
Setelah Shalat Subuh, aku bersiap-siap berangkat ke rumah sakit. Sebelum pergi aku ingin menelpon Pak Yogi terlebih dahulu untuk meminta izin polos.
Panggil sudah berdering, dan Pak Yogi langsung menjawab teleponku.
📞Pak Yogi.
Aku.
[Assalamualaikum, Pak.]
Pak Yogi.
[Wa'alaikumsalam, ada apa?]
Aku.
[Saya, ingin meminta izin tidak masuk hari ini. Karena mau ke rumah sakit.]
Aku berucap dengan sangat hati-hati, takut dia tidak memberikan aku izin karena Pak Yogi hanya diam saja.
Aku.
[Kalau tidak boleh, tidak apa-apa Pak. Euum saya berhenti bekerja.]
Pak Yogi.
[Boleh. Tapi, besok harus bekerja lagi.]
Aku tersenyum mendengar ucapannya, karena dia sudah mengizinkanku libur hari ini.
Aku.
[Terimakasih, Pak.]
Aku pun langsung memutuskan sambungan telepon, karena harus berangkat ke rumah sakit pagi-pagi sekali.
Aku merapikan penampilan, kemudian bergegas pergi dari kamar saat di depan pintu kakakku memanggil namaku.
"Citra!"
Aku langsung menoleh dan menghampirinya, terlihat dia ingin menyampaikan sesuatu padaku.
"Katakan?" tanyaku sambil menatap wajahnya yang terlihat jelas ingin mengungkapkan sesuatu.
"Tidak ada. Kamu mau ke mana?" tanya Kak Fiia yang terlihat seperti seorang yang tengah berbohong.
"Ke rumah sakit," jawabku dengan sangat lembut.
"Rumah sakit?" tanyanya dengan sangat terkejut, karena aku lupa memberitahukan kalau Wiwit akan operasi hari ini.
"Wiwit, akan operasi hari ini dan aku ingin menemaninya," jawabku dengan sangat lirih mengingat keadaan sahabatku itu.
"Iya, pergilah aku akan menyusul nanti bersama Yesi," ucap Kak Fiia sambil pergi dari hadapanku.
Aku langsung bergegas pergi, karena takut akan terlambat dan tidak bisa bertemu Wiwit sebelum dia operasi.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah sakit, aku langsung mencari kamar inap Wiwit dan masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," ucapku sambil masuk ke dalam.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang ada di sana.
Aku melihat keadaan Wiwit sangat memprihatikan, sepertinya dia sudah tidak tahan lagi akan rasa sakit di dalam tubuhnya.
Aku mendekatinya dan memeluk dia, dan air mataku mengalir begitu saja tanda izin dariku sehingga semua orang menatapku.
"Citra, jangan seperti ini." Wiwit berucap dengan sangat lemas, semakin membuatku terisak-isak.
"Wit, kamu janji sama aku jangan tinggalkan kami semua," ucapku sambil memegang tangannya yang sangat dingin.
"Iya," jawabnya dengan sangat lemas.
"Citra, kita harus membawa Wiwit ke ruang operasi sekarang!" pinta ayahnya Wiwit, karena perawatan sudah datang.
"Baik Paman," jawabku sambil menghapus air mata yang terus berjatuhan. Entah mengapa rasanya aku akan kehilangan Wiwit setelah ini.
Setelah sampai di ruangan operasi, Wiwit melambaikan tangannya ke arahku.
"Citra, ini ada surat untukmu dari Wiwit kemarin," ucap ibunya Wiwit padaku.
Aku mengambil surat itu dan langsung membacanya.
Dari Wiwit.
(Citra, kalau aku sudah tidak ada lagi. Tolong jangan lupakan aku dan buka ponselku karena ada sesuatu untukmu. Ponselku ada pada Gunawan.)
Deg!
"Gunawan, apa kamu tahu isi surat ini?" tanyaku sambil melirik ke arah adiknya Wiwit.
"Tidak, memangnya apa isi suratnya?" tanya Gunawan balik padaku, karena dia juga tidak tahu apa yang di sembunyikan oleh Wiwit.
"Nak, apa yang di tuliskan oleh Wiwit?" tanya ibunya Wiwit padaku.
