
Setelah satu harian bekerja, akhirnya aku pulang juga bersama Kak Fiia dengan mengendarai motor matic.
Setelah sampai di rumah aku langsung masuk ke dalam kamarku, dan menidurkan tubuh di atas kasur.
Bruk!
"Peyot!" teriakku sambil melemparkan bantal yang ada di wajahku.
"Jangan tidur! Mandi sana!" serunya sambil menatap tajam ke arahku.
Aku tidak menjawab ucapan Kak Fiia, melainkan langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Aku langsung melakukan ritual mandi sambil terus mengumpatnya dalam hatinya, karena sudah sangat tidak sopan padaku. Walaupun dia kakakku.
"Dasar nenek lampir, awas aja entar aku balas," ucapku sambil menyusun rencana apa untuknya.
Setelah selesai, aku langsung berjalan ke luar dan memakai celana kulot kemudian memakai kaus sebagai atasannya.
Aku menidurkan tubuh di atas kasur kesayanganku, kemudian ponselku berdering ternyata Bang Eril yang menelfon.
"Dia lagi, ada apa sih!"
Aku langsung menjawab panggilan masuk dari Bang Eril.
📞 Bang Eril.
Aku.
[Halo, ada apa?]
Bang Eril.
[Aku ada di depan rumahmu, keluarlah.]
Aku membuka mulut lebar-lebar kemudian berjalan membuka tirai jendela, terlihat Bang Eril ada di depan rumah.
"Bagaimana ini?" Aku langsung bergegas menyisir rambut dan memakai sedikit lipstik, agar bibirku terlihat lebih lembab.
Aku berjalan ke luar dengan tergesa-gesa, masuk ke dalam kamar orang tuaku.
"Mak, ayu ke luar ada teman Citra datang," ucapku yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Iya, dia sudah masuk atau belum?" tanya emak sambil berjalan mendekatiku.
"Belum, bapak mana?" tanyaku sambil berjalan menuju ruang tamu bersama emak.
"Pergi malam ini, kan' ada ronda," jawab emak sambil duduk di sofa.
"Euum, Citra panggil dia masuk dulu. Ya, Mak." Aku berucap sambil bergegas pergi menuju luar.
Setelah sampai aku langsung membuka pintu dan melihat senyuman manisnya, dan kami saling menatap satu sama lainnya.
"Assalamualaikum," ucapnya dengan sangat lembut.
"Wa'alaikumsalam," jawabku sambil tersenyum manis dan memperlihatkan gigi gisulku.
__ADS_1
"Boleh masuk, gak?" tanya Bang Eril, membuatku tersadar dan masuk ke dalam bersamanya.
Sesampainya kami di dalam, aku duduk di samping emak dan Bang Eril mencium tangan emak dengan sangat sopan.
"Citra, buat minum untuk temanmu," pinta emak dan aku langsung bergegas pergi untuk melaksanakan tugas.
Saat aku berjalan terdengar sayup-sayup sura Bang Eril berbicara bersama emak.
"Nama kamu, siapa Nak?" tanya emak.
"Eril Bu," jawab Bang Eril.
Aku mengintip dari pintu dapur sambil menunggu air mendidih.
"Kamu anaknya, pak Polisi Edson?" tanya emak, aku sangat terkejut dari mana emak tahu Bang Eril anaknya Pak Polisi Edson.
"Iya, Bu ... saya juga menyukai Citra," ucap Bang Eril tanpa rasa malu sedikitpun pada emak.
"Euum, kalau Citra?" tanya emak pada Bang Eril.
Aku terkejut mendengar suara air mendidih, langsung mematikan api kompor dan membuat kopi susu. Aku mengendus kesal tidak mendengar ucapan Bang Eril tadi saat emak bertanya.
"Sudahlah, entar aku tanya saja pada emak langsung." Aku membawa dua gelas kopi susu dan satu gelas teh hangat untuk emak.
Setelah sampai aku langsung meletakan kopi di hadapan Bang Eril dengan rasa malu-malu.
"Silahkan, di minum Bang." Aku bergegas duduk di samping emak sambil menatap wajah Bang Eril.
"Nak, kalian cocok sekali," ucap emak sambil menatap wajahku dan Bang Eril secara bergantian.
