
Yogi baru saja selesai mandi dan kini ia tengah duduk sambil mengingat kembali, kejadian tadi saat dirinya dan Citra terjatuh bersama.
Flashback on.
Citra mengambil satu berkas yang ada di rak paling atas, membuatnya harus naik tangga sedangkan Yogi hanya melihat dari bawah saja. Untungnya gadis itu menggunakan celana kalau tidak.
Author. "Pak Yogi enak dong, lihat pemandangan gratis.🤭"
"Yang ini, Pak?" tanya Citra sambil memegang salah satu berkas di rak paling atas. Gadis itu tidak tahu berkas yang di minta untuk apa.
"Benar," jawab Yogi dengan cepat.
Citra hendak turun. Namun, kakinya terpeleset dan dia jatuh, untung Yogi cepat menangkap tubuhnya.
Akan tetapi, Yogi juga terjatuh sehingga mereka berdua berpelukan dengan posisi Citra di atas tubuhnya. Jantung pria itu seakan berhenti berdetak saat melihat wajah Citra dengan sangat dekat.
Gadis itu cepat-cepat bangun, karena dia merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana.
"Pak Yogi, tadi ada yang tegak. Tapi, bukan keadilan," ucap Citra dengan sangat pelan takut menyinggung atasannya itu.
__ADS_1
Yogi merasa malu karena tongkat jaka tarub miliknya yang meminta keadilan, dan pria itu tersipu malu sampai wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Flashback off.
Yogi tersenyum kembali saat mengingat tongkat jaka tarub miliknya meminta keadilan tadi, padahal dia sama sekali tidak memikirkan hal kotor. Saat tengah memikirkan itu semua ia mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa sih, itu?" Yogi bergegas membuka pintu rumahnya dan dia membuka mata lebar-lebar, melihat siapa yang datang.
"Eril!" pekik Yogi.
"Masuk!" seru Erik sambil berjalan masuk bersama dengan Yogi.
Setelah kedua pria itu duduk saling berhadapan penuh tanya di benak masing-masing, mulailah Yogi membuka obrolan.
"Dari mana kamu tahu, aku ada di sini?" tanya Yogi dengan sangat penasaran, kenapa keponakannya itu ada di sini dan menemuinya.
Eril tersenyum simpul kemudian berkata, "Ck, kau seperti tidak mengenal aku saja. Ngomong-ngomong kenapa kalian memasukan poto berdua ke media sosial?"
Yogi menceritakan semuanya pada Eril yang sejujurnya, karena dia tidak mau sampai keponakannya salah paham pada Citra.
__ADS_1
"Aku tidak percaya pada ucapanmu itu!" sentak Eril membuat Yogi kesal dan langsung memberikan buah bogem pada pria itu.
Bug!
"Sial, kau beraninya padaku!" teriak Eril yang tidak terima mendapat buah bogem dari Yogi, dan membalasnya sampai mereka berdua babak belur.
Elisa mendengar pertengkaran dari dalam mobil, cepat-cepat masuk ke dalam dan melihat Eril sedang adu tinju dengan seorang pria yang tidak ia kenali.
"Kak Eril, sudah!" jerit Elisa, membuat kedua pria itu berhenti dan langsung menatap ke arahnya.
Elisa langsung menghampiri kakak angkatnya, dan melihat luka yang cukup parah di sekujur tubuh pria itu. Sedangkan Yogi menggelengkan kepala melihat keponakannya membawa gadis di bawa umur.
"Ck, kau mengatakan ingin memperbaiki hubungan dengan Citra dan sekarang bersama gadis di bawah umur," cibir Yogi sambil menatap ke arah Elisa.
"Tidak perlu ikut campur! Aku ingatkan, jangan kau dekati Citra lagi. Kami belum benar-benar putus!" sentak Eril sambil bergegas pergi dari sana bersama Elisa.
Yogi langsung menutup pintu rumahnya kemudian duduk di sofa sambil mengingat kembali wajah gadis itu, yang sepertinya sangat familiar sekali di matanya.
"Siapa gadis tadi. Ya?" tanya Yogi pada diri sendiri.
__ADS_1
Bersambung.