
Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam. Sedangkan Pak Yogi, dia langsung pergi. Sebab masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Lagi pula, dia juga mengurus acara pernikahan kami yang akan digelar dua bulan lagi.
"Nak, sebaiknya jangan berpergian dengan nak Yogi lagi," ucap Emak yang baru saja sampai.
Aku langsung menatap wajah emak, kemudian mengangguk tanda mengerti dan menuruti keinginan emak.
"Mak, apa kak Fiia pulang besok?" tanyaku sambil meletakan Ammar dengan perlahan ke box bayi.
Aku bertanya, karena sudah rindu dengan kakak yang biasanya selalu bertengkar denganku. Tapi, sekarang kami terpisah jauh, dia sibuk dengan bisnisnya. Sedangkan aku? Hanya wanita yang mengurus anak.
Jujur, kau juga ingin sekali menjadi seperti kak Fiia. Namun, tidak mungkin karena aku memilih menikah. Bahkan mengurus anak yang bukan darah daging ku.
"Kayaknya besok. Tadi dia ada telpon emak, dia juga datang sama seseorang," ucap Emak sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku menaikan sebelah alisku. Karena emak mengatakan seseorang? Apakah dia pacar kak Fiia, atau siapa? Aku sangat penasaran. Namun, tidak berani bertanya pada emak, karena takut akan marah padaku.
Aahh! Biarlah, lagi pula besok kami sudah bertemu. Jadi aku tau siapa seseorang itu. Yang pasti aku akan sangat bahagia, dia bisa memiliki pasangan dan akan menikah. Semoga apa yang aku pikirkan benar adanya.
. . .
Keesokan paginya . . .
Aku membuka mataku, saat ada tangan yang memukul lengan ku dengan kasar. Sontak, aku langsung bangun dan memeluknya dengan lembut. Ya Allah, rasanya bahagia sekali aku bisa memeluk kakak yang sangat aku sayang.
"Cit, kamu sehat?" tanya Kak Fiia sambil melepaskan pelukannya.
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian menetap wajahnya yang sekarang semakin cantik. Bahkan aku sejak kalah akan kecantikan kakakku itu, tetapi aku sama sekali tidak iri. Sebab bahagia memang tahu dia lebih cantik dariku sejak dulu. Namun, sekarang lebih cantik lagi, karena memiliki toko kosmetik sendiri mungkin. Jadi dia tidak perlu mengeluarkan omset banyak lagi untuk perbulannya, karena dia sudah memiliki toko kosmetik sendiri.
__ADS_1
Kak Fiia langsung menggendong anakku karena dia sudah lama ingin bertemu dengan putri kecilku itu. Namun, baru sekarang ia bertemu dengannya.
Sebenarnya aku kasihan karena bayi kecil itu masih tertidur, karena habis subuh tadi kami baru tidur sehabis dia minum susu dan sekarang baru jam 07.00 pagi jadi dia masih tertidur.
Bayi kecilku itu pun tidak tidak bangun padahal Kak Fiiaa sudah mencium seluruh wajahnya dengan kuat, mungkin karena dia kurang enak badan sehabis imunisasi kemarin.
Walaupun dia tidak demam. Tapi dia terlihat seperti tidak enak badan karena biasanya dia itu sangat aktif sekarang dia lebih banyak diam.
"Anakmu, sangat mirip dengan bang Amon, apa ini anaknya?" tanya Kak Fiia sambil melirik ke arahku.
Aku pun menggelengkan kepalanya, karena harus berkata jujur. Sebab, cepat atau lambat, semua akan tahu, Ammar anak siapa.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Sambil menunggu aku update, yuk hampir ke novel teman aku yang seru. Terima kasih.