Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Aku terpaksa memakai baju Sari roti, eh. Maksudnya milik Sari kakak sepupuku karena aku malu kalau harus menelpon Pak Yogi, dan mengatakan bahwa koper kami tertukar.


Aku tersenyum saat kembali mengingat bentuk kain segitiga milik Pak Yogi.


'Ya ampun, aku baru tahu kalau kain segitiga pria itu seperti tadi,' batinku.


Saat aku tengah asik memikirkan tentang kain segitiga milik Pak Yogi, tiba-tiba saja Kak Sari melemparkan bantal ke wajahku.


"Sari roti!" jeritku sambil menatap tajam ke arahnya.


"Makanya jangan senyumannya sendiri," jawabnya sambil mendekatiku dan duduk di sampingku.


"Tidak ada, yang senyum-senyum kok," jawabku sambil membuang pandanganku, agar tawa yang sejak tadi aku tahan tidak pecah.


"Bohong!" serunya sambil menatap wajahku, sontak aku langsung tertawa lepas sampai-sampai terjatuh dari tempat tidur.


"Aaahhhkkk!" jeritku sambil memegang tanganku yang terluka akibat terjatuh tadi.


"Ayo makan mama sudah masak, kamu pasti akan suka karena ini makanan khas Aceh," ucap Kak Sari sambil menarik tanganku.


Sejujurnya aku kurang suka makanan khas Aceh, padahal emak asli orang Aceh dan sering masak makanan khas Aceh.


Sesampainya di meja makan, aku melihat banyak sekali makanan di sana, dari mie Aceh kemudian ada ikan gulai khas Aceh dan yang seringkali aku lihat adalah sambal asam belimbing wuluh.

__ADS_1


'Ya ampun, aku jadi rindu emak karena ini semua makanan kesukaannya,' batinku lirih.


"Citra, kenapa diam saja?" tanya Bibi Dilla, dan aku langsung tersadar kemudian duduk di bangku yang sudah ada.


"Sebenarnya, Citra tidak menyukai makanan ini, Bibi." Aku menjawab dengan hati-hati takut melukai hatinya.


"Loh, kenapa seperti itu? Ayo coba dulu saja," ucap Bibi Dilla dengan sangat lembut, sambil memberikan aku semua makanan yang ada di meja.


Aku mulai memakan makanan itu semua dan ternyata rasanya sangat enak, sampai aku makan dua piring di tambah lagi dengan mie Aceh yang sangat menggugah seleraku.


Setelah selesai makan, aku duduk sambil menatap wajah Kak Sari yang sejak tadi menatap wajahku dengan sangat dalam.


"Ada masalah?" tanyaku sambil menatap wajahnya.


Aku merasa malu dan hanya bisa tertawa saja. Dengan perlahan aku berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhku.


Saat aku memejamkan kedua mata, namaku di panggil oleh Kak Sari, sehingga aku langsung bangun dan menghampirinya.


"Ada apa?" tanyaku dengan sangat lembut.


"Ada pria yang tadi, mencari mu," jawabnya sambil menunjuk ke arah koper yang aku letakan di samping sofa.


Aku tertawa, kemudian membawa koper itu ke luar sambil menahan tawa agar tidak pecah saat bertemu Pak Yogi nanti.

__ADS_1


Setelah sampai aku langsung memberikan koper milik Pak Yogi, dan dia juga memberikan koper milikku.


"Maaf, saya tadi tidak lihat-lihat," ucap Pak Yogi dengan sangat lembut.


"Iya Pak," jawabku sambil tersenyum manis, dan wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus karena malau.


"Sari, buatkan minum untuk Kak Yogi," pinta Bibi Dilla pada anaknya.


"Baik Ma."


Setelah kepergian Kak Sari, aku mulai membawa koperku ke dalam kamar dan meninggalkan Pak Yogi bersama Bibi Dilla.


"Aku malu sekali tadi, karena yakin kalau pak Yogi sudah melihat isi dalam koper ini?" ucapku sambil tersipu malu.


Aku langsung membuka koper, melihat pakaian yang tadinya berserakan kini menjadi rapi. Apakah Pak Yogi yang merapikan semuanya? Kalau itu benar aku akan sangat malu padanya.


Karena bikini milikku ada yang sobek satu, sengaja aku bawa untuk jaga-jaga saja saat datang bulan, dan juga ada baju daster mini yang sudah sobek-sobek juga.


"Ya ampun, bagaimana ini? Aku, benar-benar sangat malu sudah pasti dia melihat ini semua, dari baju sobek dan bikini sobek," ucapku dengan sangat malu.


Rasanya aku tidak berani lagi menatap wajahnya, dan pura-pura tertidur agar tidak menemuinya lagi. Namun, aku benar-benar tertidur pulas.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2