Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak aku memutuskan perjodohan dengan Bang Amon, dia sama sekali tidak pernah menelpon atau mengirimkan pesan.


Aku bersiap-siap mau berangkat bekerja, karena hari ini aku mendapat sip siang bersama kakakku. Ponselku berdering panggilan masuk dari nomor yang tidak aku kenali.


Aku langsung menjawab takut itu panggil penting dari Pak Yogi atau siapapun.


📞 Tanpa nama.


Aku.


[Assalamualaikum.]


Tanpa nama.


[Wa'alaikumsalam, perkenalkan namaku Eril.]


Aku terdiam mendengar nama itu, karena sebelumnya tidak pernah mengenalnya Eril.


Tanpa nama.


[Dek, aku adiknya bang Amon.]


Aku.


[Oh, apa ada masalah sama dia, Bang?]


Aku langsung bertanya takut terjadi sesuatu kepada Bang Amon.


Tanpa nama.


[Tidak ada, hanya mau mencari teman saja.]


Aku terdiam mendengar suaranya sangat jelek seperti kaleng bekas yang di pukul, dan ingat ucapan Wiwit satu minggu lalu.


"Kalau suaranya merdu, artinya dia jelek dan sebaliknya."


Aku.


[Entar malam, kita sambung lagi Bang soalnya mau kerja dulu.]


Tanpa nama.


[Iya, entar abang datang ke cafe. Ya?]


Aku tidak bisa menolak, karena cafe itu adalah milik Pak Polisi Edson artinya milik dia juga.


Aku.


[Assalamualaikum.]


Aku langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak, tanpa menunggu jawabannya. Sejujurnya aku malas berurusan dengan keluarga Pak Polisi Edson lagi.

__ADS_1


"Masa iya, gak jadi sama abangnya terus adiknya juga di gebet," ucapku sambil terus menatap ke arah layar ponsel.


Aku langsung memasukan ponsel ke dalam tas, kemudian bergegas pergi dari kamar karena Kak Fiia sudah menunggu di luar.


Sesampainya aku di luar, Kak Fiia sudah tidak ada lagi ternyata dia sudah meninggalkan aku.


"Dasar kakak gak ada, akhlak!" seruku sambil berjalan menuju tempatku bekerja.


Aku sangat yakin saat dia memintaku agar tidak terburu-buru bersiap tadi, ternyata ini adalah maksudnya.


Flashback on ...


Saat aku terburu-buru mandi, Kak Fiia berteriak-teriak dari luar kamar mandi sehingga aku langsung ke luar dalam keadaan basa.


"Ada apa?" tanyaku sambil menatap ke arahnya.


"Jangan terburu-buru, aku akan menunggumu di depan," ucapnya dengan sangat lembut, membuatku curiga karena tidak seperti biasanya dia baik.


"Yang benar? Tapi, aku akan lama sekali kalau tidak terburu-buru?" tanyaku dengan sangat tidak percaya, karena setiap hari dia selalu meninggalkan aku.


"Benar," jawabnya sambil bergegas pergi dari hadapanku.


Aku masuk ke dalam kamar mandi lagi, dan menyelesaikan aktivitas yang tertunda tadi.


Flashback off ...


Aku berjalan dengan perlahan sambil terus mengumpatnya dalam hati. Rasa kesal ini tidak akan hilang karena kejadian tadi.


Aku tendang sebuah botol yang ada di hadapanku, dan botol itu melayang dan mengenai seseorang.


"Astaghfirullah, mampus aku." Aku menepuk keningku sambil menatap ke arahnya yang sangat kesal.


"Jangan kabur kamu!" teriaknya sambil mendekatiku.


Aku mundur dan mulai berlari masuk ke dalam cafe dan dia juga mengikutiku, sehingga aku berjalan ke dalam ruangan bos.


Aku mengatur nafas yang tersengal-sengal akibat berlari tadi, sehingga sesak di dadaku kambuh lagi. Aku terjatuh di lantai karena sakit yang kurasakan tidak bisa di tahan lagi.


"To-long," ucapku dengan sangat lemah dan mulai memejamkan mata.


"Citra!" teriak Pak Yogi, sehingga aku tersadar lagi. Namun, tidak bisa membuka mata karena rasa lemas akibat menahan sakit.


"Citra bangun, kamu kenapa?" tanya Pak Yogi sambil menggoyangkan tubuhku.


