
Edson membuka ponselnya, kemudian membuka mulut lebar-lebar melihat poto Eril bersama wanita tengah bercumbu.
"Eril!" teriak Edson kemudian dia terjatuh sambil memegang dada yang terasa sangat sakit.
"Papa!" Amon langsung membantu papanya bangun dan membawanya ke tempat tidur.
"Ada apa, Pa?" tanya Amon sambil mengelus tangan sang papa.
"Lihat ponsel papa, apa yang sudah di lakukan oleh adikmu itu!" Edson menunjuk ke arah ponselnya yang ada di lantai.
Amon langsung bergegas mengambil ponsel sang papa, dan membukanya kemudian matanya membulat sempurna.
'Pantas saja Citra sampai menangis tadi, ternyata ini adalah alasannya,' batin Amon.
"Amon, tolong panggil Citra kemari. Bila perlu jemput dia papa ingin bicara padanya," pinta Edson pada sang anak.
Amon menganggukkan kepala kemudian dia bergegas pergi untuk menjemput Citra, walaupun ia sama sekali tidak tahu di mana rumah gadis itu.
Saat di jalan, Amon bertanya-tanya pada warga di mana rumah Citra dengan memperlihatkan poto gadis itu yang ada di ponselnya.
Ya, Amon masih menyimpan poto Citra di ponselnya karena dia masih sangat menyukai gadis itu.
Amon berhenti di sebuah warung, kemudian mendekati pria paru baya yang tengah duduk di sana.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam Nak," jawab pria paruh baya itu.
"Saya numpang tanya, apa Bapak mengenal gadis ini dan di mana rumahnya?" tanya Amon sambil memperhatikan poto Citra.
Pria paruh baya itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Rumahnya, ada di sebrang jalan itu," jawab pria paruh baya itu.
Amon melirik ke arah sebrang jalan, kemudian dia tersenyum kepada pria paru paru itu.
"Terimakasih, saya permisi dulu." Amon bergegas pergi dari hadapan pria paru paru yang memberitahu di mana rumah gadis yang tengah ia cari.
Setelah sampai di depan rumah yang di tunjukkan oleh pria paru paru tadi, Amon mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut. Namun, tidak ada jawaban sama sekali.
"Apa, rumah ini tidak ada orangnya?" tanya Amon sambil melirik ke arah jalanan, dan terlihat pria paruh baya tadi mendekatinya.
"Loh, Bapak ngapain ke sini?" tanya Amon dengan sangat sopan.
Pria paru baya itu tersenyum kemudian memegang pundak Amon dengan sangat lembut.
"Ini rumah saya," jawab pria paruh baya itu, membuat Amon membuka mulut lebar-lebar.
Amon menelan ludahnya dalam-dalam, karena merasa malu sudah bersikap tidak sopan pada ayahnya Citra. Wanita yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Maafkan saya, karena sudah tidak sopan pada Bapak tadi," ucap Amon sambil mencium tangan pria paru baya itu.
"Sudah-sudah, ayo kita masuk ke dalam." Salam membuka pintu dan masuk ke dalam bersama dengan Amon.
"Assalamualaikum semuanya, bapak pulang!"
"Wa'alaikumsalam," jawab istrinya Salam.
"Loh, dia siapa Pak?" tanya Mina sambil mencium tangan suaminya.
"Temannya Citra," jawab Salam dengan sangat lembut.
"Duduk Nak, kita bicara di saja. Tolong buatkan minum untuk dia," ucap Salam sambil membawa Amon duduk di sofa.
Mina bergegas ke dapur sekaligus ingin memanggil anak gadisnya, ia berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar Citra.
Ceklek!
"Emak?"
"Ayo, ada temanmu yang datang," ucap Mina sambil mendekati sang anak.
"Siapa?" tanya Citra dengan sangat penasaran, karena seingatnya sahabat atau teman dia sudah meninggal.
"Entahlah, emak tidak mengenal dia," jawab Mina dengan jujur sambil menarik tangan sang anak.
'Teman siapa? Karena aku sudah tidak memiliki teman lagi sejak kepergian Wiwit,' batin Citra.
