
Aku kembali mengerjakan pekerjaanku, sebab sepulangnya kami dari cafe, aku dan Pak Yogi akan ke rumah, karena dia ingin menjenguk anakku. Ya, walaupun Ammar bukan anak kandungku. Tetap saja, aku menganggapnya sebagai darah dagingku.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan yang dibantu oleh Pak Yogi, kini aku sudah selesai dan, kami bergegas pulang, sebab pria baju merah ini, sangat tidak sabar melihat anakku, sekaligus keponakannya.
"Citra, saya ingin kamu bisa secepatnya menjawab pertanyaan saya," ucap Pak Yogi dengan lembut.
Aku terdiam, karena tidak tahu apa yang dimaksudkan olehnya dan, penyataan yang mana yang harus aku jawab! Sebab, seingatku tidak ada penyataan darinya sejak tadi kami bertemu.
"Maaf Pak, pertanyaan yang mana?" tanyaku dengan lembut.
Sebab, aku tidak malu salah jawab dan, dia akan marah padaku, karena salah menjawab pertanyaannya. Pria itu tersenyum manis padaku, sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Menikah denganku," jawabnya lembut.
Aku pun tersenyum, karena baru mengingat pertanyaan yang itu dan langsung menatap wajahnya dengan lekat.
"Secepatnya, sebab saya ingin Ammar besar dan, mengetahui kalau kita menikah," jawabku lembut.
Ku lihat, wajah pria itu berubah saat aku berbicara tadi dan, aku pun langsung mengalihkan pembicaraan, agar dia tidak sedih atas keputusan yang aku ambil.
__ADS_1
Karena, aku tidak ingin membuat Pak Yogi terbebani karena anakku dan, aku tidak ingin ada kata ungkitan saat Ammar besar nantinya.
Setelah kami sampai di rumah, aku dan Pak Yogi langsung turun dari mobil dan, berjalan masuk ke dalam.
"Assalamualaikum," ucapku dan Pak Yogi bersamaan saat kami memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab emak dengan lembut.
Aku berjalan menghampiri emak dan, mencium tangannya, begitu juga dengan Pak Yogi, aku sangat menyukainya, sebab dia sangat sopan kepada kedua orang tuaku.
Membuatku semakin yakin, bahwa dia adalah pria yang baik untukku dan ayah yang baik untuk Ammar kelak.
"Iya Bu," jawab Pak Yogi dengan lembut.
"Ammar sengat lucu," ucap Pak Yogi lembut.
Pria itu sangat gemas pada Ammar dan, dia langsung menggendong anakku dengan sangat gemas. Bahkan, dia menciumi seluruh wajah bayi kecil lucu itu.
"Ammar sangat lucu, ingin sekali saya membawanya pulang," ucap Pak Yogi dengan gemas.
__ADS_1
"Enak saja, ibunya Ammar siapa, jadi saya tidak mau Bapak membawanya," ucapku cepat.
Sebab, aku tidak ingin Pak Yogi atau siapapun membawa Ammar dariku, karena aku tidak bisa hidup tanpanya. Walaupun hanya satu hari.
"Baiklah, aku hanya bercanda tadi. Tapi, sejak tadi, Ammar sama sekali tidak menangis," jawab Pak Yogi lembut.
Entahlah, Ammar sejak tadi ada di dalam pelukan Pak Yogi, dia hanya diam, apa mungkin dia merindukan sosok ayahnya dan, ingin dipeluk oleh ayah kandungnya?
'Aku tidak sanggup memikirkan Ammar, yang selalu merindukan ayahnya, apakah Pak Yogi bisa, menganggatikan sosok ayah untuk anakku?' batinku sambil berpikir.
Emak dan, Pak Yogi terus tertawa bersama Ammar, sedangkan aku hanya diam saja, sebab tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang.
"Semoga kalian cepat menikah dan, Ammar bisa segera memiliki ayah seutuhnya," ucap Emak dengan lembut.
"Aamiin," jawab Pak Yogi cepat.
Sedangkan aku hanya diam, dan memikirkan apa yang harus aku ambil kedepannya, menikah dengan Pak Yogi, atau tetap menjadi singgel Mommy, untuk selamanya?
BERSAMBUNG.
__ADS_1