Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
2 POV Citra


__ADS_3

Aku tidak percaya sudah melemparkan centong yang mengenai Manager cafe, yang sudah pasti setelah ini mendapatkan hukuman.


"Citra!" serunya, membuatku sangat takut dan langsung menghampirinya dengan senyum manis.


"Maafkan saya Pak, tadi benar-benar tidak sengaja melemparkan itu," ucapku dengan sangat lembut sambil menundukkan wajah.


"Pak, apa saya akan dihukum?" tanyaku sambil menatap ke arahnya.


Aku lihat Pak Yogi sangat marah padaku, kemudian dia menarik tanganku ke luar tanpa mengatakan apapun, dan aku terus berdoa agar hukuman kali ini tidak seperti sebelumnya.


'Ya Allah, semoga saja Pak Yogi tidak menghukum ku melainkan membawa aku ke penghulu,' batinku dengan sangat sadar.


Ya ampun, entah apa yang ada di dalam pikiranku saat ini sehingga memikirkan hal aneh. Setelah aku dan Pak Yogi sampai di belakang cafe, pria itu memberikanku sebuah sapu lidi juga sebuah sekop sampah.


"Pak, ini un-" ucapku terputus karena Pak Yogi menutup mulutku mengunakan tangannya.


Aku merasa akan pingsan saat ini juga, karena jarak kami sangat dekat sayangnya itu tidak terjadi.


"Bersihkan taman belakang ini! Jangan mencoba kabur, karena saya akan terus memantau mu!" ancam Pak Yogi padaku.


Aku sama sekali tidak takut padanya. Namun, aku menghargai dia sebagai atasanku dan juga pria idaman.


"Mala diam, kerjakan sekarang!" serunya membuatku terkejut.


"Siap!" Aku menjawab sambil bergegas mengerjakan tugasku, dan Pak Yogi langsung berlalu pergi.


Setelah kepergian pria itu aku mengehentikan pekerjaanku dan menatap ke arahnya yang sudah tidak terlihat lagi.


"Dasar pria kutub, kalau bukan karena cintaku padamu sudah lama aku membencimu!" seruku dengan sangat kesal.


Aku pun mulai mengerjakan tugas, saat sedang memasukan dedauan ke dalam tong sampah, sesosok wanita astral. Eh salah, maksudnya keponakanku datang dengan raut wajah meledek.


"Ledek terus, ini semua gara-gara kamu!" Aku berucap dengan ketus sambil terus menyapu. Entah mengapa jika melihat wajahnya membuat aku sangat kesal.


"Tante, jangan ketus-ketus aku bantuin. Ya?" tanyanya dengan sangat meledak, walaupun nadanya berucap sangat lembut.


"Sudah jangan! Kamu balik dan kerjakan pekerjaan ku!" sentakku membuatnya langsung mundur.


"Jahat, hatiku ini lembut tidak bisa di bentak," rengek manjanya.


Ingin rasanya Aku lemparkan tong sampah ini padanya. Namun, takut kejadian tadi terulang lagi hanya diam saja.


"Hus, pergi sana jangan ganggu saya makhluk astral!" usirku yang seolah-olah tidak melihat keberadaannya.

__ADS_1


"Tante, menyebalkan!" teriaknya sambil berlalu pergi.


Aku tertawa melihatnya pergi, kemudian melanjutkan kembali tugas dengan baik agar segera selesai, dan bisa kembali mencuci piring.


Sepuluh menit kemudian ...


Pekerjaanku telah usai, dan bergegas kembali ke dapur untuk mencuci piring lagi. Setelah sampai mataku melihat semua piring sudah bersih.


"Wah, bersih semuanya," ucapku tidak percaya kalau Flo akan mengerjakan tugasku juga.


"Ini, kan' Flo cantik, manis, imut, seksi, lengkap deh," ucapnya dengan tiba-tiba.


Aku terkejut mendengar suara tanpa adanya tubuh manusia, sehingga aku hanya diam dan duduk santai. Walaupun aku tadi sekilas melihat adanya Flo di samping pintu.