Sesampainya di ruang tamu, Citra membuka mulut lebar-lebar melihat Amon ada di hadapannya bersama sang bapak.
'Dari mana dia tahu rumahku?' batin Citra.
Citra tersenyum manis kemudian duduk di samping sang bapak.
"Citra, Nak Amon sudah menceritakan tentang kalian berdua. Sekarang bersiap dan pergilah menemui pak Polisi Edson beliau sedang sakit," ucap Salam sambil menatap wajah sang anak.
Citra terkejut mendengar bapaknya mengenal Pak Polisi Edson. Namun, ia enggan bertanya karena ada Amon.
"Baiklah, sebentar Citra pakai hijab dulu." Citra bergegas pergi dari sana dan Mina baru saja sampai.
"Loh, Citra mau ke mana?" tanya Mina sambil menatap kepergian sang anak.
"Amon ini anaknya bang Edson, dan Citra akan pergi menjenguk Polisi itu," jawab Salam sambil melirik ke arah Amon.
Mina hanya tersenyum sambil memberikan kopi pada Amon dan sang suami, kemudian dia duduk di samping Salam.
'Artinya dia Abangnya Eril?' batin Mina sambil berpikir.
"Maaf Bu, Pak, saya sudah lancang ingin membawa Citra karena itu permintaan papa," ucap Amon dengan sangat sopan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sampaikan pada papamu kami akan segera menemui dia jika waktu sudah ada," pesan Salam pada Amon.
"Baik, Om." Amon menjawab dengan sangat sopan sambil menundukkan wajahnya.
'Dia anak yang sopan, aku ingin sekali menjodohkannya dengan Citra atau Fiia,' batin Salam.
*. *. *.
Citra berganti baju kemudian dia mengunakan hijab dan berjalan dengan perlahan ke luar dari kamarnya.
'Sesampainya aku di sana, apa yang harus aku ucapkan kalau Pak Polisi Edson bertanya hubunganku dan Bang Amon?' batin Citra sambil berfikir.
Setelah sampai di ruang tamu, Citra langsung mencium tangan kedua orang tuanya begitu juga dengan Amon.
"Emak, Pak, Citra pergi duku. Ya, takut kemalaman," ucap Citra sambil bergegas pergi dari sana.
"Om, Tante, saya pergi dulu bawa Citra," ucap Amon dengan sangat sopan.
"Iya, hati-hati dan jangan terlalu malam pulangnya," pesan Salam sambil menatap kepergian Amon.
Setelah Amon tidak terlihat lagi, Mina langsung menghampiri sang suami dan duduk di sampingnya.
"Pak, kalau kita jodohkan mereka bagaimana?" Mina berucap sambil melirik ke arah suaminya.
"Kita satu pemikiran, karena Amon itu sangat sopan kalau di lihat-lihat," jawab Salam sambil mengingat kembali sikap Amon.
"Benar," sahut Mina.
Mereka berdua menyusun rencana perjodohan Amon dan Citra yang akan di sampaikan besok, kepada Edson sahabat lama mereka yang sudah jarang sekali bertemu.
Kini Citra bersama Amon sudah sampai di rumah Edson, dan mereka berdua langsung masuk ke kamar sang Polisi.
Ceklek!
"Assalamualaikum," ucap Citra dan Amon secara bersamaan saat masuk ke dalam, membuat Edson tersenyum bahagia.
"Wa'alaikumsalam, sini duduk sama paman," ucap Edson dengan sangat lembut sambil menatap wajah Citra.
Citra menghampiri Edson bersama dengan Amon, kemudian mereka duduk di samping sang Polisi yang mendadak sakit.
"Bagaimana dengan hubungan kalian?" tanya Edson, yang tidak mengetahui kalau Citra dan Amon sudah putus.
"Baik," jawab Citra dengan cepat, dan Edson tersenyum sedangkan Amon diam tidak mau berbicara apapun.
"Baguslah, bagaimana kalau kalian bertunangan saja?" tanya Edson.
"Apa!" pekik Citra dan Amon secara bersamaan, membuat Edson terkejut.
Citra langsung menatap wajah Amon, begitu juga dengan pria itu yang menatap wajah gadis pujaannya.
__ADS_1
Bersambung.