
Aku benar-benar sangat takut, karena bang Eril mengatakan siapa ayah Amar yang sebenarnya. Aku yakin pria itu akan membuat ku bersedih karena tidak mau lagi menerima cintanya.
'Apa yang harus aku lakukan?' batin ku lirih.
Semoga apa yang aku khawatir tidak terjadi, dan aku pun melanjutkan pekerjaan ku, agar aku cepat pulang dan bertemu dengan Amar.
Entah mengapa, aku sangat merindukan dia. Padahal, baru satu hari aku menjadi ibunya. Apa lagi bila aku dan Amar bersama selama bertahun-tahun.
Beberapa jam kemudian . . .
Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan pak Yogi, dan kini aku bergegas pulang. Sebab, aku ingin sekali memeluk Amar dan mencium bayi kecil itu.
"Sebelum pulang, sebaiknya aku membeli perlengkapan Amar dulu," gumam ku sambil terus berjalan.
Aku berjalan kaki, karena jarak Swalayan dekat dari cafe. Setelah sampai, aku langsung masuk ke dalam dan membeli susu bayi juga perlengkapan yang lainnya.
Saat aku hendak membayar, aku terkejut melihat Flo ada di dalam Swalayan bersama seorang pria. Namun, mereka belum melihatku.
"Astaghfirullah, kenapa keponakan ku seperti itu?" tanyaku sambil membayar belanjaan ku.
__ADS_1
Setelah selesai membayar, aku langsung bergegas pergi dari sana karena takut Flo akan menghampiri ku.
"Entahlah, apa yang merasuki Flo, sampai dia bergonta-ganti pasangan. Padahal, kasihan anaknya," ucap ku lirih.
Walaupun aku belum menikah dan mengandung. Tapi, aku merasakan menyayangi seorang anak, dan Flo sama sekali tidak memikirkan anaknya sedikitpun.
Aku naik ojek agar segera sampai di rumah, walaupun jaraknya tidak jauh. Tetap saja aku lelah bila berjalan kaki.
Setelah sampai di rumah, aku langsung bergegas masuk ke dalam dan melihat emak tengah bermain bersama Amar.
"Assalamualaikum," ucapku dengan sangat lembut.
Aku tersenyum saat melihat Amar tertidur pulas di dalam box bayi. Ya, tadi pagi emak menemukan box bayi di dalam gudang dan membersihkan untuk Amar.
"Jadi, Emak tadi ngomong sendiri?" tanyaku.
Sebab, saat pulang tadi emak berbicara dengan Amar dan aku mengira mereka tengah bermain.
"Iya, karena dia lucu sekali," jawab emak dengan senyuman.
__ADS_1
"Mak, mana bapak?" tanyaku.
Sebab, dari kemarin aku belum bertemu dengan bapak. Padahal, kami berada di rumah yang sama.
"Bapak pergi, mengurus hak asuh Amar. Sebab, kami takut Flo akan mengambil anak kamu," jawab emak.
Aku terkejut, karena bapak belum ada bicara padaku tentang adopsi Amar. Aku langsung memeluk emak dengan lembut dan menangis di dalam pelukannya.
"Mak, terimakasih sudah baik pada Citra dan bapak juga. Kalian memang orang tua yang paling baik di muka bumi ini," ucapku dengan lirih.
"Sama-sama," jawab emak dengan lembut.
Aku benar-benar sangat bahagia bisa diperlakukan seperti ini oleh emak dan bapak, walaupun aku belum menceritakan tentang Amar. Tapi, beliau langsung mengurus surat adopsi Amar.
'Ya Allah, aku sangat bahagia karena bapak benar-benar peduli padaku, dia sama sekali tidak menentang keputusan apa yang aku buat,' batin ku dengan sangat bergembira.
Aku bergegas pergi masuk ke dalam kamar, karena aku ingin membersihkan diri. Setelah selesai, aku langsung ke ruang tamu dan membuat susu untuk Amar.
Sebab, bayi kecilku sudah bangun dan kini giliran aku menjaganya. Karena, sejak pagi sudah emak yang menjaga.
__ADS_1
BERSAMBUNG.