
Satu bulan kemudian.
Hari-hari yang aku lewati sangat menyenangkan. Apa lagi, kini umur Ammar sudah genap tiga bulan, dia sudah bisa membalikan bada, atau telungkup itu bahasa yang sering diucapkan oleh emak padaku.
Pagi ini, aku sudah tidak bekerja lagi. Sebab, tidak diperbolehkan oleh Pak Yogi dan kedua orang tuaku. Sebab, sebentar lagi akan menikah, juga tidak boleh keluar rumah.
Ya, sebenarnya hal itu sangat membosankan. Tapi, aku harus patuh. Kakak ku juga akan kembali secepatnya, karena dia akan mendapat hadiah pelanggan dariku.
Jujur, aku tidak bisa menikah duluan dari dia. Tapi, dia saja belum mau melepaskan masa lajangnya, dan meminta aku untuk duluan.
Hari ini, aku membawa Ammar imunisasi di rumah sakit bersama Pak Yogi. Kini aku tengah menunggu kedatangan pria itu di rumah, sambil menimang Ammar.
Tak berselang lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, aku pun langsung bergegas pergi menghampirinya sambil membawa semua perlengkapan Ammar, juga bayi kecil itu.
"Maaf terlambat, karena mama dan papa melarang kita pergi berdua. Padahal ada Ammar juga," ucap Pak Yogi lembut sambil membuka pintu mobil.
Aku tersenyum, kemudian masuk ke dalam. Terlihat pria itu membawa sesuatu di dalam tas besar. Namun, aku tidak mau bertanya apa itu. Sebab, tidak terlalu kepo.
__ADS_1
"Kamu kenapa hanya diam? Apa kamu marah sama saya?" tanya Pak Yogi sambil mengemudikan mobil.
Sontak, aku langsung menoleh dan menatap wajah pria itu dengan lembut. Kemudian menjelaskan semua kenapa aku diam saja sejak tadi.
Pria itu tersenyum, karena dia senang dalam waktu beberapa bulan lagi akan menikahi aku. Ya walaupun aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, aku tidak bisa memperlihatkan hal itu.
Sebab, kebahagiaan ini tidak boleh berlebihan. Karena Allah tidak suka hal itu. Jadi, aku hanya bergembira ala kadarnya, tidak berlebihan.
Sebab, aku takut kehilangan apa yang aku miliki saat ini. Aku juga selalu berdoa, agar Allah selalu mempersatukan kami. Aku, Pak Yogi, dan Ammar.
Setelah sampai di rumah sakit, aku langsung berjalan masuk ke dalam bersama Pak Yogi. Sebab, anterin kami sudah tiba.
"Waalaikumsalam," jawab Dokter Ike.
Aku langsung meletakan Ammar, kemudian Dokter itu memberikan imunisasi pada bayi kecil itu. Aku heran, karena Ammar sama sekali tidak menangis saat disuntik.
Bayi kecil itu hanya diam, dan menatap wajahku dengan dalam. Mungkin dia terkejut saat di suntik oleh Dokter tadi.
__ADS_1
"Wah, anaknya hebat. Sama sekali tidak menangis," ucap Dokter Ike dengan kagum.
Aku hanya tersenyum, kemudian Dokter Ike memberikan Ammar vitamin dan juga Paracetamol. Sebab, takut Ammar demam setelah imunisasi.
Setelah semuanya selesai, aku dan Pak Yogi bergegas pergi dari sana. Sebab, kasihan Ammar tertidur pulas setelah imunisasi. Aku senang, karena bayi ini tidak rewel sama sekali.
Biasanya bayi akan rewel setelah imunisasi. Tapi, Ammar sama setiap tidak. Dia malah tidur pulas. Mungkin nanti malam dia akan merasakan reaksi dari imunisasi tadi.
Selama diperjalanan, aku hanya diam. Begitu juga dengan Pak Yogi, karena dia fokus mengemudikan mobilnya. Entahlah, dia sejak tadi hanya diam tidak mengatakan apa-apa.
Aku juga tidak mengatakan apapun, sebab masih memikirkan Ammar. Apakah dia demam atau tidak? Ya Allah, semoga dia tidak demam.
Aku tidak tenang kalau sampai Ammar Demam. Sebab, takut terjadi sesuatu pada bayi kecil itu. Ya, aku sering melihat berita bayi kejang karena demam lalu meninggal dunia.
Astaghfirullah, Ya Allah. Lindungilah Ammar, semoga dia selalu dalam lindungan mu ya Allah. Aku terus berdoa agar Ammar tidak sakit.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Sambil menunggu aku update,yuk hampir ke novel teman aku yang seru. Terima kasih.