Kisah Cinta Citra

Kisah Cinta Citra
POV Citra


__ADS_3

Malam hari telah tiba setelah aku membersihkan Ammar, aku pun membawanya menghampiri ibu, sebab Aku ingin mandi terlebih dahulu, tidak mungkin aku meninggalkan anakku sendirian karena aku takut dia terjatuh.


Sesampainya aku di kamar Ibu, ku letakkan Ammar di kasur kemudian bergegas pergi dari sana sebab Ibu meminta aku pergi.


Saat hendak mengambil handuk ponselku berdering, dan aku langsung lihat Pak Yogi meneleponku, kemudian aku pun mengangkat panggilan dari pria itu sebab takut ada hal yang penting tentang cafe.


Pak Yogi: Assalamualaikum bidadariku yang tercantik, malam ini aku akan datang menemuimu dan Ammar ya. Kamu mau titip apa biarkan aku belikan Pampers susu atau apa itu?


Aku tersenyum mendengar ucapan pria itu karena, dia sangat perhatian kepada Ammar ya walaupun Ammar bukan anak kandungku tetapi, Ammar juga cucuku anak dari keponakanku, dan juga keponakan Pak Yogi sebab Pak Yogi dan Mak Amon sepupuan.


Aku: Tidak ada yang mau dibeli Pak silakan datang saja, karena kemarin saya sudah belanja ke perlengkapan untuk Ammar. Jadi semua masih lengkap.


Kudengar sama-sama Pak Yogi tertawa. Namun, tidak terlalu besar mungkin karena dia malu tertawa besar, entah apa yang membuatnya tertawa aku juga tidak tahu mengapa.


Pak Yogi: Baiklah kalau begitu aku akan datang sebentar lagi ya.


Aku: Baiklah Pak kalau gitu saya tutup teleponnya ya, karena saya ingin mandi.

__ADS_1


Pak Yogi: Baiklah, assalamualaikum bidadariku yang tercantik.


Aku: Waalaikumsalam.


Aku pun memutuskan sambungan telepon, kemudian tertawa sebab mendengar ucapan pria itu tadi membuat aku benar-benar sangat bahagia.


Dia mengatakan diriku adalah bidadarinya hal itu sangat membuat aku bahagia, karena bisa dicintai oleh pria yang juga aku cintai.


Walaupun aku masih merasakan sakit dikhianati oleh keponakanku. Tapi semua sudah menjadi bubur sudah tidak bisa sesali lagi.


Setelah itu aku punya tugas mandi membersihkan diriku yang sudah bau kematian ini, sejak pagi aku belum mandi bahkan keringatku saja sudah tidak sanggup aku cium apalagi orang lain.


Setelah menyemprotkan parfum ke pakaianku, aku pun langsung bergegas turun untuk mencari keberadaan anakku karena Pak Yogi pasti ingin menimbang dia nanti setelah tiba.


Aku melihat Ammar tengah digendong oleh Bapak, kemudian aku pun mencium tangan Bapak sebab sejak pagi belum bertemu dengan beliau.


"Pa katanya Pak Yogi ingin datang Bapak jangan kemana-mana ya, tidak enak kalau kami hanya berdua di sini," ucapku dengan lembut sambil menatap wajah Bapak.

__ADS_1


"Bapak di sini sama ibumu, kamu sana gih buat kopi atau teh untuk Yogi, masa tamu datang tidak dibuatkan minum," jawab Bapak lembut.


Aku mengganggukan kepala kemudian bergegas pergi dari sana menuju dapur, dan bergegas membuatkan teh dan juga kopi. Sebab aku tidak tahu pria itu ingin meminum apa. Jadi aku buatkan dua saja biar dia memilihnya sendiri.


Setelah selesai membuat teh kopi dan teh aku langsung membawa ke ruang tamu, terlihat Pak Yogi sudah sampai di sana. Entahlah dia cepat sekali sampai apa dia naik jet ke sini?


"Wah Ammar sudah digendong sama Om Yogi," ucapku lembut sambil menatap wajah putraku yang terlihat sangat bahagia.


Entahlah saat Ammar digendong oleh pria, pasti dia sangat bahagia mungkin anakku itu merindukan ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin aku memukamkan Ammar dan bang Amon.


Bang Amon saja tidak mengakui Ammar sebagai anaknya, lalu untuk apa aku membawa Ammar menemui dia, yang ada hanya membuat Ammar semakin sakit hati dibuatnya, karena tidak diakui oleh ayah kandungnya.


"Diminum Pak kopi dan tehnya, biar saya pegang Ammar dulu," ucapku dengan lembut sambil menatap wajah Pak Yogi.


BERSAMBUNG.


Sambil menunggu aku update, hampir yuk ke novel teman aku yang seru. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2