Aku sama sekali tidak bisa membuka mata, walaupun rasa sakit di dada sudah tidak ada lagi.


"Anak ini, menyusahkan saja! Sebaiknya aku beri nafas buatan agar dia sadar," ucap Pak Yogi, membuat aku terkejut. Namun, tidak bisa menjawab dan berbicara.


Aku merasa wajahnya mendekat, dan deru nafasnya menyentuh wajahku membuat aku seakan berhenti bernafas.


"P-ak, sa-" aku tidak bisa meneruskan ucapku karena terasa lemas, dan membutuhkan obat yang biasaku minum.

__ADS_1


"Citra, kamu kenapa?" tanyanya sambil mengangkat kepalaku ke pahanya.


"RS," jawabku sambil membuka mata dengan perlahan.


"Rumah sakit?" tanyanya sambil menatap wajahku, dan aku hanya menganggukkan kepala dengan perlahan.


"Baik, saya akan bawa kamu ke rumah sakit," ucap Pak Yogi sambil menggendong tubuhku, kemudian dia membawaku ke rumah sakit.


Lima jam kemudian ...


Aku membuka kedua mataku, dan melihat adanya Pak Yogi di hadapanku saat ini.


"Pak, saya ada di mana?" tanyaku agar terlihat seperti di sinetron, sehabis sadar dan bertanya di mana dia.


"Alhamdulillah, setelah lima jam pingsan kamu sadar juga," ucapnya dengan sangat lega.


"Yang benar Pak, saya pingsan selama itu?" tanyaku dengan sangat lembut, padahal sejak empat jam lalu aku sudah sadar dan kembali tidur karena rasa ngantuk melandaku.


"Benar, lihat sekarang sudah jam berapa." Pria itu memperlihatkan jam tangannya yang menunjukkan pukul 14.00 WIB.


"Sekarang kita pulang saja Pak, saya mau bekerja." Aku berucap sambil bangun dan dia membantuku.


"Biar aku bantu," ucapnya dengan sangat lembut, padahal dia selalu ketus padaku setiap harinya.


Aku berjalan dengan perlahan yang di bantu olehnya, pada saat kami berjalan pria itu mengentikan langkahnya.


"Aku antar kamu pulang, hari ini libur saja!" ucapnya dengan sangat ketus. Namun, perhatian.


"Baik Pak." Aku kembali berjalan bersama dengan Pak Yogi yang memapahku berjalan, rasanya aku ingin pingsang lagi, saat kami berpelukan seperti ini.


'Ya ampun, aku ingin pingsang sekali lagi saat dia memeluk tubuhku walaupun hanya sebatas bantuan saja,' batinku dengan sangat gembira.


Setelah sampai di dalam mobil, Pak Yogi membantuku memasang sabuk pengaman karena aku tidak bisa melakukannya.


Lagi-lagi aku ingin pingsang saat jarak kami sangat dekat, agar bisa selalu mendapat perhatiannya.


"Tunjukkan rumahmu, karena aku tidak tahu," ucap Pak Yogi sangat ketus. Namun, sangat menyentuh hatiku.


"Baik Pak, sekali lagi terimakasih sudah baik pada saya," ucapku dengan sangat lembut dan tersenyum.


"Sama-sama," jawabnya dengan senyuman manisnya, membuatku semakin jatuh hati padanya walaupun dia sama sekali tidak menyukaiku.


Setelah sampai aku langsung turun di bantu olehnya, dan membawa ku duduk di depan teras.


"Saya pulang dulu, jangan lupa istirahat karena dokter bilang kamu hanya kelelahan saja," ucap Pak Yogi dengan sangat lembut.


"Terimakasih Pak." Aku menjawab sambil bergegas bangun dan masuk ke dalam rumah, karena sudah tidak tahan menatap wajahnya sejak tadi.


Setelahku dengar mobilnya pergi, aku langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Walaupun tadi sudah tidur selama empat jam lamanya.


"Astaghfirullah, ponselku dan tas ada di mana. Ya? Mana ponsel masih keredit lagi," ucapku dengan sangat bingung.

__ADS_1


Aku pun teringat saat terjatuh di ruangan Pak Yogi, tas yang ada di tanganku juga ikut terjauh. Tidak tunggu lama aku langsung bergegas pergi menuju cafe untuk mengambil tasku.


Bersambung.


__ADS_2