Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
4 POV Citra


__ADS_3

Azan Subuh berkumandang, aku mulai membuka mata dan bergegas bangun untuk membersihkan diri. Setelah selesai aku langsung memakai baju kemudian berwudhu.


Aku memakai mukenah kesukaanku yang berwarna hijau botol, dan malaksanakan Shalat Subuh seorang diri. Entah kapan bisa Shalat berdua bersama pria idamanku.


Setelah selesai aku pun membaca doa, untuk kedua orang tuaku yang berada di luar kota. Walaupun seminggu lagi mereka akan kembali.


"Ya Allah, semoga bapak sama emak selamat sampai di sini satu minggu lagi. Aamiin." Aku meneteskan air mata karena rindu sekali dengan kedua orang tuaku.


"Hiks, hiks, hiks." Aku menangis sambil mengingat masa-masa bersama dengan kedua orang tuaku. Kami terbilang keluarga bahagia walaupun keuangan yang kurang bagus.


Bruk!


Sebuah bantal mendarat tepat di wajahku sehingga aku terjatuh karena kehilangan keseimbangannya.


"Dasar manusia batu! Memiliki jantung. Namun, tidak memiliki hati!" seru ku sambil menatap tajam ke arahnya.


"Pohon pisang kali, bukan batu!" Dia menjawab dengan ketus dan berlalu pergi dari kamar.


"Eh, benar juga ... mana ada batu memiliki jantung?" pikirku sambil melepaskan mukenah dan menyimpannya.


Setelah selesai aku pun bergegas siap-siap, karena pukul 07: 00 Wib, Wiwit akan menjemput ku.


"Citra! Ambilkan handuk!" teriak Kak Fiia dari dalam kamar mandi. Aku menghela nafas panjang karena sangat malas mengantar handuk untuknya.


Aku mengambil handuk Kak Fiia kemudian membawanya ke kamar mandi, kemudian ku lemparkan handuk itu lewat atas pintu.


"Duralek!" teriaknya dari dalam.


Aku pun berlari sambil tertawa karena lucu saja mendengar teriakannya tadi. Setelah sampai di dalam kamar ku ambil baju tunik dan celana jeans, dan langsung memakai walaupun jam masih pukul 06:00 Wib.


Karena aku akan melakukan sesi pemotretan sendiri di dalam kamar, untuk menjadikan profil Facebook dan Whatsapp.


Aku banyak sekali mengambil poto sampai galeri ponselku penuh, dan terpaksa menghapus sebagian poto lamaku.


"Ya ampun, cantik begini aja di selingkuhi terus gimana kalau burik," ucapku sambil memakai sepatu.


Setelah selesai, aku merapikan hijab pashmina yang ku kenakan saat ini. Karena hari ini akan bertemu dengan Oppa Korea atau korengan.


Semoga saja anak Pak polisi Edson tampan tidak mengecewakan ku, kalau dia tidak seperti Jung-kook atau Lee Min-ho. Aku akan memutuskan perjodohan kami.


Aku tidak munafik, karena wanita memang menyukai pria taman seperti artis Korea. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dengan sangat kuat.


"Lihat ini!" bentak Kak Fiia membuatku langsung membuka mata dan melihat handuknya basah.

__ADS_1


Aku tidak tahan melihatnya seperti itu sehingga tawaku lepas, membuat dia kesal dan langsung menghampiri adiknya yang sangat manis ini.


"Duralek! Makhluk astral!" teriaknya di telinga ku membuat aku seakan tuli.


"Peyot!" teriakku tak mau kalah darinya, memangnya dia saja apa yang bisa seperti itu aku juga kali.


"Sana keluar! Aku mau pakai baju!" pintanya dengan ketus, dan aku langsung ke luar sambil membawa tas sampingku.


Karena sudah tidak mau ribut lagi, aku pun langsung berjalan ke luar sambil menatap tajam ke arahnya.


'Besok akan aku balas, karena hari ini sangat membahagiakan sebentar lagi aku bertemu dengan oppa Amon,' batinku dengan sangat gembira.


