Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
3 POV Citra


__ADS_3

Aku duduk di bangku teras rumah sambil bermain ponsel, melihat sosial media yang sedang viral saat ini. Ponselku berdering ada panggilan masuk dari nomor yang tidak ku kenal.


"Apa ini pak Polisi itu?" tanyaku sambil mengingat kembali kejadian di kantor Polisi tadi.


Aku pun langsung menjawab panggilan masuk itu, takut jika ada hal yang sangat penting.


📞Tanpa nama.


Aku.


[Assalamualaikum,] ucapku sambil menekan tombol berwana hijau.


Polisi.


[Wa'alaikumsalam,] jawabnya dengan suara yang sangat aku kenali.


Aku.


[Ada yang bisa saya bantu, Pak?] tanyaku tanpa basa-basi, karena malas sekali kalau terlalu lama bicara dengannya.


Polisi.


[Tidak, jika ada apa-apa kabari saja! Ya, dan saya ingin menjodohkan kamu dengan anak tertua saya,] ucap Pak polisi dengan sangat santai tanpa basa-basi.


Aku terdiam mendengar ucapannya, karena sebelumnya mengira dia yang menyukaiku ternyata salah besar.


Aku.


[Emangnya, anak Bapak mau sama saya yang hitam ini?] tanyaku dengan sangat sopan, ku dengar dia tertawa kecil.


Polisi.


[Mau dong, kamu itu pendek, manis, imut, masa dia tidak mau saya saja mau kok,] jawabnya dengan sangat lembut.


Aku senang dia mengatakan aku manis, imut. Tapi, jangan sebut pendek juga dong walaupun aku benar-benar cebol / pendek.


Aku.


[Iya Pak, saya mau kok,] jawabku dengan sangat cepat.


Polisi.


[Nanti anak saya akan menelpon kamu, saya tutup dulu telponnya.]


Setelah Pak Polisi itu memutuskan sambungan telepon, aku mulai memejamkan mata dan membanggakan seperti apa wajah tampan anaknya.


'Apakah wajahnya seperti Oppa Jung-kook? Atau, Lee Min-ho?' batinku penuh dengan khayalan.


Ya ampun, apa yang sudah aku pikirkan ini sangatlah jauh. Mungkin bisa saja terjadi saat nanti bertemu anaknya Pak Polisi Edson mala melebihi kedua artis Korea itu.


Setelah selesai mengkhayal, ponselku bergetar ada pesan masuk dari nomor baru. Sudah bisa di pastikan jika itu adalah anak Pak Polisi.

__ADS_1


📥


(Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Amon umur 25 tahun anaknya Pak Polisi Edson.)


Aku tersenyum sendiri membaca pesan itu, kemudian juga membalasnya.


📤 Aku.


(Wa'alaikumsalam, saya Citra umur 18 tahun.)


Aku tersenyum menatap layar ponsel, menunggu balasan pesan dari Bang Amon anak Pak Polisi. Setelah menunggu selama dua menit akhirnya pesanku di balas juga.


📥Amon.


(Senang berkenalan denganmu, apa kita bisa bertemu besok?)


Aku tidak percaya akan secepat ini berkenalan dengannya, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu aku langsung menjawab pesannya.


📤Aku


(Bisa, besok aku tidak bekerja Abang datang saja di lapangan bola, aku akan menunggu.)


Aku tidak sabar bertemu dengannya, entah mengapa rasa hatiku kini berbunga-bunga lagi sejak patah hati beberapa minggu lalu.


📥Amon.


(Baik, jangan bawa teman kita berdua saja.)


Aku mengerutkan kening membaca pesan darinya, rasa takut mulia menghampiri pikiranku.


📤Aku.


(Maaf Bang, besok aku pergi ke kota ada keperluan bisakah kita bertemu di jalan?)


Aku bergegas masuk ke dalam kamar, ingin menanyakan apa kakakku itu jadi pergi atau tidak besok.


Saat masuk ke dalam kamar terlihat kakakku sedang menelpon pacarnya, aku pun duduk di sampin dia niat hati ingin menguping sedikit.


