
Aku terbangun dari tidur saat mendengar Azan Subuh berkumandang, dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri. Setelah itu langsung ke luar dari dalam kamar mandi dan hendak memakai baju. Namun, aku merasa seperti ada yang tumpah.
"Jangan hari ini dong, karena ada meeting penting masa iya aku datang bulan," ucapku sambil melihat ke bawah, dan benar saja bulan itu datang.
Aku langsung bergegas memakai pembalut dan bersiap-siap ke dapur untuk membuat jamu, seperti biasa saat aku datang bulan karena keram perut yang sangat sakit membuatku harus meminum jamu itu.
Rasa sakit di bagian perutku sudah semakin terasa membuatku tidak sanggup membuat jamu, dan aku duduk di bangku sambil memegang perutku sambil menahan rasa nyeri dan sakit menjadi satu.
"Ya Allah, sakit sekali rasanya. Bagaimana aku akan berangkat bekerja hari ini? Mana ada meeting penting," ucapku sambil menahan rasa sakit yang saat ini.
Rasa sakit sekali terasa, tidak seperti biasanya masih bisa aku tahan dan sekarang tidak bisa.
"Tante Dilla!" teriakku sambil menangis, karena rasa sakit yang semakin membuatku ingin muntah.
Sakit sekali. Namun, tidak ada yang mendengar teriakkan ku sehingga aku menelpon Pak Yogi. Entah karena bingung atau ingin mendapatkan perhatiannya aku menelpon dia.
Panggil tersambung dan aku langsung berbicara tanpa memberikan dia menjawab.
📞Pak Yogi.
Aku.
[Pak Yogi, tolong saya sakit sekali!]
Aku.
[Tidak ada yang mendengar saya!]
Setelah berbicara aku langsung memutuskan sambungan telepon, karena sakit perutku semakin terasa nyeri.
"Paman Sam! Tolong!" teriakku. Namun, sama sekali tidak ada jawaban dari satu penghuni rumah pamanku sampai aku terjatuh.
"Aaahhhkkk!"
Aku menjerit saat kepalaku terasa sangat sakit, bercampur dengan rasa mual yang datang secara bersamaan dengan sakit kepala.
'Ya Allah, kenapa penghuni rumah ini pada tuli semuanya? Padahal, biasanya tidak seperti ini. Tolong hamba ya Allah,' batinku sambil berdoa agar penghuni rumah pamanku tidak tuli lagi saat aku sakit seperti ini.
Terdengar suara motor sport berhenti dan ada langka kaki masuk ke dalam, karena aku sudah membuka pintu sebelum masuk ke dapur tadi.
__ADS_1
"Tolong!" teriakku agar seseorang yang sudah aku pastikan adalah Pak Yogi datang dan membantuku.
"Citra!"
Aku terdiam mendengar suara pria yang sangat aku benci selama ini, dan kenapa bukan suara Pak Yogi. Ya?
Pria itu langsung mengangkat tubuhku dan aku melihat wajahnya. Sontak aku langsung memukuli tubuhnya.
"Lepaskan aku!" teriakku. Namun, dia tidak menggubrisnya dan langsung membawa tubuhku ke luar rumah.
Aku sangat kesal. Namun, rasa sakit yang ku rasakan harus menahan kesal dan benci pada Bang Eril. Entah mengapa dia tahu aku sedang sakit dan Pak Yogi tidak datang?
"Lepaskan aku!" teriakku lagi, saat dia menaikan tubuhku ke atas motor sport miliknya.
"Diam, kamu itu lagi sakit bukan?" tanyanya sambil mengemudikan motor sport miliknya dengan sangat cepat, membuatku memeluk dia dari belakang dengan sangat erat.
'Kalau tidak sakit, aku tidak akan sudi bersamanya apa lagi sampai memeluk tubuhnya yang sudah pasti, selalu di peluk oleh ja-lang busuk itu!' batinku.
