
Pagi ini, Flo sudah bersiap-siap dengan pakaian yang kurang bahan untuk menemui Yogi di kantor pria itu. Sebab, dia ingin menanyakan tentang Citra, walaupun itu hanya alibinya saja.
Kini gadis itu sudah ke luar dari kamar hotelnya, berjalan masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu dia di depan hotel. Setelah Flo masuk mulailah supir mengemudikan mobil menuju kantor Yogi seperti perintahnya.
'Aku akan mendapatkan dia, seperti aku mendapatkan Eril. Sebab, itu adalah tujuanku agar Citra hancur berkeping-keping,' batin Flo.
*. *. *
Yogi menutupi luka di wajahnya akibat berkelahi dengan Eril kemarin, dan rasa sakit itu masih membekas bukan karena luka di wajahnya. Melainkan melihat pria itu membawa wanita lain yang artinya akan melukai perasaan Citra lagi.
"Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi, aku harus mencari seseorang yang bisa membantuku," ucap Yogi sambil berpikir bagaimana caranya dia bisa menjaga hati Cita.
Pria itu bergegas pergi dari rumahnya, menuju kantor dengan mengendarai motor sport miliknya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai.
Setelah sampai dia langsung bergegas masuk ke dalam ruangannya, karena ada sedikit masalah di pembangunan mall di Jakarta.
Saat pria itu masuk ke dalam, ia sangat terkejut ada seorang wanita seperti ja-lang ada di bangku kerjanya.
"Ja-lang, untuk apa kau ada di sini?" tanya Yogi sambil berjalan mendekati mantan karyawannya dulu.
Flo tersenyum simpul kemudian menghampiri Yogi dengan sangat menggoda. Namun, biasa saja di mata Yogi karena dia hanya menyukai gadis berhijab seperti Citra.
"Pak Yogi, saya ingin bertanya apakah tante Citra ada di kantor ini? Karena kalian bekerjasama bukan?" tanya Flo sambil menaikan sedikit belahan rok agar Yogi melihatnya.
"Tutup rokmu itu!" sentak Yogi sambil membuang pandangannya ke arah lain, karena dia juga pria norman yang tidak akan sanggup melihat pemandangan serupa itu.
Flo menarik kain segitiga miliknya, dan terjatuh tepat di hadapan Yogi membuat pria itu membuka mulut lebar-lebar.
"Gunakan benda sialan itu kembali!" teriak Yogi sambil menjauh dari Flo. Namun, gadis itu terus mengejar Yogi sampai mereka berdua saling kejar-kejaran.
*. *. *.
Citra sudah selesai sarapan bersama dengan keluarga pamannya, yang kini sudah bertambah satu yaitu Fiia. Mereka semua sudah menyelesaikan sarapan masing-masing.
Citra bergegas bangun dan merapikan penampilannya dan juga hijab, agar rambutnya tidak terlihat oleh orang.
"Paman Sam, Bibi Dilla, saya permisi dulu." Citra bergegas mencium tangan kedua orang tua pengantinnya.
"Hati-hati, ingatlah shalat jangan sampai tertinggal," pesan Dilla pada sang ponakan.
__ADS_1
"Ingat. Ya, jangan lupakan shalat," pesan Sam pada sang ponakan, karena dia adalah orang tua untuk Citra yang artinya harus mengingatkan apa saja kewajiban mereka sebagai seorang Muslim.
"Iya, Bibi Dilla, Paman Sam." Citra bergegas pergi dari sana dengan perlahan karena dia lupa kalau saat ini, dia sudah terlambat masuk kantor.
Fiia dan Sari bergegas pergi menuju restoran yang meminta mereka berdua untuk bekerja di sana, sebagai kasir dan manager restoran yang terkenal itu.
Kini mereka berdua berada di dalam angkot agar segera sampai di saja sebelum terlambat, dan kehilangan pekerjaan yang sangat mereka inginkan.
"Fiia, apa Yogi itu suka sama Citra?" tanya Sari karena sangat penasaran dengan kehidupan Yogi pria idamannya.
Fiia mengerutkan keningnya, karena dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Yogi dan Citra selama ini. Yang dia ketahui hanya sang adik berpacaran dengan pria yang sangat di bencinya.
