
Keesokan harinya . . .
Pagi ini, Citra sudah bersiap-siap akan ke rumah sakit bersama Flo. Yang akan melakukan operasi Caesar, agar sang anak segera ke luar dari dalam rahimnya.
Citra juga mempersiapkan diri, karena dia harus menghadapi semua orang kalau dia membawa bayi pulang ke rumah nanti. Apakah mereka bisa menerimanya, atau tidak?
'Ya Allah, semoga semua bisa mengerti kalau aku hanya ingin menolong bayi yang tidak berdosa itu. Sebab, kedua orang tuanya tidak mau menerima kehadirannya, padahal mereka berdua yang berbuat enak,' batin Citra lirih.
Gadis itu meneteskan air mata, dan bergegas pergi dari dalam kamar. Sebab, Flo sudah menggu kehadirannya di luar rumah.
Citra sengaja meminta cuti untuk dua hari kedepan, karena dia ingin mengiris semua setelah pulang dari rumah sakit.
"Flo, buka pintunya!" teriak Citra.
Sebab, pintu mobil tertutup dan dia tidak bisa membukanya. Flo langsung membuka dan Citra masuk ke dalam, kemudian duduk di samping keponakanya.
Setelah sampai di rumah sakit, Flo dan Citra langsung masuk ke dalam UGD dan langsung di tangani. Sebab, Flo tidak mau berlama-lama di rumah sakit.
"Flo, aku di sini mendoakan agar operasi mu berjalan dengan lancar. Sejujurnya, aku takut yang namanya operasi," ucap Citra lirih.
__ADS_1
Gadis itu sudah merasa jantungnya akan copot detil itu juga. Namun, masih bisa di tahan karena banyak orang di sana.
"Neng, mana ada orang yang bernama operasi!" sahut salah satu perawat di sana.
Citra langsung menatap tajam ke arah pria tersebut, dan dia tidak menjawab karena kesal sudah di permalukan di sana.
Sebab, banyak orang yang tertawa karena mendengar ucapan Citra tadi. Sedangkan Flo sudah terbiasa kalau sang Tante di permalukan oleh diri sendiri.
"Dasar pria gila!" umpat Citra dengan kesal.
Flo langsung menyenggol lengan Citra, karena dia tidak mau ada keributan. Sejujurnya, saat ini dia takut oleh ruangan operasi. Namun, ia harus kuat agar anaknya segera keluar dari dalam perutnya.
"Sudah cukup! Aku ... " Flo tidak meneruskan ucapannya.
Sebab, dia takut kalau berkata jujur dan Citra akan melarangnya melakukan operasi hari ini.
"Apa? Katakan!" jawab Citra.
Flo menggelengkan kepala, karena dia tidak mau menjawab dan Citra mengerti. Ia tidak lagi bertanya pada Flo, dan mulai diam.
__ADS_1
Tak berselang lama akhirnya, Flo di pindahkan ke ruang operasi dan Citra menunggu di depan ruangan tersebut.
Dengan jantung yang berdegup kencang, sambil terus berdoa agar Flo selamat bersama anaknya. Bahkan, dia sudah mempersiapkan nama untuk anak Citra.
'Iya itu adalah nama yang bagus. Muhaamar Aksara,' batin Citra.
Ya, Citra akan memberikan nama anak Flo Muhaamar. Karena, dia menyukai nama itu, karena sang pemilik nama adalah pria tampan.
"Semoga saja, anak Flo tampan. Tidak seperti ayahnya," ucap Citra dengan pelan.
"Namanya juga ayah, mana mungkin tidak mirip Nang!" sahut perawatan yang ada di UGD tadi.
Citra hanya diam, karena dia tidak mau menjawab pria itu. Yang menurutnya tidak penting sekali untuk di ladeni.
"Kenapa sih, kok kamu gak jawab ucapan Abang?" tanya pria itu lagi.
Citra hanya diam, sambil membuang pandangannya karena dia kesal melihat pria yang seperti itu.
"Dasar wanita sombong!" Pria itu bergegas pergi dan Citra tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG.