
Citra berjalan kembali ke dalam cafe dengan rasa yang bercampur menjadi satu, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke luar negri dan bekerja di sana.
'Sepertinya aku harus pergi, ke negri Jiran Malaysia melupakan semuanya di sini,' batin Citra.
Citra berpamitan pulang lebih awal dan beralasan ada keperluan keluarganya, agar di izinkan pergi dari cafe.
Setelah sampai di rumah, Citra langsung menceritakan semua pada kedua orang tuanya dan mereka menyetujui. Sebab, di sana ada paman Sam yang akan menjaga anaknya untuk sementara waktu.
"Jaga diri di sana, jangan sampai kamu bertemu mereka lagi dan pergi lagi," ucap Minah sambil mengelus-elus rambut Citra.
Citra tersenyum, dan meneteskan air karena harus berpisah jauh dari kedua orang tuanya dan juga sang kakak yang masih di Banda Aceh.
"Setelah sampai, ingat kabari bapak sama emak dulu," pesan Salam kepada sang anak.
Citra menganggukkan kepala, kemudian meraka bergegas pergi menuju bandara karena jadwal penerbangan Citra sebentar lagi.
Selama di perjalanan, Citra terus-menerus berpikir apakah keputusan yang di ambil tepat atau tidak. Sebab, dia sama sekali tidak memberi tahu siapapun termaksud Yogi.
'Semoga pak Yogi dan Flo bahagia, dan aku bisa melupakan semuanya. Walaupun nanti aku akan tersiksa melihat mereka bersama,' batin Citra lirih.
__ADS_1
*. *. *.
Yogi mendapatkan kabar kalau sang paman bertemu dengan Citra di cafe kota mereka, dan dia berniat pulang. Namun, dia urungkan niatnya itu karena hubungannya dan Citra sedang bermasalah.
"Biarkan saja seperti ini, kalau kami berjodoh akan bertemu di manapun kami berada," ucap Yogi lirih.
Pria itu sangat mencintai Citra. Namun, sang pujaan hati salah paham dan menolak cintanya untuk yang kesekian kalinya.
Citra salah paham pada Yogi dan Flo, karena mereka berdua sedang menjalankan misi untuk memberikan Eril pelajaran. Namun, semuanya gagal karena Citra marah padanya dan kabur dari Banda Aceh.
*. *. *
Citra berjalan dengan perlahan menuju rumah sang paman dan mengetuk-ngetuk pintu rumah pamannya.
"Assalamualaikum!"
Tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.
"Wa'alaikumsalam, Nak." Faruk menjawab salam Citra sambil mengulurkan tangannya, dan gadis itu langsung menciumnya.
__ADS_1
"Jom masuk Nak," ucap Faruk dengan sangat lembut.
"Terimakasih, Paman." Citra berjalan masuk ke dalam dan mereka duduk di sofa.
"Citra, emak dan abah awak tak datang?" tanya Faruk dengan sangat lembut.
Citra hanya menggelengkan kepala, karena tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh sang paman. Faruk mengerti dan menjelaskan dengan bahasa Indonesia agar gadis itu mengerti.
Satu Minggu kemudian ...
Citra merasa lebih tenang sejak tinggal di ngeri Jiran Malaysia, dan pagi ini ia tengah menyapu halaman rumah sang paman bersama bibinya.
Mata Citra melirik ke arah bangunan tinggi di samping rumah sang paman, dan dia membulatkan matanya saat melihat sosok yang tengah ia hindari.
'Astaghfirullah, ke mana pun aku pergi kenapa selalu ada dia?' batin Citra.
Citra langsung bergegas masuk ke dalam saat melihat Yogi ada di perusahaan tersebut, tanpa menyadari dia terus-menerus menatap pria itu tadi.
Yogi juga melihat seperti orang yang sangat familiar sekali di matanya. Namun, dia melanjutkan kembali pekerjaannya sebagai seorang COE.
__ADS_1