"Aku tidak tahu masalah itu, coba saja tanyakan langsung pada orangnya," jawab Fiia dengan sangat santai.
"Baiklah," jawab Sari dengan kecewa, karena dia takut kalau harus bertanya langsung pada sang adik.
*. *. *.
Citra berjalan ke arah ruangan kerjanya. Namun, saat ia berada di depan pintu ruangan sang bos. Gadis itu mendengar suara jeritan seorang wanita dan Yogi.
'Siapa yang ada di dalam?' batin Citra sambil berpikir.
"Aaahhhkkk!" jerit Citra.
Flo dan Yogi sama-sama menatap ke arah Citra, kemudian pria itu langsung bangun dan merapikan penampilannya. Sedangkan Flo sengaja membiarkan kain segitiga miliknya di lantai.
"Apa semua ini?" tanya Citra sambil mendekati sang bos.
"Salah paham," jawab Yogi dengan sangat cepat.
Citra tersenyum simpul saat melihat kain segitiga milik Flo tercecer di lantai, kemudian dia berjalan dan mengambil kain tersebut. Gadis itu melemparkan kain segitiga itu ke wajah keponakannya.
"Dasar murah!" seru Citra dengan sangat kesal melihat kelakuan memalukan sang keponakan.
Flo langsung bangun, dan menatap tajam ke arah sang tente kemudian menarik tangan Citra.
"Jaga ucapan mu itu! Kami melakukan tadi dengan kemauan bukan paksaan!" seru Flo sambil melirik ke arah Yogi.
"Tutup mulutmu! Kita tidak pernah melakukan apapun!" sentak Yogi.
__ADS_1
Citra merasa sangat pusing akan pertengkaran di antara Yogi dan Flo, karena yang ingin dia sampaikan kepada sang bos. Kalau ingin melakukan hal itu sebaiknya di hotel saja tempat yang sangat aman.
Yogi benar-benar sangat kesal akan ucapan Citra, sehingga dia mengusir Flo dari ruangannya.
Setelah wanita ja-lang itu pergi, Yogi menjelaskan semuanya kepada Citra dan wanita itu percaya karena ia tahu akan kelakuan keponakannya.
"Sudah, kita kerjakan saja tugas kita," ucap Citra.
Yogi tersenyum karena Citra mempercayai ucapnya, dan mereka langsung mengerjakan tugas masing-masing.
*. *. *
Eril sudah mendaftarkan Elisa di salah satu sekolah SMP yang sangat terkenal di kota mereka, dan dia juga akan mengantarkan gadis itu ke apartemen miliknya sebab dia masih ingin merebut hati Citra.
Eril akan tinggal berdua dengan Elisa di apartemennya, karena dia sudah berpikir rencananya yang sudah di susun matang-matang.
'Aku akan merahasiakan hal ini, karena papa juga tidak tahu kalau dia dan istrinya itu memiliki anak perempuan,' batin Eril.
Elisa sedang membuatkan jus jeruk untuk Eril, karena sang kakak ingin meminum yang segar-segar di pagi hari setelah berenang. Gadis itu menghampiri pria itu yang berada di kolam renang.
"Kak Eril, ini jusnya." Elisa meletakan jus jeruk buatnya di bibir kolam dekat Eril.
"Terimakasih," jawab Eril, kemudian menarik tangan Elisa sehingga gadis itu terjatuh ke dalam kolam renang.
"Kak Eril, Elisa jadi basa ni!" jerit Elisa dengan sangat manja.
Eril menelan ludahnya dalam-dalam, saat melihat lekuk tubuh Elisa karena baju gadis itu basah dan mengecap sempurna.
"Boleh abang minum susu?" tanya Eril sambil melirik ke arah gunung kembar kenyal milik gadis yang masih polos itu.
"Susu? Tapi, Elisa tidak membuat susu?" tanya Elisa dengan sangat polos membuat Eril gemas, dan langsung memeluk gadis itu.
Elisa berenang dengan sangat lincah menjauh dari Eril, dan mereka berdua saling kejar-kejaran dengan tawa bahagia gadis kecil itu.
"Awas, harimau ini akan menangkap kamu!"
"Aaahhhkkk! Jangan Kak Eril!"
Bersambung.
__ADS_1