
Jima terkejut saat baru pulang dari luar, pintu rumahnya terbuka lebar. Apakah maling masuk ke dalam rumahnya?
"Astaghfirullah! Apa ada maling masuk?" Jima langsung berlari masuk ke dalam.
Melihat semua barang masih aman, lalu? Siapa yang masuk ke dalam rumah mereka?
Jima mendengar suara dengkuran keras, dan langsung berlari menuju kamar sang anak. Betapa terkejutnya dia saat melihat adanya Citra di sana.
"Neng!" teriak Jima.
Wanita paru baya itu berlari memeluk sang anak, karena dia sangat merindukan gadis kecilnya yang sudah dewasa.
Citra masih nyenyak di dalam alam mimpinya, sampai tidak mendengar sang ibu berteriak dan menangis.
"Anakku, kapan kamu pulang?" tanya Jima dengan lembut dan memeluk sang anak.
Namun, sang empunya tidak juga bangun membuatnya takut. Apakah sang anak pingsan atau ...
"Citra! Citra!"
Gadis itu masih belum bangun, sehingga Jima mengambil air satu ember dan menyiramkan pada sang anak.
__ADS_1
Sontak Citra langsung bangun, dan berlari karena dia mengira ada banjir datang.
"Astaghfirullah, banjir!" teriak Citra.
Gadis itu tersandung dan jatuh ke lantai, membuatnya mencium lantai. Membuat Jima terkejut dan menghampiri sang anak.
"Kamu tidak apa, Nak?" tanya Jima dengan lembut.
Citra tersenyum dan mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia memeluk sang ibu dengan lembut dan rasa rindu yang mendalam.
"Citra rindu Emak," ucap Citra lirih.
Jima juga berucap sama, dan membiarkan sang anak agar berganti baju. Sebab, baju Citra habis bahasa karena dia menyiram-nya tadi.
"Mak, ini ada titipan dari paman sama bibi," ucap Citra sambil terus menyantap makanan-nya.
Jima mengambil amplop dari sang anak, dan sangat terkejut karena sang adik mengirimkan uang padanya. Walaupun jumlahnya tidak seberapa. Namun, dia terharu masih ada yang ingat padanya.
"Alhamdulillah, karena bibi mu masih ingat pada emak," ucap Jima dengan sangat gembira.
Citra tersenyum sambil terus menyantap makanan-nya sampai habis tak bersisa, karena dia sangat merindukan masakan sang ibu.
__ADS_1
"Oh iya, Mak besok Citra sudah kembali bekerja di cafe pak Edson," ucap Citra.
Jima mengerutkan keningnya, karena sang anak pulang dari negeri Jiran hanya untuk kembali bekerja di cafe milik Edson.
"Bukannya kamu tidak ingin punya urusan sama mereka lagi?" tanya Jima sambil menatap wajah sang anak.
Citra terdiam, dan menceritakan semua pada sang ibu kalau dia kembali bekerja hanya karena ingin berdekatan dengan Yogi.
"Kalau begitu, kamu terima dia. Sebab, Yogi itu adalah pria baik-baik," ucap Jima dengan lembut.
Citra tersenyum, karena sang ibu sudah merestui hubungannya dengan Yogi. Walaupun mereka belum berpacaran.
'Apa aku terima saja pak Yogi? Atau, tetap menolaknya?' batin Citra.
Gadis itu bingung harus mengambil langkah apa, karena dia juga masih trauma dan sakit hati pada Eril dan keponakannya.
"Semoga dia adalah jodoh kamu, emak sangat menyukainya. Sebab, dia baik dan tampan juga rama pada emak," ucap Jima dengan lembut.
Citra tersenyum, karena sang ibu membuatnya mulai menyukai Yogi dan mempertimbangkan keputusan apa yang akan di ambilnya nanti.
'Bismillah, aku akan memutuskan besok. Sebab, emak sudah memberikan jalan padaku," batin Citra.
__ADS_1
Gadis itu kembali memakan makanan, karena dia masih sangat lapar.
BERSAMBUNG.