
Keesokan paginya . . .
Pagi ini, Citra sudah rapi akan berangkat ke cafe untuk bekerja kembali di sana. Semua dia lakukan agar Eril tahu kalau ia sudah melupakan pria itu.
Agar sang mantan tahu, kalau dia sudah tidak memiliki pesanan lagi, semua itu dia lakukan karena nasihat dari Yogi kemarin.
"Semoga hari ini, aku tidak bertemu dulu pada bang Eril atau Flo. Bukan apa-apa, hanya aku masih malas melihat wajah mereka," ucap Citra dengan lirih.
Walaupun dia sudah melupakan Eril, tetap saja rasa sakitnya masih menghantuinya. Sampai detik ini, entah bagaimana cara agar dia bisa melupakan rasa sakit itu.
"Citra!" panggil Jima.
Karena, sang anak terus saja berjalan tidak menghampirinya yang ada di meja makan bersama suami dan.
Gadis itu menoleh, dan tersenyum. Sebab, dia lupa kalau ibunya memangil karena terlalu memikirkan Eril dan Flo tadi.
"Assalamualaikum semuanya," ucap Citra dengan sangat lembut.
"Waalaikumsalam," jawab mereka dengan serempak.
Citra duduk di bangkunya, dan melihat bangku kosong yang ada di samping. Dia langsung teringat pada Fiia sang kakak yang masih berada di Banda Aceh.
"Kapan dia pulang, Mak?" tanya Citra lirih.
__ADS_1
Gadis itu sangat merindukan sang kakak, bukan karena meraka sudah lama tidak bertemu. Namun, karena Fiia memiliki utang padanya senilai 500 ribu.
"Entahlah, karena dia sudah bekerja di sana. Mana mungkin dia pulang ke sini, kalau tidak libur kerja," jawab Jima dengan lembut.
Citra tersenyum dan menatap wajah sang ayah yang ada di hadapannya, karena pria itu sangat di rindukannya.
Ya, dari kemarin mereka tidak bertemu karena Citra tidur sepanjang hari, entah mengapa dia juga tidak tahu bisa seperti itu.
"Pak, Citra pergi sekarang ya? Takut, terlambat," ucap Citra dengan lembut.
Salam tersenyum, dan mengelus puncak kepala sang anak. Kemudian mencium kepalanya.
"Hati-hati di jalan, kalau kerja jangan tidur selalu," jawab Salam sambil mengingatkan sang anak.
"Baik, Pak. Mana mungkin Citra tidur terus-menerus," jawab Citra dengan lembut.
Salam tersenyum, karena sang anak pandai sekali mengelak ucapannya yang benar adanya.
"Iya, sudah sana pergi," ucap Salam dengan lembut.
Citra bergegas pergi dari sana, karena dia takut terlambat di hari pertamanya bekerja. Dengan menaiki ojek agar segera sampai.
Setelah sampai, Citra membuka mata dan mulut dengan lebar saat melihat Yogi ada di depan cafe bersama semua karyawan.
__ADS_1
Pria itu membawa buket bunga mawar merah, dan juga buket cokelat yang sangat di sukainya. Jantung gadis itu seakan berhenti berdetak kali ini.
'Ya Allah, apa semua ini untukku?' batin Citra tidak percaya.
Yogi tersenyum, karena yang di tunggu datang juga, dia langsung menghampiri gadis itu dan bersujud di hadapan Citra.
'Ya ampun, jantung tolong kerjasamanya. Jangan! Berdetak kencang,' batin Citra.
Gadis itu sangat grogi, karena banyaknya karyawan yang ada di sana, belum lagi ada para pengunjung.
"Wahai pemilik hatiku, maukah engkau menjadi kekasih ku?" tanya Yogi dengan sangat romantis.
Citra seakan meleleh karena sikap manis dan lembut Yogi sehingga dia tersenyum, kemudian hendak mengambil buket bunga mawar merah itu.
Namun, langkahnya terhenti saat Eril berteriak dengan keras membuat semua orang langsung menoleh.
"Jangan terima! Kau masih menjadi kekasih ku!" teriak Eril dengan percaya diri.
Citra langsung diam dan tidak jadi mengambil buket bunga yang ada di tangan Yogi, membuat pria itu bangun.
"Mau apa lagi kau?!" tanya Yogi dengan sangat emosi karena Eril akan menghancurkan rencanya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1