"Euum, makhluk itu lagi," ucapku dengan sangat pelan agar dia tidak mendengar ucapanku.


Sialnya dia mendengarkan ucapanku dan menghampiri aku, terlihat jelas jika dia sangat marah dari ratu wajahnya.


"Tente, sebenarnya ada masalah apa sama aku?" tanyanya sambil menatap ke arahku.


"Tidak ada, hanya saja wajahmu itu selalu membuatku kesal. Tapi, tidak ingin memukulmu," jawabku dengan sangat cuek.


"Tobat Tan, tobat!" Flo berkata dengan ketus dan berlalu pergi dari hadapanku.


Otak kecilku tidak bisa mencerna ucapannya tadi sehingga aku memilih untuk tidur sebentar. Aku mulai memejamkan mata dan terlelap dengan nyenyak.


Alam mimpi ...


Aku melihat seorang wanita cantik memakai baju kesayanganku, tidak tinggal diam dan langsung menghampirinya mencoba mengambil milikku kembali.


"Hei ja-lang! Kembalikan bajuku!" teriakku sambil menarik tangannya, betapa terkejutnya melihat siapa orang tersebut.


"Pinjem bentaran doang, Tente pelit banget," ucapnya sambil menatap wajahku.


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat ini, karena sangat kesal dan menarik tangannya.


"Kamu, mau di dalam mimpi dan nyata sama saja selalu menyebalkan!" teriakku sambil menjambak rambutnya.


"Sakit, Ten!" teriaknya.


Aku pun semakin menjambak rambutnya agar dia kapok tidak ingin memiliki apa yang ku punya.


"Sakit, Tan!"

__ADS_1


Eh, kenapa teriakan itu sangat nyatanya. Ya?


Brak!


Aku terkejut dan langsung bangun, dengan mata sayup-sayup melihat Pak Yogi memukul meja yang ada di hadapanku.


"Kamu saya berikan sp satu!" serunya sambil memberikan aku sepucuk surat dan langsung menerima surat itu.


'Ya Allah, surat ini. Entah bagaimana aku menjelaskannya pada Peyot?' batinku sambil berfikir.


"Terimakasih Pak, saya permisi dulu," ucapku dengan sangat lirih, kemudian aku melirik ke arah samping yang terdapat Flo di sana.


"Besok-besok jangan seperti itu lagi!" teriaknya saat aku sudah berjalan keluar.


Karena sangat kesal pada Pak Yogi, aku tidak menjawab ucapannya dan terus berjalan keluar.


Aku berjalan dengan perlahan menuju rumah, entahlah rasa takut tiba-tiba melandaku padahal, biasanya tidak setakut ini pada kak Fiia.


"Sesampainya aku di rumah, pasti Peyot itu akan marah karena sudah membuat pekerjaan dia terancam," ucapku lirih.


Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar dengan perlahan dan kakakku langsung menatap tajam ke arahku.


"Jangan bilang, kamu buat ulah lagi dan pekerjaanku terancam lagi?" tanyanya dengan nada pelan. Namun, mengancam ku.


Aku memasang wajah sedih dan langsung memeluknya, dan berpura-pura menangis agar dia kasihan.


"Kak Fiia, aku dan kamu terkena sp satu dari pak Yogi itu." Aku berucap dengan lirih agar dia tidak marah padaku.


"Sana pergi!" Dia mendorongku dengan kasar sehingga aku membalasnya.


"Enak aja. Ya, kamu marah-marah sama aku!" teriakku sambil melemparkan bantal padanya.


"Dasar mahluk astral!" teriaknya tak mau kalah dari aku.


Aku ambil menyengat nyamuk dan menyalakannya, sontak saja membuat dia membulatkan mata lebar-lebar. Karena sudah tersetrum.


"Maaf, aku sengaja tadi melakukanya," ucapku sambil menghentikan aktivitasku yang lumayan ekstrim tadi.


"Adik duralek!" teriaknya sambil mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh ke lantai.


"Enak dong, buat chat kamar kita ini," kekehku sambil bergegas pergi dari kamar sebelum dia semakin marah.


"Citra! Sinting!" teriaknya dengan sangat kesal.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2