Aku bingung harus berkata apa, tidak mungkin aku menceritakan isi surat ini yang hanya untukku bukan untuk keluarga Wiwit.
"Tidak ada, ini hanya pesan dia pada saya," jawabku dengan senyuman.
"Oh."
Tiga jam kemudian ...
Dokter ke luar dari ruangan operasi dengan raut wajah sedih, membuat kami semua takut dan cemas akan keadaan Wiwit.
"Dok, bagaimana dengan anak saya?" tanya ibunya Wiwit dengan sangat cemas.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin," jawab Dokter dengan sangat lirih.
"Apa!" teriakku bersamaan dengan Gunawan.
Aku menangis tersedu-sedu, kemudian Gunawan menghampiriku dan memeluk tubuhku yang bergetar hebat.
__ADS_1
"Citra, sudah ikhlaskan kepergian kak Wiwit," ucap Gunawan sambil mengelus-elus punggungku.
Aku tidak bisa mengatakan apapun, karena rasa tidak percaya kalau Wiwit sudah meninggalkan kami semua. Padahal, tadi dia masih berbicara padaku.
Suasana di depan ruangan operasi penuh haru, semua orang menangis sampai ada yang pingsan karena kepergian Wiwit.
Sore hari tiba ...
Semua orang sudah pulang dari pemakaman Wiwit, sedangkan aku dan Gunawan masih di sana dan juga ada Kak Fiia.
"Citra, ayo kita pulang!" pinta Kak Fiia. Namun, aku masih ingin berlama-lama di makam Wiwit.
"Citra, ini ponsel kak Wiwit." Gunawan memberikan aku ponsel kakaknya dan aku langsung menerima.
"Kamu sudah tahu, apa pesan Wiwit?" tanyaku, karena dia memberikan ponsel seperti yang tertulis di surat tadi.
"Tidak, dia hanya berpesan ponsel ini harus di berikan padamu," jawab Gunawan sambil melirik ke arah makam Wiwit.
"Pesan apa?" tanya Kak Fiia dengan sangat kebingungan.
"Jangan kepo!" Aku menjawab ucapannya dengan ketus, membuat dia langsung pergi dari sana.
Kini tinggal aku dan Gunawan berdua, dan kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Setelah aku sampai di rumah, langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.
Aku benar-benar tidak percaya kalau Wiwit sudah pergi meninggalkan kami semua. Setelah selesai mandi aku langsung bergegas memakai baju.
"Sebaiknya aku lihat saja apa isi ponselnya, Wiwit."
Aku bergegas mengambil ponsel Wiwit dan mulai membukanya, terlihat ada beberapa pesan masuk.
"Tidak ada yang mencurigakan dari pesan ini, apa aku lihat saja galeri?" Aku langsung membuka galeri ponsel Wiwit.
Mataku membulat sempurna, saat melihat poto Bang Eril bersama dengan Flo yang sedang berciuman di taman.
"A-apa semua ini?" Aku mulai menangis sambil terus melihat beberapa poto lainnya.
Hatiku sangat sakit melihat poto mereka yang sangat intim, sehingga aku langsung menelpon Bang Eril. Namun, ponselnya tidak bisa di hubungi.
'Sakit, untuk yang kedua kalinya,' batinku.
Aku tidak masalah kalau Bang Eril bersama dengan Flo. Namun, bagaimana nasibku yang sudah berciuman dengannya.
Aku melihat pesan dari Flo, yang mengatakan kalau dia memang tidak pernah menyukaiku berpacaran dengan Bang Eril.
Sungguh sakit melihat keponakanku menikung aku seperti ini. Pantas saja sikapnya sangat mencurigakan kemarin.
"Aku akan diam saja, karena ingin balas dendam. Kenapa kalian sakiti aku yang sama sekali tidak pernah menyakiti siapapun!"
Bersambung.
Halo teman-teman semuanya.
Wiwit sahabat sejati Citra memang benar-benar meninggal beberapa bulan lalu, karena penyakit yang di deritanya. 😭😭
__ADS_1
Pesan Author. " Sayangi sahabatmu selagi dia masih ada, kalau sudah tidak ada penyesalan akan percuma saja!"
Salam dari Author: Cinta Terindah.🙏🏻