
📞Oppa Amon.
Oppa Amon.
[Assalamualaikum, bidadari surga abang.]
Aku.
[Wa'alaikumsalam Bang.]
Aku menjawab salamnya dengan hati yang berdebar-debar, bagaimana tidak? Suaranya terdengar sangat merdu sudah bisa di pastikan jika wajahnya sangat tampan.
Oppa Amon.
[Adek, udah di mana sekarang?]
Aku.
[Di jalan ni, entar kita jumpa di ujung aja. Abang udah ke luar rumah belum?]
Oppa Amon.
[Iya, sebentar lagi abang sampai ini. Assalamualaikum.]
Aku.
__ADS_1
[Wa'alaikumsalam Bang.]
Setelah aku memutuskan sambungan telepon, mulailah wajahku tersenyum ceria tidak sabar ingin segera bertemu dengannya.
"Wit, suaranya merdu banget tau. Sudah jelas dia tampan," ucapku sambil membayangkan wajah tampannya.
"Citra kamu salah, katanya kalau suara dia merdu artinya dia jelek dan sebaliknya," sahut Wiwit, membuatku lemas membayangkan wajah jelek Bang Amon.
"Kamu mah, jangan gitu kalau dia jelek aku gak mau melanjutkan perjodohan ini," ucapku dengan sangat lemas.
Aku tidak munafik, melihat pria dari wajahnya dulu baru hatinya karena bukan wanita murahan, yang tidak memandang wajah. Namun, uangnya.
"Iya, kita lihat saja nanti." Wiwit menjawab ucapku dengan sangat santai sambil menghentikan motornya.
Aku turun dari motor kemudian duduk di pinggir jalan, tak berselang lama ada sebuah motor sport berhenti tepat di hadapanku.
Pria itu turun dari motor kemudian membuka helm, sontak aku langsung membuka mulut lebar-lebar saat melihat wajahnya.
'Ya Allah, dia seperti Pak Polisi Edson waktu mudah mungkin atau ini dia?' batinku sambil berfikir.
"Siapa Citra, di antara kalian berdua?" tanyanya dengan cepat aku menunjuk Wiwit, begitu juga dengan sahabatku itu.
"Kalian berdua Citra?" tanya Bang Amon dengan bingung.
"Dia Citra!" Aku dan Wiwit sama-sama menjawab, sehingga Bang Amon menatap wajahku dengan sangat dalam.
"Kamu, Citra?" tanyanya sambil memperhatikan poto yang dia dapatkan dari profil WhatsAppku.
"Iya, saya Citra." Aku menjawab dengan pelan sambil menjauh darinya.
"Wit, kita pergi. Ya," bisikku di telinga Wiwit. Namun, gadis itu terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Bang Amon, kita duduk dulu katanya Citra mau ngobrol sama Abang," ucap Wiwit dengan sangat santai.
Aku langsung mencubit lengannya, sehingga dia meringis dan mendorongku untung saja Bang Amon sigap sehingga aku terjauh di atas pelukannya.
Terasa nyaman. Namun, seperti ada yang tegak akan tetapi, bukan keadilan sehingga aku langsung bangun.
"Maaf Bang, tadi ada yang tegak. Eh salah!" Aku langsung menutup mulut saat Wiwit menginjak kakiku.
"Euum, kita makan dulu yuk," ajaknya. Namun, aku menggelengkan kepalaku.
"Entar aja Bang, kami ada keperluan," tolakku dengan halus takut dia tersinggung.
Aku lihat wajahnya sedih, mungkin dia kecewa karena penolakanku. Namun, aku tidak mau berlama-lama dengannya.
"Bang, entar kita telponan lagi. Ya!" Aku bergegas naik motor dan melajukan dengan sangat cepat, sampai-sampai Wiwit tertinggal.
"Citra!" teriaknya bersamaan dengan Bang Amon, dan ku hentikan motornya kemudian memutar baik.
__ADS_1
Sesampainya aku di sana, terlihat wajah keduanya sangat kusut mungkin mereka jodoh.
"Maaf, buru-buru soalnya tadi," elakku dengan senyuman renyah.
Wiwit langsung naik ke atas motor dan aku menatap ke arah Bang Amon yang menghampiri ku, dia memberikan selembar uang berwarna merah sontak aku langsung menolak.
"Untuk apa, itu Bang?" tanyaku dengan pura-pura tidak tahu, dan Wiwit mencubit lenganku.
"Untuk kalian, siapa tahu ada kendala," jawabnya dengan sangat lembut, dan Wiwit langsung mengambil uang itu.
"Terimakasih Bang, kalau begitu kami permisi dulu," Wiwit berucap dengan sangat lembut membuat ku tersenyum.
"Bang, jangan seperti ini aku tidak bisa menerima uang itu," ucapku dengan sangat sopan.
"Kami butuh Bang, jangan dengarkan dia," sambung Wiwit dengan cepat membuatku terkejut.
"Iya, terima saja kalau seperti itu abang permisi dulu." Pria itu langsung bergegas pergi dari hadapanku.
Setelah dia sudah jauh aku mulai mengambil uang yang ada di tangan Wiwit dengan paksa.
"Cit, kembalikan!" teriak Wiwit dan aku langsung memasukan uang tadi ke dalam tas.
"Cik, tadi saja berkata tidak tau padahal sekarang nomor satu!" serunya dengan kesal.
Aku tertawa sambil melajukan motor dengan perlahan, kemudian menghentikan laju motor di warung bakso.
"Udah diam, kita makan bakso pakai uang bang Amon," ucapku dengan sangat pelan.
"Uangnya mau, orangnya gak mau," cibirnya membuatku kesal, karena uang itu dia yang mengambil dari Bang Amon tadi.
"Ya udah, ini ambil semuanya. Tapi bayarin bakso ku nati!" Aku bergegas pergi sambil menatapnya dengan sinis.
"Sama aja!" teriaknya sambil mengejar lku.
Setelah pesanan kami sampai aku menerima pesan masuk dari bang Amon, dan langsung membacanya.
📥Oppa Amon.
(Ternyata Adek cantik banget, manis, pendek.)
Pendek lagi, kata-kata itu sangat membosankan di telingaku. Namun, semua adalah kenyataan.
"Siapa, bang Amon lagi?" tanya Wiwit sambil menyantap bakso miliknya.
Aku mengangguk kepala saja, karena saat ini bingung harus menjawab apa padanya.
"Udahlah, jangan pandang wajahnya," tambah Wiwit yang sangat tahu apa isi kepalaku.
"Enak aja kamu tau, kan' kalau Yesi dapat mantan aku yang ganteng? Masa iya aku dapat yang jelek," jawabku dengan jujur.
__ADS_1
Bersambung.