"Euum, maksudnya Mak?" tanyaku sambil berputar-putar tidak tahu padahal aku sangat tahu.
"Sudahlah, kalian lanjut ngobrol emak mau masuk dulu!"
Setelah kepergian emak, aku hanya diam saja sambil meminum kopi buatanku tadi.
"Citra, duduk di sini!" Aku terkejut melihat Bang Eril menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya.
"Tidak, di sini saja!" Aku menjawab dengan ketus karena tidak berani duduk berdekatan dengannya.
"Ayolah, abang aja yang duduk di situ?" tanya Bang Eril sambil berjalan dan duduk di sampingku.
Aku mundur menjauh darinya. Namun, dia menarik tanganku sehingga jarak kami sangat dekat.
Saat Bang Eril hendak menciumku, dengan sangat cepat aku menampar pipinya sehingga dia mengurungkan niat bejatnya itu.
"Bang, jangan tidak sopan seperti itu! Aku ini wanita!" sentakku sambil bergegas bangun.
"Maaf," ucapnya dengan penuh penyesalan.
Aku sangat kesal padanya, saat dia mau menciumku padahal kami belum menikah.
Aku hendak berjalan tanganku di tarik oleh dia lagi, dan kali ini aku langsung melawan karena kesal padanya.
"Lepaskan!" sentakku membuatnya langsung bergegas pergi dari ruang tamu.
__ADS_1
Aku menatap kepergiannya sambil berjalan masuk ke dalam kamar dengan rasa kecewa, sudah menilai pria dari wajah baru hati.
Aku menidurkan tubuhku dengan perlahan di samping Kak Fiia, dan dia sangat terkejut melihat kedatanganku.
"Eh, bukannya ada gebetan baru?" tanya Kak Fiia sambil menatap wajah masamku.
"Euum, dia tidak sopan mau menciumku tadi," ungkapku tanpa rasa malu pada kakakku, menceritakan aib yang baru saja terjadi.
"Kurang ajar dia! Jangan dekati, dia lagi biar daja aku yang mengurusnya!" seru Kak Fiia.
Aku langsung memeluknya, karena sangat bahagia melihat dia sangat menyayangi aku. Walaupun adiknya ini selalu membuat dia kesal.
"Terimakasih, kakak adalah pahlawan untukku," ucapku dengan sangat lirih.
"Sudahlah, jangan menangis lagi lepaskan saja dia. Masih banyak pria yang lebih baik darinya, ucap Kak Fiia dengan sangat lembut sambil mengelus rambutku.
"Baik, aku akan mendengarkan ucapanmu." Aku berucap dengan lirih karena terharu, lapa persaudaraan kami.
Walaupun aku dan Kak Fiia seperti tikus dan kucing, dia tetap menyayangiku seperti saat ini.
"Kak Fiia, jika dia ingin aku menjadi pacarnya bagaimana?" tanyaku sambil melepas pelukan kami.
Merasa sangat kesal akan pertanyaan dariku, dia langsung menoyor kepalaku dengan sangat kuat.
"Peyot!" jeritku sambil menatap wajahnya dengan sangat tajam.
"Dasar sinting! Sudah tahu dia seperti apa, masih juga mau menerimanya!" serunya sambil bergegas pergi dari kamar.
Aku mengerutkan kening, karena tidak ada yang salah dari pertanyaanku tadi.
"Sepertinya dia yang sinting? Padahal, aku sama sekali tidak berniat menerima bang Eril menjadi pacarku. Ya, walaupun wajahnya sangat tampan."
Aku menidurkan tubuh dengan sangat lembut, kemudian melihat ponselku berdering ada pesan masuk.
📥Bang Eril.
(Dek, mau jadi pacar abang gak?)
Aku tersenyum malu-malu dan reflek menjawab pesannya.
📤Aku.
(Mau, Bang.)
📥Bang Eril.
(Sekarang kita, jadian. Ya?)
📤Aku.
(Iya.)
Aku tersenyum bahagia, sudah mendapatkan pacar pengganti tanpa mengingat kejadian tadi.
"Akhirnya, aku punya pacar juga," ucapku dengan sangat bergembira sudah jadian sama bayng Eril.
__ADS_1
Walaupun aku tahu dia itu sangat mesum, dan juga belum lama mengenalnya.
Bersambung.