
Sebenarnya, aku sedikit keberatan akan permintaan Pak Yogi yang menginginkan kami kembali ke Indonesia. Sebab, aku tidak ingin bertemu bang Eril atau Flo di sana.
Namun, aku juga merindukan emak dan bapak di sana.
"Citra, aku benar-benar mencintai mu dan ingin hidup bersamamu. Jangan dengarkan kata Flo! Karena, dia memang tidak suka pada mu," ucap Pak Yogi.
Terlihat dia benar-benar bersungguh, mengungkapkan bahwa dia mencintaiku. Namun, aku masih ragu dan trauma.
"Tapi, saya butuh waktu Pak," jawab ku dengan lembut.
Pria itu tersenyum dan berkata, "Baiklah, aku mengerti."
Aku meneteskan air mata, bukan karena dia mau mengerti aku. Tapi, karena aku kelepasan lagi buang angin dan aromanya sama seperti tadi.
"Eh, bau apa ini?" tanya Pak Yogi sambil menutup hidungnya.
Aku langsung cepat-cepat turun dari mobil, dan membuka pintu mobil agar aroma busuk itu hilang.
"Pak, maafkan saya sudah buang angin," ungkap ku.
Pria itu langsung diam sambil menatap ku dengan tidak percaya, kalau wanita cantik seperti ku bisa buang angin juga. Bahkan sampai bau sekali.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Tapi, lain kali jangan memakan bangkai lagi," ucap Pak Yogi.
Wajah ku tebal, karena dia berkata seperti itu. Namun, aku harus tenang menahan rasa malu yang mendalam ini.
"Pak, saya masuk ke dalam dulu," ucap ku dengan lembut.
"Iya, aku juga mau pulang," jawabnya.
Aku bergegas masuk ke dalam, dengan rasa malu yang mendalam. Saat aku di dalam kamar. Terlihat dari jendela mobil Pak Yogi masih ada di sana.
"Kok dia gak jadi pulang ya?" tanya ku dengan penasaran.
Ku lihat lagi mobil itu, dan sudah tidak ada lagi orangnya. Apa mungkin dia sudah pergi dan meninggalkan mobilnya.
Aku pun menidurkan tubuh ku dengan perlahan dan mulai tertidur dengan pulas.
Tiga jam kemudian ...
Aku bangun saat mendengar suara adzan berkumandang, dan langsung mandi kemudian melaksanakan shalat Maghrib sendirian.
Aku berdoa dan memohon kepada Allah agar selalu diberikan kemudahan dalam percintaan ku.
__ADS_1
Tiba-tiba, ponselku bergetar dan aku lihat ada pesan masuk dari Pak Yogi.
Pak Yogi: Citra, saya titip mobil ada kuncinya di sana.
"Eh, apa dia kira aku bisa bawa mobil?" ucapku sambil membalas pesannya.
Aku: Baik Pak, tapi saya tidak bisa bawa mobil.
Tak berselang lama pesan ku di balas Pak Yogi, dan aku langsung melihatnya.
Pak Yogi: Tidak apa, ambil saja kuncinya. Besok akan saya ambil!
Aku tersenyum dan membalas iya, kemudian berjalan menuju luar ingin mengambil kunci mobil milik Pak Yogi, tanpa melepaskan mukena ku.
Karena aku malas memakai hijab lagi. Setelah sampai, aku pun langsung mengambil kunci itu. Namun, aku mencium aroma yang sangat familiar sekali di hidung ku.
"Ini kayaknya aroma tadi, sebab itu dia tidak membawa mobil ini. Ya Allah, kenapa aku bisa menciptakan aroma busuk seperti ini?" aku bergegas ke luar.
Karena aroma busuk itu masih saja ada, mungkin karena Pak Yogi tidak membuka pintu mobil.
Saat aku hendak berjalan, aku menghentikan langkah ku karena teringat ada benda yang sempat ku liat tadi.
__ADS_1
Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam dan mengambil benda itu. Terdapat foto kami berdua saat di Indonesia.
BERSAMBUNG.