Ponselku berdering ternyata bang Amon menelpon untuk yang pertama kalinya, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan aku langsung menjawab.


📞Oppa Amon.


Aku.


[Assalamualaikum, Bang.]


Oppo Amon.


[Wa'alaikumsalam bidadari.]


Oppo Amon.


[Jadi kita hari ini, bertemu?]


Aku.


[Jadi, sebentar lagi Citra berangkat kita jumpa di jalan aja. Ya? Karena Citra mau ke kota pagi ini.]


Oppo Amon.


[Oke, sampai jumpa nanti. Assalamualaikum.]


Aku.


[Wa'alaikumsalam.]


Sambung telpon sudah terputus, aku langsung berjalan menuju ruang tamu dan menyantap sarapan yang sudah di siapkan oleh Kak Fiia.


Walaupun aku dan dia seperti kucing dan tikus. Tetap saja Kak Fiia sangat menyayangiku seperti ini selalu menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Setelah selesai menyantap sarapan, aku mendengar suara motor berhenti di depan rumah sudah di pastikan itu adalah Wiwit. Ku ambil tas dan berjalan ke luar.


"Maaf. Ya, Wit aku lama." Aku terdiam di depan pintu saat melihat siapa yang ada di hadapanku saat ini.


"Citra, maaf apa kamu marah sama aku?" tanya Yesi dengan sangat lembut.


'Cik, marahlah masa sudah di khianati masi saja baik dan tidak marah. Eh, Bambang kamu punya kaca untuk berkaca,' batinku dengan sangat kesal.


"Kamu masuk saja, kakakku ada di dalam." Aku menjawab dengan dingin dan berlalu pergi.


"Citra!" teriak Yesi, dan aku tidak menggubris teriakannya dengan terus berjalan.


Hati wanita mana yang tidak sakit di khianati oleh sahabat sendiri. Bukan karena pria aku marah padanya melainkan dengan cara dia menyakiti perasaanku.


Andai saja dia mengatakan padaku dia menyukai Gie, maka akan ku berikan pria bajingan itu padanya.


"Citra!" teriak Wiwit dari kejauhan dengan mengendarai sepeda motor miliknya, aku pun tersenyum dan melambaikan tangan agar dia menghampiriku.


Setelah dia mengentikan motor tepat di hadapanku, sahabat baikku itu turun dan langsung memeluk aku dengan erat.


"Wit, kamu ke mana aja? Kenapa tidak pernah menemui aku lagi di cafe?" tanyaku dengan sangat haru, karena bisa memeluknya lagi setelah satu minggu tidak bertemu.


Wiwit tersenyum sambil melepaskan pelukan kami, kemudian dia membawaku duduk di trotoar.


"Citra, kamu tahu bukan? Aku ini sakit-sakitan. Sudah satu minggu aku di tawar di RS." Wiwit menjawab ucapku dengan sangat lirih.


Aku langsung memeluknya dengan erat dan menangis, karena Wiwit sakit keras mungkin saja hidupnya sudah tidak lama lagi. Namun, semua itu kita serahkan pada Allah karena atas izinnya semua akan mudah dan lancar.


"Wiwit, kamu tidak apa-apa pergi? Aku takut kesehatan mu akan terganggu?" tanyaku dengan sangat cemas.


"Aku baik, karena dengan berjalan-jalan akan membuatmu jauh lebih segar," jawabnya dengan senyuman manis.


Aku tersenyum kemudian kami berjalan menuju rumahku, karena ingin menunggu Kak Fiia terlebih dahulu.


Sebenarnya aku sangat malas pulang karena ada Yesi. Namun, keadaan yang membuatku harus melupakan maslah di antara kami.


"Citra, ini motor Yesi bukan?" tanya Wiwit sambil menatap ke arah motor yang terparkir di depan rumah.


"Iya, masuk yuk dia ada di dalam." Aku berjalan masuk sambil menggandeng tangannya.


Kami terlihat seperti dua orang yang akan menyebrangi jalanan. Setelah sampai aku dan Wiwit duduk di sofa yang terdapat Yesi juga di sana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2