
Sesampainya di cafe milik Pak Polisi Edson, aku langsung masuk ke dalam ruangan Pak Yogi.
Ceklek!
"Kamu!" pekikku dan pria yang ada di samping Pak Yogi, saat aku masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Citra, seharusnya kamu istirahat di rumah saja," ucap Pak Yogi dengan sangat lembut.
Aku mulai berjalan menuju Pak Yogi, ingin bertanya di mana tasku berada.
"Tunggu!" tahan pria itu saat aku hendak duduk di bangku yang berhadapan dengan Pak Yogi.
"Ada apa?" tanya Pak Yogi sambil melirik ke arahku, sedangkan aku tidak peduli dan terus berjalan dan duduk di hadapan mereka.
"Dia, adalah Citra?" tanya pria tersebut sambil melirik ke arahku.
"Iya," jawabku dan pyak Yogi secara bersamaan sehingga kami saling menatap satu sama lainnya.
"Euum, aku Eril." Pria itu memperkenalkan dirinya dan aku hanya menganggukkan kepalaku, karena sama sekali tidak mengenalnya.
"Euum, maaf atas kejadian tadi saat aku menendang botol," ujarku padanya, membuat Pak Yogi bingung.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Pak Yogi dengan sangat kebingungan.
"Tidak!"
"Iya!"
Aku langsung menatapnya, karena benar jika aku tidak mengenal dia sama sekali. Namun, mengapa dia menjawab iya.
"Aku Eril, adiknya bang Amon," ucapnya membuat aku tidak percaya.
'Tidak mungkin, adik dan kakak sangat jauh berbeda?' batinku sambil berfikir.
"Eril, ada apa sebenarnya?" tanya Pak Yogi dengan sangat kebingungan sehingga aku pun menceritakan semuanya.
Setelah semuanya selesai aku berpamitan pulang, karena sudah menemukan tas milikku. Saat di luar tanganku di tarik oleh Eril dari belakang.
"Ada apa?" tanyaku dengan sangat cuek, sambil melepaskan tangannya.
"Aku, akan mengantarmu pulang," jawabnya membuatku sedikit takut, karena di rumah sama sekali tidak ada orang.
"Tidak, aku bisa sendiri." Aku bergegas pergi dari sana dengan cepat.
"Citra!" teriak Bang Eril sambil menatap kepergianku.
__ADS_1
Aku tidak menggubris teriakannya, dan terus saja berjalan dengan cepat agar dia tidak melihat jejekku.
Setelah aman dari Bang Eril, aku berhenti dan duduk di halte bus karena merasa sangat kelelahan.
"Ternyata dia tampan sekali, tidak ada salahnya aku bersahabat dengannya," ucapku sambil mengingat kembali wajah Bang Erli tadi.
Aku tidak munafik, yang mengagumi ketampanan bang Eril. Sampai-sampai berkhayal kami berpacaran.
"Astaghfirullah, apa yang sedang aku pikirkan?" Aku kembali berjalan menuju rumah.
Setelah sampai aku langsung masuk ke dalam dan menidurkan tubuhku di sofa, kemudian membuka ponsel melihat banyak sekali pesan masuk dari Bang Eril.
📥bang Eril.
(Citra, malam minggu abang datang. Ya?)
Hanya salah satu pesan dari Bang Eril yang aku baca. Namun, tidak membalasnya.
"Biarkan saja, lagi pula aku juga tidak terlalu tertarik padanya," ucapku sambil menghapus pesan dari Bang Eril.
Aku membuka sosial media, melihat poto Yesi bersama dengan Gie berpelukan terlihat sangat mesra. Hatiku sakit melihat mereka bahagia di atas penderitaanku.
"Semoga kalian bahagia, sudah membuatku sakit seperti ini. Ingatlah karma akan datang walaupun dengan perlahan," ucapku sambil menutup ponsel.
Rasa sakit hati itu masih saja terasa karena selalu melihat mereka bahagia, bukan karena iri. Namun, pengkhianatan dari sahabat baikku yang membuat aku hancur.
Sekarang aku tahu, tidak ada ketulusan dari seorang teman padaku walaupun kami selalu bersama.
