Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Aku bergegas masuk ke dalam kamar, dan menidurkan tubuh. Jantung ini terasa akan copot dan meletus saat mengingat wajah yang aku rindukan selama ini. Namun, aku harus menahan rasa itu.


Karena, aku tidak mau sampai kejadian sebelumnya terulang kembali. Sangat sakit rasanya di tikungan keponakan dan sahabat terdekat, hingga membuat ku trauma memiliki sahabat.


"Ya Allah, semoga hamba bisa taba menjalankan semuanya," ucap ku dengan lirih.


Aku pun bergegas berganti baju, karena hari ini aku akan melihat cafe tempat ku bekerja. Ya, kemarin aku baru di terima bekerja di sini. Namun, aku belum melihat tempat itu.


Aku berharap tidak bertemu lagi dengan Pak Yogi atau yang lain dari masa lalu ku, karena aku ingin mengubur semuanya dalam-dalam.


Setelah selesai bersiap-siap dengan pakaian muslim, aku bergegas pergi sebelum hari semakin siang dan akan panas tentunya di jalan. Karena, aku cuma mengunakan motor bukan mobil.


Saat di perjalanan, aku terus fokus pada pria yang ada di jalanan. Eh, salah. Maksudnya aku fokus pada jalannya.


"Ternyata di sini jauh lebih nyaman. Tapi, aku juga rindu keluarga ku di Indonesia," ucap ku dengan lirih.


Walaupun aku senang berada di negeri Jiran, tetap saja aku merindukan emak dan bapak, begitu juga dengan dengan saudara ku.


Setelah sampai, aku langsung masuk ke dalam, dan bertemu dengan resepsionis yang menelpon ku kemarin.


"Assalamualaikum Kak," ucap ku dengan sangat sopan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawabnya dengan lembut.


Aku tersenyum, karena dia mengerti bahasa ku dan juga kami beragama Islam, membuat ku semakin betah ada di negeri Jiran.


"Apa bos ada di dalam? Kemarin awak cakap saye di terime?" tanya ku dengan lembut dan dia tersenyum.


"Ye, bos ade kat dalam, jomlah masuk," jawab resepsionis tersebut.


Aku tersenyum dan bergegas masuk ke dalam, sebelum itu aku tak lupa untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Sebab, Bos itu juga beragama Islam.


"Waalaikumsalam," jawabnya.


Aku tersentak kaget, karena suaranya sangat familiar sekali di telinga ku dan sepertinya dia adalah Pak Yogi.


Terasa air mata ini akan menetes detik ini juga. Namun, bukan karena aku terharu mendengar suara Pak Yogi. Tapi, karena aku salah memakai sandal, dan lain sebelah. Bukankah itu hal yang memalukan?


"Maaf, awak panggil saye ape?" tanya pria itu sambil berbalik arah.


Aku membuka mulut lebar-lebar, karena wajah pria itu sangat tampan melebihi Pak Yogi. Tapi, kenapa suara mereka sama?


"Maaf, saye kira tadi awak teman saye," jawabku dengan gugup.

__ADS_1


Bagaimana tidak gugup, kalau pria itu tampan dan sandal ku lain sebelah. Kalau dia melihatnya maka aku akan sangat malu.


Aku berjalan dan duduk di hadapannya, sambil memberikan berkas lamaran kerja ku yang di mintanya.


"Mulai esok, awak dah boleh kerja Kat sini," ucapnya dengan lembut.


Aku tersenyum dan bangun, kemudian mengambil berkas ku kembali. Tiba-tiba saja ada angin surga lewat.


Prut ... Pes ...


Aku membuka mataku lebar-lebar, karena sudah kelepasan buang angin di hadapan bos ku. Terlihat dia menahan hidung agar tidak mencium aroma kematian dari kentut ku.


"Maaf saya kelepasan," ucap ku sambil bergegas pergi dari sana.


Karena jujur aroma tadi sangat menyengat seperti bangkai tikus got, sebab itu aku ke luar dan meninggalkan aroma busuk itu.


Anggap saja sebagai kenangan indah bersama bos tadi.


"Ya ampun, aku lupa bertanya namanya siapa!" pekik ku sambil terus berlari.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Halo gas, apa kabar kalian semua? Author harap semuanya pada suka ya sama cerita yang author buat ini.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak, agar author tahu kalian suka sama novel ini.


__ADS_2