"Kak Fiia, besok jadi pergi?" tanyaku dengan sangat tidak sabar walaupun dia masih menelpon.


"Iya, kita berenam," jawabnya dengan sangat lembut. Aku tahu dia bersikap seperti itu karena sedang telponan dengan sang pacar.


"Sama siapa aja? Soalnya, aku mau ketemu sama anak pak Polisi itu?" tanyaku, sontak dia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Serius?" tanyanya dengan sangat kepo di mataku.


"Iya, sebenarnya ... " Aku mulai menceritakan semua kejadian tadi sampai aku di jodohkan dengan anaknya Pak Polisi itu.


"Baguslah, kamu buktikan sama Yesi kalau adikku ini bisa melupakan mantan yang sudah di rebut olehnya," ucap kak Fiia dengan sangat mendukungku.


Seketika aku mengingat kembali kejadian satu minggu lalu, saat pacarku di rebut oleh sahabat baikku.

__ADS_1


Sakit rasanya tidak bisa aku jelaskan lagi, dan aku sudah menutup rapat-rapat perasaan itu juga mendoakan yang terbaik untuknya. Ingatlah karma datang dengan pasti dan tepat sasaran.


"Hei! Mala bengong lagi!" seru kak Fiia karena sejak tadi aku hanya diam saja tidak mendengarkan ucapannya.


"Iya. Tapi, aku malas jika Yesi ikut!" ucapku dengan sangat ketus mengingat penghianatan sahabat baikku.


"Citra, jangan seperti itu! Buktikan padanya kamu lebih dari dia!" sentak kak Fiia agar aku semangat dan mencari pengganti.


"Iya," jawabku dengan sangat malas dan keterpaksaan yang mendalam.


Setelah selesai bercerita rencana kami besok, aku dan Kak Fiia bubar mengerjakan tugas masing-masing. Ya, walaupun aku tidak membersihkan rumah melainkan tidur tetap saja mengerjakan tugas juga.


Setelah tidur panjang aku mulai terbangun saat malam hari tiba, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Karena aku belum membersihkan diri sama sekali sejak pagi.


Setelah selesai dalam ritual mandi, aku bergegas mengunakan baju kemudian duduk di bibir ranjang sambil bermain ponsel.


Aku melihat ada pesan masuk dari Wiwit sahabat sejati ku.


📥Wiwit.


(Citra, besok kamu naik motor sama aku aja. Ya kita berdua, kan' sama-sama jomblo.)


Aku tersenyum membaca pesan dari Wiwit, dia adalah sahabat masa kecil yang sangat baik padaku sampai saat ini. Aku pun mulai mengetik keyboard membalas pesannya.


📤Aku.


(Siap. Tapi, aku besok mau bertemu anaknya Pak Polisi Edson Wit.)


Tak berselang lama pesanku di balasannya.


📥Wiwit.


(Gak papa, anggap aja kamu balas dendam sama Yesi sudah merebut pacar kamu. Ya, walaupun kalian baru tiga hari pacaran.)


Aku kesal membaca pesannya, walaupun yang di ucapankan dia benar semua.


"Wit, walaupun cuma tiga hari doang. Tetap aja sakit tau," ucapku sambil membalas pesannya.


📤Aku.


(Iya, tunggu saja besok jemput aku di rumah. Bay mau bobok cantik dulu.)


Aku langsung menyimpan ponselku ke dalam laci kemudian bergegas untuk tidur kembali. Walaupun tadi aku tidur siang sangat lama, tetap saja aku sudah mengantuk lagi.


Bersambung.


Halo teman-teman, dukungan Author ya dengan tinggalkan jejak kalian.


Dalam Bab ini memang real kisah nyata, di mana wanita yang berinisial ( I ) di tinggal pacarnya tanpa berpamitan.


Mereka baru tiga hari pacaran, selang satu hari inisial ( D ) teman si inisial ( I ) berpacaran juga dengan pacar inisal ( I ) karena mereka belum ada kata putus.

__ADS_1


Pesan Author.


Memilih sahabat lebih baik dan bagus, ketimbang memilih pria yang akan menghancurkan persahabatan mu dan hatimu juga.🙏


__ADS_2