Tiga hari kemudian ...
Pagi ini aku sedang membuat sarapan, karena kedua orang tuaku sudah pulang sehingga aku harus rajin.
"Bontot, setelah ini jemur baju!" pinta kak Fiia padaku.
Bontot/ terakhir, itu adalah nama panggilanku dari orang tuaku sejak kecil.
"Iya!" sahutku dari dapur.
Kalau saja tidak ada orang tua kami, aku tidak mau mengerjakan semua tugasnya seperti ini.
"Bontot, emak mau pergi sebentar!" teriak emak dari luar dan aku hanya menganggukkan kepala saja, karena suaraku tidak akan terdengar sampai di luar.
Setelah selesai membuat sarapan, aku membuat kopi untuk bapak karena beliau suka sekali minuman itu.
Aku melanjutkan tugas menjemur pakaian, di taman belakang dengan sangat terburu-buru saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 08:00 Wib.
__ADS_1
"Ya ampun, pasti aku akan terlambat hari ini dan mendapatkan hukuman lagi." Aku bergegas pergi menuju kamar mandi dan langsung membersihkan diri.
Setelah selesai aku langsung bersiap-siap, mengubah baju kerja. Selesai itu aku langsung bergegas pergi tanpa sarapan terlebih dahulu.
"Emak, pergi dulu!" teriakku sambil berjalan dengan cepat ke luar dari rumah.
"Iya!" jawab emak dari dalam.
Setelah sampai di cafe aku langsung mengerjakan tugas dengan baik, saat sedang mencuci piring ada tangan yang melingkar di pinggangku.
"Astaghfirullah!" Aku menjauh dari Bang Eril yang entah sejak kapan ada di belakangku, sampai pria itu memegang pinggang rampingku.
"Kayak lihat hantu aja," kekeh Bang Eril sambil menatap wajahku.
"Bukanya Abang makhluk astral. Ya?" tanyaku sambil mengerjakan tugas kembali.
"Nakal. Ya, entar abang gigit lo," ucap Bang Eril dengan sangat genit, membuatku bergidik ngeri.
"Bang, pergi dari sini kalau pak Yogi lihat entar dia marah." Aku berucap dengan sangat hati-hati takut Bang Eril tersinggung.
"Enggaklah, kamu lupa ini cafe milik siapa?" tanya Bang Eril, membuatku tersadar kalau dia adalah pemilik cafe.
"Ya, tetap tidak baik karena kita bukan mahram. Apa lagi sampai Abang seperti tadi itu, kan' timbulnya zinah," ucapaku sambil terus mengerjakan tugas.
"Baiklah, besok tidak akan abang ulangi lagi," ucap Bang Eril sambil bergegas pergi dari hadapanku.
Setelah pria itu pergi, aku terus mengerjakan tugas sampai selesai dan beristirahat karena sudah masuk jam makan siang.
"Ambillah," ucap Bang Eril sambil memberikan aku nasi kotak.
"Terimakasih," ucapku dengan sangat lembut dan mengambil nasi darinya.
"Jangan lupa untuk memakan itu, dan abang pamit. Ya," ucap Bang Eril sambil bergegas pergi dari hadapanku.
'Ternyata dia baik juga, walaupun sedikit mesum,' batinku.
Saat aku mau memakan makanan dari Bang Eril, tanganku di tahan oleh Pak Yogi dan dia memberikan sebuah nasi kotak juga.
"Ada apa, Pak?" tanyaku sambil menatap wajah Pak Yogi.
"Makan ini! Biarkan itu untukku," ucap Pak Yogi yang mengambil nasi dari Bang Eril,dan aku hanya diam saja tidak protes sama sekali.
"Terimakasih," ucapku dengan sangat lembut.
Pria itu pergi dari hadapanku, dan aku mulai memakan nasi darinya dengan sangat lembut agar terlihat seperti seorang wanita. Padahal kalau di rumah aku terlihat seperti preman pasar yang sangat kelaparan.
__ADS_1
'Apa, Pak Yogi menyukaiku?' batinku sambil berfikir. Kalau manager cafe itu jatuh hati padaku.
Bersambung.