Selama di perjalanan aku terus diam dan menahan rasa sakit yang semain menjadi-jadi, sampai aku lemas dan tidak memiliki tenaga lagi saat sampai di rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, aku hanya diam saja saat Bang Eril membawaku masuk ke dalam UGD dan para suster menusukkan jarum infus ke tanganku.
Setelah lima menit berlalu aku langsung terlelap, mungkin ada sesuatu yang di suntikan ke dalam botol infus sehingga aku terlelap.
Tiga jam kemudian ...
Aku tersadar dan rasa sakit yang tadi sudah tidak ada lagi, dan aku juga sudah ada di dalam kamar inap. Kemudian mataku melirik ke arah samping yang terdapat Bang Eril di sana.
Dengan sangat malas aku pun menghela nafas dalam-dalam.
"Untuk apa kamu di sini?" tanyaku dengan sangat malas berbicara padanya.
Pria itu tersenyum dan mengelus-elus rambutku dengan sangat lembut. Ya, ampun. Aku sampai lupa memakai hijab saat ke dapur tadi dan, saat ini juga memakai piyama.
'Astaghfirullah, aku tidak mengunakan hijab?' batinku.
Aku menangkis tangannya, karena sangat jijik saat dia mengelus-elus rambut indahmu dengan tangan kotornya itu.
"Aku tadi meminta Pak Yogi, yang datang bukannya kamu!" ucapku dengan sangat ketus padanya.
__ADS_1
Padahal, dia yang sudah menyelamatkan aku dari rasa sakit yang aku rasakan tadi. Emangnya aku peduli mau dia yang menyelamatkan aku atau tidak.
Karena aku masih sangat kesal dan sakit hati padanya, di tambah lagi dia sekarang sudah memiliki pacar sedangkan aku. Sama sekali tidak memiliki pengganti dia walaupun sudah ada pria yang masuk ke dalam hatiku.
"Sayang, kita belum putus," jawabnya dengan sangat peda tingkat dewa.
Aku langsung tersenyum simpul kemudian bangun dan duduk sambil menatap tajam ke arahnya.
"Eh, Bambang! Kamu punya kaca di rumah?" tanyaku dengan sangat kesal mendengar ucapan dia.
Dari mananya kami belum putus? Yang sudah sangat jelas, hubungan kami kandas seperti judul lagu. Rasanya aku sangat menyesal sudah bertemu dengan Bambang itu.
"Siapa, Bambang?" tanyanya, membuat aku kesal.
"Sekarang pergi dari sini!" usirku dan dia tidak menggubrisnya, pria itu mala semakin melancarkan aksinya mendekati ku.
"Mundur!" jeritku sambil melepaskan botol infus dan berlari ke luar.
Aku semakin berlari kencang sambil memegang botol infus, dan ku lihat darah mulai naik ke selang infus karena aku tidak mematikannya terlebih dahulu.
"Awa!"
Aku berhenti dan ada seorang laki-laki menghampiriku dan mengendong tubuhku, membawaku kembali masuk ke dalam ruang inap tadi.
Pria itu memperbaiki selang infus yang sudah berlumuran darah, dan juga sudah menukar dengan yang baru.
"Dari mana Bapak, tahu saya ada di sini?" tanyaku dengan sangat lembut sambil menatap wajah Pak Yogi.
Terlihat pria itu sangat mempesona hari ini, membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa menatapnya saja.
"Citra, selain lemot kamu juga pikun," jawabnya sambil memeriksa kondisiku seperti seorang suster.
Aku terkejut mendengar ucapan dia yang mengatakan aku pikun? Emangnya, aku yang sudah aku lupakan?
"Emangnya apa yang saya lupakan, Pak?" tanyaku dengan sangat penasaran.
"Yang membawa kamu tadi siapa? Kalau bukan saya," jawabnya.
Membuat aku terkejut, karena jelas-jelas yang membawaku adalah Bang Eril dan saat aku sadar mentan ku yang ada di sampingku, bukanya Pak Yogi.
__ADS_1
Bersambung.